3 Masalah yang Muncul pada Sistem Penanaman Vertikultur

Dewasa ini, tren urban farming kian diminati oleh masyarakat, terutama masyarakat di kota-kota besar. Hal tersebut dapat memanfaatkan lahan pekarangan yang sempit menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dengan alasan kesehatan juga, para penggiat urban farming pun kian bertambah. Produk pertanian yang tersedia di pasar masih terikat dengan yang namanya bahan kimia seperti pestisida yang jika terus di konsumsi, akan meninggalkan residu pada tubuh dan terus menumpuk sehingga dapat mengganggu kesehatan.

Maka dari itu, demi menciptakan pola hidup sehat, para penggiat urban farming terus berusaha untuk memproduksi komoditas pertanian yang terbebas dari cemaran bahan kimia yang berbahaya.

Ada banyak sistem penanaman dalam metode urban farming seperti hidroponik, aquaponik, vertikultur, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, sistem vertikultur mungkin banyak diminati karena selain cocok diterapkan di lahan sempit, sistem vertikultur juga tidak terlalu memerlukan biaya yang cukup besar, tidak seperti sistem penanaman dengan cara hidroponik dan aquaponik yang memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Namun, dibalik kelebihan yang dimiliki oleh sistem vertikultur, tidak bisa dipungkiri akan muncul suatu masalah pada sistem ini. Berikut ini adalah masalah-masalah yang mungkin akan muncul jika kita menerapkan sistem tanam vertikultur.

Pemberian pupuk yang cukup sulit

Pada sistem penanaman vertikultur, wadah yang digunakan untuk menampung media tanam bisa dikatakan terbatas yang memungkinkan kandungan unsur hara yang ada pada media tanam tersebut dapat habis karena digunakan oleh tanaman untuk proses tumbuhnya. Apabila unsur hara yang ada pada media tanam tersebut habis, maka dapat dipastikan pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat terganggu.

Maka dari itu, kita harus menambah unsur hara dengan cara memberikan pupuk pada media tanam. Jika kita menerapkan sistem organik, pupuk yang kita tambahkan tidak sedikit volumenya. Mau tidak mau, kita harus membongkar seluruh instalasi vertikultur kita untuk menambahkan pupuk organik pada media tersebut.

Solusi untuk menanggulangi masalah tersebut adalah mengganti pupuk organik yang kita gunakan dengan pupuk organik cair. Kita juga dapat menambahkan pupuk hayati sehingga mikroorganisme yang terkandung dalam pupuk hayati tersebut dapat dengan cepat menyediakan unsur hara yang dapat langsung diserap oleh tanaman.

Baca juga: Cara Mengolah Kulit Pisang Menjadi Pupuk Organik

Hama dan penyakit mudah menyebar

Karena jarak tanam yang cukup rapat pada sistem vertikultur, hama dan penyakit yang menyerang tanaman dapat dengan cepat menyebar dan berkembang. Terutama pada musim hujan, penyakit dapat cepatnya menyebar dari satu tanaman ke tanaman lain.

Untuk mengatasi masalah ini, kita harus sering-sering me-monitoring tanaman kita. Jika terdapat hama, kita dapat mengendalikannya dengan perlakuan mekanis, dengan menangkap dan membuang hama atau bagian tanaman tersebut. Kita juga dapat mengendalikannya dengan membuat pestisida nabati yang disemprotkan ke tanaman yang terserang hama.

Jika ada tanaman yang terkena penyakit, kita bisa mencabutnya dan membuangnya ke tempat yang jauh dari lokasi penanaman. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah menularnya penyakit ke tanaman yang lain.

Baca juga: Tanaman Refugia, Pengusir Hama Tanaman yang Alami

Mudah rusaknya media tanam

Karena sistem penanaman vertikultur yang dibuat menjulang ke atas, hal ini memungkinkan rusaknya media tanam yang disebabkan oleh cuaca yang ekstrim. Kurangnya ketelitian dalam pemasangan instalasi vertikultur juga dapat menjadi pemicu rusaknya media tanam.

Oleh kearena itu, dalam pemasangan instalasi vertikultur, diperlukan ketelitian dan keterampilan yang baik. Pemilihan tempat dalam pemasangan instalasi vertikultur juga harus diperhatikan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh cuaca yang buruk. Karena memakai wadah, kita juga dapat memindahkan media tanam yang kita gunakan ke tempat yang menurut kita aman dari gangguan cuaca.


Itulah 3 masalah yang muncul dalam sistem penanaman vertikultur. Dengan mengetahui masalah vertikultur tersebut, kita dapat meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan dan dapat menghasilkan produk pertanian yang mempunyai kualitas yang baik dan layak dikonsumsi.

Baca juga: 5 Teknik Bertanam di Lahan Sempit

Penulis: M. Rizki Permadi Putra

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.