5 Bahan Amelioran yang Bisa Menyuburkan Tanah

Baik di kota maupun di desa, jumlah lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian semakin menurun akibat banyaknya pendirian bangunan yang terjadi. Banyak orang yang berpikir untuk menanam komoditas pertanian di lahan-lahan marginal seperti pantai, lahan kering, lahan gambut, bahkan lahan pasang surut. Namun, tingkat kesuburan tanah di lahan-lahan marginal tersebut tentu berbeda dan cenderung lebih buruk dibandingkan dengan lahan yang ada di dataran tinggi, misalnya.

Oleh karena itu, petani harus melakukan usaha untuk menyuburkan lahan-lahan tersebut sebelum menanam sesuatu di atasnya. Hal ini dapat dilakukan dengan proses ameliorasi, yaitu upaya pembenahan kesuburan tanah dengan bahan-bahan tertentu.

Bahan-bahan yang digunakan untuk ameliorasi (amelioran) terdiri dari bahan yang bersifat organik, anorganik, atau kombinasi dari keduanya. Bahan yang bersifat organik misalnya pupuk kandang dan jerami, sementara bahan yang bersifat anorganik misalnya dolomit (kapur), zeolit, dan abu vulkanik.

Penggunaan bahan-bahan untuk kesuburan tanah disesuaikan dengan jenis tanahnya. Secara singkat, berikut ini merupakan ulasan beberapa bahan amelioran yang digunakan untuk menyuburkan tanah.

Pupuk Kandang

Pupuk kandang biasanya dibuat dari kotoran hewan ternak

Bahan organik yang paling sering digunakan untuk membuat pupuk kandang adalah kotoran hewan ternak. Pupuk kandang ini dapat menyediakan unsur-unsur hara makro yang dapat meningkatkan populasi mikroorganisme di dalam tanah. Pupuk kandang ternak besar— sapi, kambing, domba, dan sebagainya—kaya akan nitrogen dan mineral logam seperti magnesium, kalium dan kalsium, sementara pupuk kandang yang dihasilkan dari ternak ayam lebih kaya akan kandungan fosfor.

Walaupun demikian, fungsi utama pupuk kandang yang sebenarnya adalah untuk mempertahankan struktur fisik tanah sehingga akar dapat tumbuh dengan baik. Teksturnya yang kasar juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah, serta menambah zat-zat organik untuk tanah berpasir. Namun, pupuk kandang memiliki sifat yang mudah terurai sehingga harus sering-sering ditambahkan jika ingin tanah lebih subur.

Baca juga: Cara Mengolah Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Organik

Jerami Padi

Jerami padi sangat tepat digunakan untuk menjaga kesuburan tanah di lahan sawah yang digunakan secara intensif. Dalam proses pembuatan kompos dari jerami padi, peran mikro selulolitik dan lignotik sangat besar karena keduanya memperoleh energi dan karbon dari proses perombakan bahan yang mengandung karbon.

Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Kementerian Pertanian, pembuatan kompos jerami dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu ditumpuk dan dibalik, dan ditumpuk dengan ventilasi tanpa dibalik. Untuk mempercepat proses dekomposisinya, kita dapat menggunakan bantuan dekomposer. Dengan demikian, kompos akan matang dalam waktu sekitar 19 hari.

Baca juga: STOP Bakar Jerami di Sawah, Ini Alasannya

Jerami Padi

Dolomit (kapur)

Dolomit merupakan bahan amelioran anorganik yang bersifat basa. Ia mengandung kalsium dan magnesium yang berfungsi untuk mengurangi tingkat keasaman dan memperbaiki aerasi tanah. Hal ini akan menunjang keberlangsungan aktivitas biologi pada tanah.

Penerapan dolomit (pengapuran) dilakukan pada lahan yang bersifat asam, contohnya lahan gambut dan lahan pasang surut. Penerapan sistem pengapuran ini juga memiliki manfaat lain, yaitu membantu tanah untuk menyerap pupuk dengan lebih optimal dan mengurangi racun yang ada di dalamnya.

Biochar (Biomassa Charcoal)

Biochar merupakan arang hasil sisa pembakaran tidak sempurna yang mengandung karbon tinggi. Bahan baku biochar bisa didapatkan dari kayu, batok kelapa, sekam padi, atau bahan-bahan lain yang memiliki serat kayu. Sebagai amelioran, biochar dapat digunakan untuk meningkatkan pH tanah, mengikat air dan unsur hara, serta meningkatkan aktivitas biota di dalam tanah.

Menurut Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, biochar juga dapat menambah kelembaban dan kesuburan tanah. Salah satu keuntungan pengaplikasian biochar ke dalam tanah adalah ketahanannya yang mencapai jutaan tahun karena tidak mengalami pelapukan lanjut. Biochar memang tidak dapat menyediakan unsur hara secara langsung, namun ia akan meningkatkan efisiensi penerapan pupuk.

Biochar
Foto: deep-roots-project.org

Zeolit

Zeolit merupakan amelioran berbahan mineral non-logam yang sangat efektif digunakan untuk menukar ion-ion hara dalam tanah. Bahan ini juga dapat menyimpan air dan membebaskan unsur hara dalam tanah dengan baik. Dengan mengaplikasikan zeolit untuk proses ameliorasi, efisiensi pemupukan akan lebih tinggi.

Zeolit merupakan bahan amelioran yang dapat digunakan untuk jangka panjang karena struktur bahannya yang sangat stabil. Dalam penggunaannya, zeolit dapat dicampur dengan kapur, asam humat, urea, maupun pupuk organik. Selain itu, dalam penerapannya dengan pupuk organik (pupuk kandang), kompos zeolit dihasilkan dengan menambah 10-30% zeolit ke pupuk organik tersebut.


Itulah 5 bahan amelioran yang bisa digunakan oleh petani untuk menyuburkan tanah, terutama tanah yang berada di lahan-lahan marjinal. Nah, apakah kamu sudah menggunakan salah satu bahan di atas sebagai amelioran?

Baca juga: 4 Produk yang Bisa Dihasilkan Melalui Pemanfaatan Sekam Padi

Penulis: Hutri Cika Berutu 

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.