Apakah Pandangan Kamu Terhadap Petani Sudah Benar?

Kamu anak Fakultas Pertanian? Atau, bekerja di bidang pertanian? Banyak kata “tani”-nya dan tentunya pernah ketemu petani juga?. Well, apapun pekerjaan dan latar belakangmu, harusnya tahu dong siapa itu petani. Paling tidak, kamu tahu kalau nasi dan sayur yang jadi sarapan kita tadi pagi adalah hasil kerja keras dan keringat petani. Setidaknya, itulah yang seringkali orang tua dan guru-guru kita katakan ketika kita buang-buang nasi.

Stigma yang terbentuk dengan sangat tidak baik di masyarakat mengenai siapa itu petani menggugah perasaan saya untuk menuangkan sekelibat fakta yang jarang orang perhatikan mengenai petani.

Petani itu kotor, main-mainnya di tanah, kaga punya duit a.k.a miskin, terus kurang terdidik lagi. Oh ya, satu lagi yang cukup hot di media massa sekarang, krisis petani muda.

Tapi, tunggu sebentar… Anda yakin kalau orang ngomong demikian?

Petani Itu Belum Tentu Kotor

Mengingat opini demikian, tampaknya saya perlu mempertegas apa itu petani. Petani adalah orang yang bergerak di usaha tani sebagai manajer, juru tani, dan masyarakat biasa.

Selanjutnya, apa itu usaha tani ?

Usaha tani merupakan kegiatan manusia untuk mengambil manfaat dari tumbuhan atau hewan dengan memaksimalkan faktor produksi yang ada. Singkatnya, usaha tani tidak hanya bicara masalah bercocok tanam, mencangkul di sawah, dan membasmi hama saja.

Perusahaan produksi benih, produsen pupuk, dan perusahaan kertas termasuk usaha tani. Itu artinya, orang-orang yang terlibat dalam memproduksi benih ataupun menjadi pengusaha agribisnis ternama, termasuk petani.

Baca: Belajar dari Kiyoto Saito, Sang Petani Muda Jepang yang Modis

So, masih berani bilang kalau petani itu kotor? Kalau kotor, ada sabun juga, lho. Hehehe …. :))

Petani Itu Belum Tentu Miskin

Menjadi Petani Belum Tentu Miskin
Sumber: akun.biz

Kenapa sih kita sering menganggap remeh petani, bilang kalau petani itu miskin ?

Lingkungan sosial menanamkan di pikiran kita bahwa jadi petani itu kurang menjanjikan. Ya, ada benarnya juga, kalau lahan yang kita miliki sudah sempit, alih-alih kita juga kurang profesional dalam bertani.

Atau, karena memang, kebanyakan orang yang ada di sekitar kita berpikir seperti itu, hingga akhirnya kita menutup mata bahwa ada juga petani yang sukses dalam materi.

Misalnya, Bob Sadino, pebisnis sukses di bidang pangan dan ternak. Aburizal Bakrie, dengan bisnis megah di bidang perkebunan sawit, atas nama Bakrie Group. Sukanto Tanoto, yang terkenal di kalangan mahasiswa melalui beasiswa dari Tanoto Foundation. Beliau juga adalah pebisnis andal di bidang pengolahan kayu.

Baca: Cerita Sukses Petani Muda Paprika

Di blog Pak Tani Digital ini juga, teman-teman bisa temukan kisah sukses petani di Indonesia dan di dunia.

Petani Itu Memang Kurang Terdidik tapi Kaya Pengalaman

Kebanyakan petani di Indonesia, saya akui, memang memiliki tingkat pendidikan yang kurang mumpuni. Jika dipandang secara umum, rata-ratanya hanya sampai jenjang SD dan SMP. Eittss, jangan salah sangka dulu. Seringnya Bapak/Ibu petani yang bekerja di lahan dengan pengalaman sekian puluh tahun juga bisa lebih hebat dari sarjana.

Dengan berbekal pengalaman saja, saya pikir memang tidak cukup untuk memenuhi permintaan pasar saat ini. Perlu pengenalan pada teknik pertanian yang lebih profesional, baik dalam pemilihan bahan tanam, aplikasi pestisida, ataupun pupuk.

Solusi yang paling efektif adalah usaha dari pemerintah untuk mencerdaskan petaninya melalui kelembagaan yang ada. Misalnya, Badan Penyuluh Pertanian dan Dinas Pertanian di daerah. Sayang seribu sayang, petani sudah terlanjur malas untuk mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu penyuluh kita di daerah, karena ternyata kurang efektif juga.

Ini masih jadi PR bersama, ya teman!!!

Krisis Petani Muda di Sektor Pangan Saja

Belakangan, banyak media massa yang menyoroti data dari Badan Pusat Statistik bahwa kurang dari 20% petani Indonesia berusia 45 tahun. Itu artinya, kebanyakan petani sudah berusia lanjut. Dan, yang menjadi ancaman kelak adalah tidak adanya regenerasi petani, karena hanya sedikit anak muda yang tertarik menjadi petani.

Krisis Petani Muda
Sumber: Tabloid Sahabat Petani

Di sini, saya ingin mempertegas bahwa petani yang berusia lanjut cenderung adalah petani di sektor pangan saja, seperti padi, jagung, dan kedelai. Sementara itu, petani Indonesia di sektor hortikultura dan perbenihan bukanlah berusia lanjut. Oleh karena itu, hal ini perlu diberi batasan. Bukan berarti petani kita usianya tua, namun petani yang mengurusi pangan-lah yang kebanyakan sudah berusia lanjut.

Baca: Indonesia Krisis Padi atau Krisis Petani?

Mengapa petani sektor pangan berusia lanjut ?

Kecenderungan dari sifat anak muda yang berani mengambil resiko dan mencoba teknologi baru menyebabkan mereka (petani muda) berani melangkah ke sektor lain dari pertanian seperti hortikultura dan benih. Petani yang memiliki pengalaman bertahun-tahun sudah percaya pada kebiasaan bertahun-tahun di lahan yang dikelolanya.

Well, perlu diingat bahwa petani itu bukan hanya yang bekerja di lahan saja. Tentunya ada banyak proses pertanian yang dikerjakan petani, selain yang biasanya Anda temui di ladang/sawah. Dan, pertanian bukan hanya soal pangan. Sandang, papan, hortikultura, perkebunan, dan industri berbahan baku hayati juga termasuk sektor pertanian.

Sumber gambar utama: Anak Santai

Penulis: Junita Solin
Mahasiswa Agronomi Universitas Gadjah Mada


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.