resesi

Berikut informasi dari Pak Tani Digital mengenai keluhan para petani saat pandemi terjadi di Indoensia

Pandemi Covid-19

Keadaan Petani Saat Resesi

resesi
pixabay.com

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia berdampak pada 9 negara mengalami resesi, yaitu Amerika Serikat, Jerman, prancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Singapura dan Filipina.

Resesi di Indonesia sudah didepan mata, pemerintah terus berusaha agar membuat daya beli masyarakat bertambah untuk menggerakkan perekonomian.

Petani dinilai yang paling terdampak atas pandemi karena mereka berperan sebagai prdosuden dan konsumen sekaligus. Ini membuat petani merasakan dampak yang lebih parah dibanding pekerja, buruh, dan kelompok lainnya.

Sebelum masa panen tiba petani membutuhkan modal yang sangat besar bahkan bisa mengutang terlebih dahulu dan bagaimana nasib petani jika daya beli masyarakat yang menurun

Dan itu akan membuat para petani menurunkan harga jual hingga mengalami kerugian karena lebih besar modal daripada hasil penjualan yang mereka dapatkan

Keluhan Para Petani

Baca juga: Ekspor Produk Pertanian Masih Positif Ditengah Pandemi.

Untuk saat ini pemerintah mengumumkan insentif bagi petani dan nelayan berupa program jaring pengaman sosial.

Subsidi bunga kredit melalui keringanan pembayaran angsuran, pemberian stimulus untuk modal kerja, dan melalui kebijakan untuk kelancaran rantai produksi.

Saat ini petani mengalami masa kritis dimana petani tomat terpaksa memanen awal karena mengaku sudah tak mampu merawat 4.000 tanaman tomat yang ditanamnya.

Dikarenakan harga yang terus menurun hingga Rp 1.000 per kilo, harga ini sangat jauh dengam harga normal dan dipastikan membuat para petani menjadi rugi.

Dengan biaya seperti itu petani tidak bisa menutupi biaya produksi penanaman mulai dari membeli bibit, pupuk hingga biaya tenaga. Biasanya untuk total biaya tanaman tomat bisa menghabiskan hingga Rp 4 juta.

Dengan terpaksa petani harus memanen tomat lebih awal agar tidak ada biaya untuk obat tanaman yang harus dikeluarkan karena petani sudah tidak mampu menutupi biayanya.

Selain itu, petani cabai juga mengalami hal yang sama, saat ini harga jual cabai rawit turun drastis menjadi Rp7.000 per kilogram. Padahal harga normal cabai awalnya bisa mencapai Rp20.000 per kilogram.

Hal ini dikarenakan sudahnya menjual cabai hingga ke luar kota karena adanya PSBB diberlakukan jadi kesulitan menembus pasar hingga luar daerah.

Permintaan dari konsumen rendah, sedangkan kita produksi jalan terus. Jadi di penampungan terkendala dan harga jadi hancur.

Pertumbuhan Ekonomi Saat Pandemi

resesi
pixabay.com

Baca juga: Menjaga Ketahanan Pangan Saat Pandemi

Pakar ekonom mengatakan Indonesia mencatatkan penurunan ekonomi sebesar -5,32% pada kuartal II 2020, turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut Badan Pusat Statistik.

Ini adalah kontraksi ekonomi pertama di Indonesia dalam lebih dari 20 tahun terakhir. Tapi ketika penurunannya relatif tajam secara year on year (yoy), maka bisa dikatakan ini resesi technical.

Jadi secara data ini sudah menunjukkan adanya resesi karena penurunannya cukup tajam karena tidak mungkin di kuartal III bisa kembali positif

Pada kuartal I pertumbuhan PDB Indonesia masih positif sebesar 2,97%, sedangkan pada kuartal II minus 5,32%. INDEF memprediksi bahwa penurunan di kuartal III akan sebesar -1,7%

Yang perlu diperhatikan ini kan adanya penurunan tajam pada konsumsi rumah tangga, karena adanya pandemi membuat masyarakat tidak yakin untuk berbelanja, dan akhirnya berpengaruh juga pada industri manufaktur yang turun dan sektor perdagangan turun.


Itulah informasi mengenai keluhan petani saat pandemi terjadi. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat ya sobat PTD!

Baca juga: Siapkah Indonesia Dengan Resesi Ekonomi ?

Sumber: Kompas.com

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.