Sistem Irigasi Kabut, Inovasi Baru di Bidang Pertanian

Irigasi merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh petani untuk menyalurkan air ke lahan pertanian. Penyaluran air ini dilakukan untuk memberikan ketersediaan air yang cukup bagi tanaman. Pemenuhan air harus secara konstan dan berlanjut sesuai dengan kebutuhan tanaman, sehingga mampu mencakup seluruh luasan lahan pertanian yang dimiliki. Selain itu, irigasi juga berfungsi untuk membasahi tanah serta sebagai jaminan ketersediaan air saat musim kemarau tiba.

Terdapat berbagai jenis irigasi seperti irigasi permukaan, irigasi curah, dan irigasi tetes. Setiap tipe irigasi memiliki ciri dan metode yang berbeda. Hal ini bergantung pada jenis lahan dan tanaman yang dibudidayakan. Irigasi permukaan cocok untuk tanah yang memiliki tekstur halus sedangkan irigasi curah cocok digunakan untuk daerah yang memiliki kecepatan angin yang tidak terlalu besar. Tingkat kesesuaian lahan dengan tipe irigasi sangat diperhitungkan untuk hasil yang lebih maksimal.

Baca juga: Ketahui Jenis-Jenis Irigasi dalam Pertanian

Salah satu tipe irigasi yang baru-baru ini dikembangkan adalah irigasi kabut. Teknik pengairan lahan ini menggunakan metode layaknya kabut. Sudah banyak wilayah yang menerapkan jenis irigasi ini, seperti sejumlah lahan pesisir di daerah selatan Bantul, Yogyakarta. Pengaplikasiannya sudah secara otomatis dan menggunakan tenaga mesin.

Cara Kerja Sistem Irigasi Kabut

Inovasi pertanian ini bekerja dengan mekanisme pengaturan suhu. Metodenya adalah dengan menggunakan sebuah alat pengukur suhu dan kelembapan yang dipasang di lahan pertanian. Apabila alat pengukur suhu menunjukkan suhu dan kelembapan di atas rata-rata, maka otomatis pompa akan melakukan penyemprotan melalui selang yang telah diletakkan di sekitar tanaman. Air yang disemprotkan tidak terlalu banyak, hanya berupa butiran lembut dari lubang-lubang halus di sepanjang selang, mirip seperti kabut. Fungsi penyemprotan tadi hanya untuk kembali melembabkan tanah dan udara di sekitar lahan pertanian.

Irigasi Kabut
Irigasi Kabut | Foto: agronet.co.id

Irigasi kabut ini lebih hemat jika dibandingkan dengan tipe irigasi lain. Apabila dihitung secara matematis, kemungkinan biaya yang dapat dihemat bisa mencapai separuh biaya awal tanpa irigasi ini. Biaya yang dapat dihemat yakni biaya penyiraman dan biaya tenaga kerja. Irigasi ini juga sangat ramah lingkungan, karena hampir tidak ditemukan dampak negatif penggunaannya.

Selain itu, penggunaan irigasi ini juga mampu menekan pertumbuhan hama yang menyerang tanaman serta meminimalisir gulma yang muncul di lahan. Hal ini disebabkan oleh pengaplikasian irigasi yang bersifat fleksibel dan memungkinkan kombinasi antara irigasi dan penyemprotan pestisida di lahan.

Memang belum banyak petani Indonesia yang menggunakan tipe irigasi kabut ini, didorong oleh banyak faktor penyebab, misalnya karakteristik lahan atau jenis tanaman yang tidak cocok dengan tipe irigasi seperti ini. Jika petani tertarik dengan tipe irigasi kabut ini, maka harus menyiapkan modal untuk membayar perangkat irigasi sebesar Rp 15.000.000/hektar.

Sampai saat ini, irigasi kabut masih diterapkan di daerah dengan jenis tanah berpasir dengan tanaman sayuran. Tidak menutup kemungkinan, akan segera dilakukan pengembangan di daerah rentan kekeringan, dengan harapan dapat menjadi solusi ketersediaan air saat musim kemarau tiba.

Baca juga: Mengenal Sistem Irigasi Otomatis Tanpa Kabel (Wireless Sensor Network)

Penulis: Boiman Manik
Lulusan Agribisnis 2018 Universitas Brawijaya

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Silahkan klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.