Fakta Unik & Cara Budidaya Labu Kuning

Sejarah Labu Kuning

Labu kuning berasal dari benua Amerika terutama di Negara Meksiko dan Palu. Banyak yang beranggapan bahwa labu kuning ini berasal dari Indonesia, tetapi itu tidak benar.

Sekarang labu kuning sudah menyebar ke seluruh dunia khususnya di negara-negara tropis seperti, Filipina, Malaysia, beberapa negara di Afrika dan Indonesia.

Masyarakat luar mengenal labu dengan sebutan Pumpkin. Sedangkan di Indonesia disebut dengan labu. Di berbagai tempat di Indonesia labu cukup dikenal. Tanaman labu ini memiliki beberapa nama  daerah seperti, Waluh (Jawa), Labu Parang (Melayu) dan Jambe (karo).

Baca: Jangan Dibuang Dulu! Kulit Buah Ini Ternyata Banyak Manfaatnya!

Klasifikasi Labu Kuning

Tanaman labu tumbuh merambat dengan daun yang lebar dan berbulu. Buah labu berbentuk bulat pipih. Ukuran pertumbuhannya cepat sekali sekitar 350 gram per hari, tanaman labu berbentuk semak yang menjalar ke atas.

Buahnya besar dan berwarna hijau jika masih muda dan berwarna kuning orange sampai kuning kecokelatan jika sudah berusia tua.

Cara Budidaya Labu Kuning

Lakukan pengolahan tanah pada lahan tanam sebelum siap ditanami.

  • Gemburkan tanah lahan dengan cara dibajak atau di cangkul sedalam 20 cm – 30cm.
  • Lakukan pengapuran menggunakan kapur pertanian atau dolomit apabila ph tanah di bawah 6, kebutuhan kapur atau dolomit tersebut untuk 1 hektar lahan adalah sekitar 1 hingga 2 ton.
  • Jika sudah, lakukan pemupukan dasar dengan menggunakan pupuk dasar dan diamkan selama 1 hingga 2 minggu.
  • Buatlah bedengan dengan ukuran lebar sekitar 1 meter, tinggi sekitar 20 cm – 30 cm, dan panjang menyesuaikan lahan tanam. Jarak antar bedengan dibuat dengan jarak sekitar 35 cm – 40 cm.
  • Jika bedengan telah siap selanjutnya lakukan pemulsaan dengan mulsa plastik agar kelembaban tanah tetap terjaga.
  • Selanjutnya, buat lubang tanam pada permukaan mulsa plastik dengan ukuran diameter sekitar 10 cm. Dalam 1 bedengan dibuat 2 baris lubang tanam dengan jarak antar lubang dalam 1 baris sekitar 40 cm dan jarak antar lubang antar baris sekitar 40 cm.
  • Setelah lubang tanam jadi, selanjutnya lubang tanam diberi pupuk berupa pupuk kandang atau pupuk kompos dengan dosis sekitar 1-1,5 kg/lubang tanam. Kebutuhan pupuk kandang atau pupuk kompos untuk 1 hektar lahan adalah sekitar 20 hingga 35.
  • Setelah benih dan lahan tanam siap, maka segera lakukan penanaman. Benamkan 1 benih dalam setiap lubang lalu timbun kembali dengan tanah, pembenaman tersebut jangan terlalu dalam yaitu sekitar 0,5 atau 2 cm agar cepat tumbuh.
  • Setelah berumur sekitar 7 hari, benih yang tadinya berkecambah selanjutnya akan tumbuh lebih tinggi.

Labu kuning mulai berbuah saat berumur sekitar 60 hari setelah tanam dan labu kuning dapat mulai dipanen setelah berumur sekitar 80 hari setelah tanam. Pemanenan dapat dilakukan secara bertahap 1 hingga 2 bulan.

Baca: Hanya 5 Langkah Menanam Cabai untuk Pemula

Manfaat Labu Kuning

manfaat labu kuning
Source: growshelton.com
  • Melancarkan sistem pencernaan
  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
  • Menjaga kesehatan tulang
  • Mencegah penyakit kanker
  • Menjaga kesehatan pernafasan
  • Meredakan stres dan meningkatkan mood
  • Menurunkan risiko penyakit hipertensi
  • Mencegah penyakit diabetes
  • Menjaga kesehatan kulit

Baca: 3 Inspirasi Cantik dari Produk Pertanian

Pengolahan Labu Kuning

Labu kuning umumnya dapat diolah menjadi sayuran dan dodol, akan tetapi dengan semakin berkembangnya zaman maka labu kuning dapat diolah menjadi beberapa variasi.

cara mengolah labu kuning
Source: pixabay.com

Pengolahan labu kuning dapat meningkatkan daya jual. Berikut beberapa macam hasil olahan dari labu yang dapat dijadikan makanan yaitu

  • Bolu Labu Kuning
  • Puding labu Kuning
  • Kue lumpeng labu kuning
  • Klepon labu kuning
  • Cake kukus labu kuning
  • Lapet labu kuning
  • Cenil labu kuning
  • Gulai santan labu kuning
  • Kolak labu kuning

Penulis: Danella Cecilia

Solusi Digital Pertanian Indonesia | Mempertemukan petani dan pembeli akhir produk pertanian Indonesia - Sejahteralah Petani Indonesia

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top