Musim Kemarau Tiba, Petani Dihimbau Mengikuti Asuransi Pertanian

Kekeringan di sejumlah daerah di Indonesia merupakan pertanda bahwa musim kemarau telah tiba. Resiko yang dihadapi oleh petani sungguh besar. Oleh karena itu petani dihimbau agar mengikuti asuransi pertanian untuk sawahnya sebelum menanam.

Petani pun tidak perlu khawatir, hanya dengan membayar premi sebesar Rp 36 ribu/ha/musim, petani mendapatkan jaminan subsidi dari pemerintah yang terkena berbagai masalah. Seperti terkena banjir, terkena serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dapat diklaim Rp 6 juta rupiah/ha apa bila mengalami gagal panen akibat kekeringan.

Baca Juga : 7 Cara Mengelola Pengairan Sawah Saat Kekeringan

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, harga premi untuk Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) relatif murah. Ia juga mengklaim bahwa manfaat yang diperoleh petani sangat besar untuk mengikuti asuransi pertanian , apalagi di musim kemarau ini.

“Sebelum mulai menanam sebaiknya didaftarkan asuransi dulu. Bayarnya gak mahal, karena disubsidi Pemerintah. Petani yang sawahnya kekeringan dapat ganti Rp 6 juta per hektare,” ujar Sarwo Edhy, Sabtu (28/6).

Musim Kemarau Tiba, Petani Dihimbau Mengikuti Asuransi Pertanian
Musim kemarau tiba, asuransi pertanian menjadi pilihan keamanan petani agar tidak khawatir di musim kemarau.

Mengapa Mengikuti Asuransi Pertanian?

AUTP tidak hanya dibuat bagi petani yang lahannya berada di kawasan rawan bencana dan serangan OPT. Tetapi semua petani meskipun lahan sawahnya aman dari kemungkinan gangguan juga boleh ikut. Ia menambahkan bahwa setiap bencana atau serangan OPT itu tak bisa diduga-duga. Oleh sebab itu, himbauan untuk mengikuti asuransi pertanian adalah jalan terbaik.

“AUTP ini akan terus kami sosialisaikan ke petani. Karena ini menjadi bentuk perlindungan kepada mereka dan saat ini sudah banyak petani yang menjadi anggota AUTP,” papar Sarwo Edhy.

Baca Juga : Sistem Irigasi Kabut, Inovasi Baru di Bidang Pertanian

Data Kementan menyebutkan, jumlah petani peserta AUTP dari tahun ke tahun terus meningkat. Tercatat, dari target 1 juta ha, realisasi AUTP pada tahun 2018 tercapai 806.199,64 hektare, atau 80,62%. Sementara itu klaim kerugian yang diajukan petani mencapai 12.194 hektare atau sebesar 1,51%.

Dalam pengembangan AUTP sendiri juga tidak ditemukan banyak kendala hingga pembayaran klaim oleh PT Jasindo sendiri juga tidak ditemui masalah, tambah Sarwo Edhy.

Pendaftaran pun juga dipermudah secara on-line. Sistem yang dibangun bersama PT Jasindo dan Kementan menerbitkan layanan berbasis online melalui Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP).

Musim kemarau
Musim kemarau telah tiba, bagaimana kondisi kemarau di daerahmu?

Bagaimana Pantauan Cuaca Musim Panas ?

Berdasarkan hasil pemantauan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan hingga tanggal 20 Juni 2019 dan prakiraan peluang curah hujan sangat rendah (<20mm/10 hari).

Hujan juga tidak turun di beberapa wilayan yang sangat berpotensi menimbulkan kekeringan dengan status SIAGA hingga AWAS di beberapa daerah.

Status Awas dengan HTH (Hari Tanpa Hujan) > 61 hari dengan prospek peluang curah hujan rendah <20mm/dasarian pada 20 hari mendatang >80% ). Terjadi di sebagian besar Yogyakarta- Jawa Timur (Sampang dan Malang), Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat (Indramayu), dan, Bali (Buleleng).

Sedangkan status SIAGA (telah mengalami HTH >31 hari dan prospek peluang curah hujan rendah <20mm/dasarian pada 20 hari mendatang >80%) terjadi di Jakarta Utara, Banten (Lebak dan Tangerang), Nusa Tenggara Barat dan sebagian besar Jawa Tengah.

Bagaimana menurut kamu sobat PTD? Apakah mengikuti AUTP menjadi langkah antisipasi yang baik?

Disadur dari Liputan6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.