Aplikasi HARA Dapat Mengatasi Masalah Lahan Pertanian Indonesia

Tidak dapat dipungkiri bahwa makanan merupakan hal pokok yang harus dipenuhi setiap hari. Dilansir dari  Smulders, Perwakilan FAO untuk Indonesia, 13 juta ton makanan terbuang percuma di Indonesia setiap tahun. Hal tersebut merupakan fakta yang mencengangkan, mengingat krisis makanan masih kerap terjadi di pelosok negeri ini.

Membludaknya jumlah penduduk Indonesia serta ketidaktersediaannya lahan pangan dilansir menjadi penyebab utama masalah ini. Sumber pangan membutuhkan lahan yang luas agar dapat berproduksi secara maksimal. Namun, kenyatannya, banyak lahan yang seharusnya dapat dioptimalkan untuk memproduksi bahan pangan tetapi kurang produktif.

Memasuki era revolusi industri 4.0 dimana semua teknologi lebih berproses kepada metode digital dan siber fisik, sistem pertanian dituntut untuk dapat menyeimbangkan kemajuan teknologi agar ke depannya produk pertanian dapat berproduksi secara maksimal, memiliki kualitas tinggi, serta dapat memenuhi kebutuhan pangan di seluruh pelosok negeri tanpa harus mengandalkan produk impor.

Mengenal Aplikasi HARA

Dengan melihat fakta bahwa masih banyaknya lahan-lahan di Indonesia yang belum produktif, kehadiran teknologi digital diharapkan mampu menjadi solusi andalan. Salah satu teknologi digital hasil karya anak Indonesia yang menangani permasalahan lahan pertanian adalah aplikasi HARA.

Aplikasi HARA merupakan salah satu teknologi inovatif yang mengumpulkan berbagai macam data terkait karakteristik lahan pertanian sehingga dapat menjadi salah satu bahan rujukan yang berharga bagi para petani yang akan menggarap lahan.

Logo Aplikasi HARA
Foto: mediaindonesia.com

Aplikasi HARA diluncurkan oleh Regi Wahyu. Dalam wawancaranya, beliau memaparkan bahwa aplikasi ini dirancang agar para petani dapat memanfaatkan lahan pertanian secara maksimal. Tujuan inti dari hadirnya aplikasi HARA adalah sebagai sarana pertukaran data dan informasi terkait pertanian melalui blockchain.

Data yang dihasilkan dari aplikasi ini terdiri dari 3 hal yaitu kondisi lahan, riwayat lahan, dan juga petani. Untuk bisa mendeteksi jenis lahan, cuaca, dan temperatur tanah, aplikasi HARA telah dibekali sensor khusus yang telah dikalibrasi dengan satelit agar data yang didapatkan lebih akurat.

Selain itu, satelit juga akan memberikan gambaran yang jelas terhadap kondisi lahan di daerah tertentu, baik dari posisinya, penyebaran hama yang ada di sana, serta sistem irigasi pada lahan tersebut.

Baca juga: Mudah Kenali Penyakit Tanaman dengan Aplikasi Dr Tania

Cara Kerja Aplikasi HARA

Aplikasi HARA bekerja dengan menggunakan metode pengumpulan informasi. Metodologi yang digunakan yaitu Distributed Computing System. Aplikasi ini sudah digunakan di beberapa daerah di bagian Indonesia Timur. Di Bojonegoro, misalnya, aplikasi HARA sudah mulai digunakan untuk mengembangkan sistem pertanian di sana.

Aplikasi HARA sebagai platform data, akan memberikan profil lengkap para petani mulai dari KTP, KK, serta kultivasi pertanian yang saat ini mereka jalani, mulai dari pemakaian pupuk, jenis tanaman yang ditanam, hingga hama apa saja yang menyerang. Selain itu, untuk memberikan data mengenai ukuran dan petak sawah, digunakan teknologi GPS.

Cara Kerja Aplikasi HARA
Foto: id.techinasia.com

Berbagai jenis data yang telah dilampirkan di dalam aplikasi ini dapat di-update secara berkala dan sudah bisa diintegrasikan ke dalam smartphone Android. Namun, karena termasuk ke dalam teknologi baru, aplikasi ini baru bisa dijalankan oleh dinas pertanian atau penyuluhan daerah guna memantau kondisi pertanian di daerahnya.

Aplikasi HARA merupakan salah satu teknologi digital yang sudah mulai banyak dikembangkan oleh anak bangsa negeri ini. Dengan kehadiran teknologi ini, diharapkan mampu mengatasi permasalahan lahan pertanian di Indonesia, serta dapat mengefektifkan produksi pangan di seluruh pelosok tanah air.

Cara Aplikasi HARA Menghubungkan Penyedia dan Penerima Data Informasi Pertanian

Inti dari aplikasi HARA sendiri adalah sebagai media pertukaran informasi antara pemberi data dan penerima data. Hal pertama yaitu penyedia data akan memberikan data-data seputar lahan, baik mengenai hama, pupuk, jenis tanaman, hingga ukuran lahan. Setelah penyedia data menerima data, pihak penilai akan meninjau dan memverifikasi data yang telah diajukan.

Aplikasi HARA nantinya juga akan mengolah data-data mentah yang telah diverifikasi menjadi bentuk laporan yang sudah siap di-upload. Setelah itu, pihak pembeli data nantinya akan membeli data yang telah tersedia sesuai dengan tujuan mereka masing-masing.

Baca juga: Ini Dia, 5 Aplikasi yang Dibutuhkan Petani Milenial Indonesia

Sumber gambar utama: goodnewsfromindonesia.com

Penulis: Novita Awalia Rahmah

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital belum? Silahkan klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.