3 Cara Mengendalikan Hama Penggerek Batang Jagung

Jagung merupakan salah satu komoditas yang penting di Indonesia dan masih menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia. Akan tetapi, kebutuhan jagung untuk pakan maupun pangan masih belum dapat terpenuhi sehingga Indonesia masih melakukan impor dari negara lain. Rendahnya hasil panen di Indonesia dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor fisik (iklim, kondisi lahan) dan faktor biologis (varietas, hama, penyakit, dan gulma) dan juga diikuti dengan faktor sosial-ekonomi.

Hama dan juga penyakit yang menyerang jagung dapat menurunkan kualitas serta kuantitas hasil panen. Menurut Baco dan Tandiabang (1988), terdapat sekitar 50 spesies serangga yang telah ditemukan yang dapat menyerang tanaman jagung di Indonesia. Di antara 50 spesies serangga tersebut, salah satu yang dapat menyerang tanaman jagung dalam segala fase, baik vegetatif dan generatif, adalah hama penggerek batang jagung. Hama yang mempunyai nama latin O.furnacalis ini dapat merusak tanaman jagung sampai 80% bahkan bisa gagal panen.

Gejala serangan yang ditimbulkan oleh hama penggerek batang ini dapat terlihat pada semua bagian tanaman jagung, terutama bagian bunga jantan. Fase merusak hama ini terjadi pada fase hama masih berupa larva. Larva dapat memakan daun muda dan membentuk lubang-lubang kecil pada daun, menggerek bagian pelepah daun dan batang.

Untuk mendeteksi adanya serangan hama ini, kita dapat melihat adanya kotoran atau bekas gerekan yang tersisa pada bagian-bagian tanaman yang diserangnya. Tanaman yang terserang pada fase vegetatif (awal perkembangan) berpotensi mengalami kegagalan panen daripada tanaman jagung yang terserang pada fase generatif.

Hama Penggerek Batang Jagung

Dengan melihat gejala serangan dan juga kerugian yang cukup besar sampai dengan beresiko gagal panen, maka keberadaan hama penggerek batang jagung ini perlu dikendalikan. Untuk mengendalikan keberadaan hama ini, maka petani dapat melakukan pengendalian dengan cara berikut ini.

Secara Kultur Teknis

Pengendalian hama dengan cara kultur teknis dapat dilakukan dengan pemilihan pola tanam yaitu melakukan tumpang sari antara tanaman jagung dengan kedelai atau kacang tanah. Menurut penelitian, melakukan tumpangsari antara jagung dengan kedelai atau kacang tanah dapat menekan kerusakan yang disebabkan oleh hama ini.

Selain melakukan tumpang sari, pemotongan bunga jantan juga dapat meminimalisir kerusakan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Screner dan Naf us, pemotongan bunga jantan dilakukan karena sekitar 40-70% larva berada di bunga jantan sehingga dapat menekan kerusakan yang ditimbulkan.

Baca juga: Cara Mengatasi Penyakit Bulai pada Jagung

Agen Hayati

Pengendalian dengan agen hayati yaitu dengan penggunaan suatu makhluk hidup, baik itu predator maupun parasit. Ada beberapa parasit dalam jenis bakteri maupun jamur yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama antara lain Trichogramma, micraspis sp, dan Celonus. Parasit tersebut dapat merusak telur dari penggerek batang jagung sehingga dapat mencegah perkembangbiakannya hama ini.

Jagung yang terkena hama penggerek batang

Selain itu, pengendalian dengan menggunakan predator seperti laba laba dari famili Argiopidae, Oxyopidae, Theriidae dan juga sejenis semut Solenopsis germinata dapat memangsa larva hama penggerek batang jagung. Hal itu dapat memutus siklus hidup hama penggerek batang jagung dan mencegah bertambahnya jumlah hama tersebut.

Pengendalian dengan agen hayati ini perlu diusahakan dengan optimal. Pengendalian ini dinilai lebih efektif dan juga mempunyai beberapa kelebihan yaitu ramah lingkungan, tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup besar, dan juga menciptakan ekosistem yang seimbang.

Baca juga: 5 Peluang Pengendalian Hayati Dalam Membasmi Penyakit Tanaman

Pestisida

Untuk pengendalian dengan menggunakan pestisida, kita dapat menggunakan insektisida Furadan 3G yang diberikan pada pucuk sebelum berbunga atau 40 hari setelah tanam, diikuti dengan decis 2,5 EC setelah berbunga. Insektisida dengan bahan aktif monokrotofos, triazofos, dikhlorfos, dan karbofuran dianjurkan jika ditemukan 1 kelompok telur pada tanaman jagung.

Jika jagung yang ditanam menerapkan sistem organik, kita dapat melakukan penyemprotan dengan menggunakan pestisida nabati. Pestisida nabati yang digunakan adalah Dipel (Bacillus thuringiensis) yang dikombinasikan pada saat pemotongan bunga jantan yang dinilai efektif untuk mengendalikan hama ini.


Itulah beberapa cara pengendalian hama penggerek batang jagung yang bisa dipraktekkan oleh petani jagung. Semoga dengan dikendalikannya hama ini, kualitas dan kuantitas hasil panen jagung dapat meningkat.

Baca juga: Kenali Ragam Jenis Penyakit Jagung dan Cara Mengatasinya

Penulis : M. Rizki Permadi Putra

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital belum? Silahkan klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.