Kematian masal pada ternak kerap terjadi dalam usaha budidaya burung puyuh. Penyakit yang sering menyerang ternak burung puyuh adalah Diare. Penyebabnya adalah infeksi dari bakteri Salmonella thypimutium. Lalu, siapakah bakteri ini? Yuk, kenali lebih dekat.

Waspadai Bakteri Salmonella Thypimutium!

Bakteri ini menyerang burung puyuh atau unggas lain melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi ternak. Sebelum itu, kamu juga harus tau gejala bakteri ini apabila menyerang ternak burung puyuh kamu.

Kenali Gejalanya!

Apabila burung puyuh kamu terinfeksi bakteri ini, maka gejala yang harus kamu perhatikan adalah sebagai berikut :

  • Penurunan Bobot Burung
  • Burung mengalami gejala kedinginan dan lemas
  • Burung mengalami diare yang hebat

Penyerangan virus ini sangat berbahaya bagi pengusaha burung puyuh karena ternak yang mengalami diare dapat mati secara masal atau memiliki bobot yang rendah. Bahkan, kematian akibat penyakit ini dapat mencapai jumlah yang sangat tinggi yakni hingga lebih dari 80% kematian.

Baca juga: 5 Cara Ampuh Mengusir Hama Burung Padi

Indikasi serangan bakteri ini dapat terlihat sejak burung puyuh mencapai umur 2-3 minggu. Tentu hal ini merupakan kerugian yang dapat dialami oleh para pengusaha burung puyuh.

Lalu, Bagaimana Pencegahannya?

Upaya yang banyak dilakukan para peternak atau pengusaha burung puyuh antara lain adalah dengan menggunakan obat kimia yang dicampurkan ke minuman ternak, salah satunya adalah menggunakan antibiotik Bacitracin.

Namun, sejak tahun 2018, penggunaan obat ini telah dilarang oleh pemerintah. Alasan dari pelarangan tersebut adalah dampak yang diakibatkan dari penggunaan obat ini secara berulang yakni resisten bakteri.

Bakteri yang selamat dari obat antibiotik Bacitracin akan resisten atau kebal terhadap obat ini sehingga saat bakteri Salmonella thypimurium ini resisten, maka penyebaran dan serangan bakteri ini menjadi lebih sulit dikendalikan.

Baca juga: Kanker Batang, Pengancam Panen Buah Naga dan Cara Mengendalikannya

Buah Naga, Solusi Alami yang Tepat Guna

Sehingga, alternatif penggunaan obat kimia, para pengusaha burung puyuh ini dapat memanfaatkan Buah Naga sebagai antibakteri alami pelawan bakteri Salmonella thypiumrium. Bagian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan antibakteri adalah kulit buah naga.

Kulit buah yang biasanya dibuang oleh orang ternyata, setelah dilakukan penelitian, terbukti dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri Salmonella thypiumrium.

Buah naga merupakan buah tropis yang mudah ditemukan karena banyak diperjualbelikan baik di pasar tradisional hingga supermarket. Daging buah naga sendiri banyak mengandung gizi yang baik bagi tubuh antara lain vitamin, mineral, air, serat, dan antioksidan.

Sedangkan, kulit buah naga mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, steroid, treptonoid, dan saponin. Zat-zat inilah yang efektif menghambat pertumbuhan bakteri.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari Prof. Dr. Ir. Retnani, M. Sc dan Taryati, S. Pt, dari IPB yang menguji dosis ektrak kulit buah naga terhadap pertumbuhan Salmonella thypiumrium. Penelitian itu juga menunjukan bahwa peningkatan dosis ektrak kulit buah naga dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

Cara Mengolah Buah Naga untuk Mengobati Diare Burung Puyuh

Lantas, bagaimana cara menggunakan kulit buah naga sebagai obat diare pada burung puyuh? Cara yang harus dilakukan para peternak adalah sebagai berikut.

  1. Merebus kulit buah naga dengan perbandingan 1:1 kg/L
  2. Setelah mendidih dan berubah menjadi merah, ramuan disaring.
  3. Kemudian, ramuan diberikan ke térnak burung puyuh sebagai air minum. Walaupun berwarna merah, hal tersebut tak merubah selera burung puyuh untuk minum.

Bahkan, dengan menggunakan ektrak kulit buah naga ini, dapat menunjukan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan antibiotik kimia atau buatan. Jadi, dengan menggunakan kulit buah naga, para peternak burung puyuh secara tidak langsung menggunakan cara organik yang tidak mengakibatkan efek samping yang merugikan.

Kemudian, penggunaan kulit buah naga sebagai anti-bakteri juga dapat digunakan pada unggas-unggas lain, seperti ayam, bebek, itik dan lainnya.

Penulis: Dino Laferda
Mahasiswa Universitas Muria Kudus


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.