Masnawati, Petani Muda yang Terjun ke Usaha Pembibitan Kakao

Masnawati merupakan seorang gadis kelahiran tahun 1994 yang berasal dari tanah timur, tepatnya  Desa Tarengge, Kecamatan Wotu,  Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Ia adalah seorang petani muda kakao di daerahnya. Tapi, jangan salah, jumlah kakao yang dibudidayakan oleh Masnawati berjumlah puluhan ribu. Hal inilah yang membuat kegiatan hariannya sangat padat untuk mengurus tanaman kakaonya.

Masnawati tidak mengelola tanaman kakao di lahan yang besar melainkan hanya memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya. Akan tetapi, dari lahan inilah, ia mampu memproduksi sekitar 20 ribu bibit kakao dalam setahun. Ia memaparkan bahwa teknik memperbanyak bibit yang dilakukannya adalah teknik sambung pucuk. Itulah sebabnya banyak tanamannya yang tertutupi plastik.

Lahan yang saat ini digunakan oleh Masnawati untuk melakukan pembibitan kakao awal mulanya adalah kebun kakao milik ayahnya. Namun, melihat banyak pohon kakao yang sudah berumur tua dan tidak produktif lagi, Masnawati akhirnya menebangnya dan menjadikan lahan tersebut sebagai lokasi pembibitan kakao.

Terjun ke Usaha Pertanian Saat Masih Bersekolah

Masnawati mulai merintis budidaya pembibitan kakao saat ia masih bersekolah di SMK Pertanian Tomuni, Luwu Timur. Petani muda kakao ini melihat usaha penjualan bibit sangat potensial karena sebagian besar petani di daerahnya merupakan petani kakao. Namun, petani yang khusus menjual bibit kakao belum ada saat itu.

Hal inilah yang kemudian membuat Masnawati tertarik untuk melakukan usaha budidaya bibit kakao. Usahanya diawali dengan modal usaha 500 ribu, hasil patungan dengan lima orang temannya. Masnawati akhirnya mulai untuk merintis usaha ini pada tahun 2012 lalu.

Kebun Kakao Masnawati
Kebun Kakao Masnawati | Foto: mongabay.co.id

Uang yang telah dikumpulkannya itu digunakan untuk membeli polybag, tenda, tempat pembibitan, pupuk, dan lain-lain. Setelah 6 bulan usahanya berjalan, ia dan teman-temannya berhasil membibitkan sekitar 500 pohon yang kemudian dijual seharga Rp 5000 per pohon. Keuntungan yang didapatkannya yaitu 2,5 juta yang kemudian dibagi rata dengan teman-temannya.

Setelah lulus SMK, Masnawati masih tekun melanjutkan usaha pembibitan pohon kakaonya. Bahkan, ia juga sudah mulai mengembangkan usahanya dengan mengelola lahan ayahnya yang memiliki luas 1 hektar secara pribadi. Semakin hari, jumlah produksi bibit kakaonya pun semakin meningkat pesat, seiring bertambahnya permintaan bibit baik dari daerah sekitarnya maupun luar daerah.

Menghasilkan Keuntungan yang Besar

Dalam setahun, Masnawati mampu meraup keuntungan hingga Rp 100 juta dari hasil penjualan bibit kakaonya. Keuntungan bersih yang ia dapatkan yaitu Rp 60 juta, sedangkan sisanya digunakan untuk perputaran biaya produksi. Sementara, dari kebun kakao milik ayahnya yang ia kelola secara pribadi, petani muda kakao ini mampu memperoleh keuntungan sebesar Rp 90 juta per tahun.

Kini, selain melakukan usaha pembibitan kakao, Masnawati juga mulai melakukan usaha jual beli kotoran ayam untuk dijadikan pupuk kompos. Barangnya ia beli dari petani Kabupaten Sidrap dengan harga Rp 17.000/sak kemudian dijual kepada petani seharga Rp 22.000/sak. Usahanya ini juga termasuk sukses karena barang selalu terjual habis bahkan terkadang kurang.

Baca juga: Prospek Produksi Kakao di Indonesia

Petani Kakao di Luwu Timur
Petani Kakao di Luwu Timur | Foto: mongabay.co.id

Kesuksesan Masnawati ini tidak hanya kebetulan semata. Ia mengungkapkan kecintaannya terhadap buah kakao sedari kecil. Karena hobinya itulah, akhirnya ia melanjutkan pendidikannya ke SMK Pertanian Tomuni.

Ketika kuliah, ia juga sempat magang selama t3 bulan di CRS MARS. Di sinilah keilmuannya mengenai tanaman kakao semakin bertambah sehingga ia mampu meningkatkan usaha budidaya bibit kakaonya.

CRS MARS sendiri merupakan salah satu instansi pemerintahan di Sulawesi Selatan yang mendorong anak-anak mudanya untuk bertani. Salah satu progam andalannya adalah Next Gen yang menyasar siswa SMK Pertanian dalam pembinaan dan penyuluhan berbagai macam materi dan pelatihan pertanian bermuatan lokal.


Itulah kisah yang bisa dipelajari dari seorang Masnawati, petani muda kakao yang mampu melihat peluang di sekitarnya. Semoga artikel ini dapat menginspirasi orang lain untuk terjun ke dunia pertanian dan memajukan pertanian Indonesia.

Baca juga: Roni Hartanto, Petani Sayuran Hidroponik dengan Omzet 240 Juta/bulan

Sumber gambar utama: mongabay.co.id

Penulis: Novita Awalia Rahmah

Sudah download aplikasi di Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.