Bagaimana Sebenarnya Pertanian 4.0 Itu?

Siapa yang tidak pernah mendengar Revolusi Industri 4.0? Ya, frase yang satu ini sedang sangat hits di kalangan kita dimana saja kapan saja. Tidak berhenti sampai di situ, revolusi industri 4.0 kerap dikaitkan dengan Pertanian 4.0. Lalu, apa sebenarnya makna dari Pertanian 4.0 itu?

Bila kita ulik kembali bagaimana sebenarnya zaman telah berubah, ada masa dimana penggunaan media sosial sudah menjadi hal yang gratis dan lumrah. Padahal, dahulu, telepon dan berkirim SMS justru dari yang berbayar, menjadi gratis dengan kehadiran media sosial. Ada perubahan dari premium menjadi ‘freemium‘, kata Rhenald Kasali.

Baca Juga : Smart Farm, Sistem Pertanian dengan Teknologi Canggih

Kesemuanya ini terjadi karena teknologi 4.0 telah mendisrupsi teknologi yang lama. Lihatlah penggunaan teknologi 4.0 yang bertebaran sekarang masa kini. Kecerdasan buatan (AI), robot, drone, IoT hingga analisis big data sudah menjadi kegiatan sehari-hari pegiat di zaman revolusi industri 4.0.

Masalahnya adalah bagaimana dengan pertanian? Apakah disrupsi juga akan terjadi di pertanian konvensional?

Melirik Potensi Revolusi Industri 4.0

Apakah kamu termasuk digital native atau digital migrants? Bingung? Sebagai informasi, digital native adalah mereka yang sejak lahir telah terpapar oleh perkembangan teknologi. Siapakah itu? Para milenial dari generasi Z atau mereka yang melek digital. Digital imigrants adalah mereka yang sudah lama hidup tanpa mengenal teknologi dan baru mulai beradaptasi dengan dunia digital.

Dari 2 kasus di atas, ternyata jumlah digital native akan melebihi digital migrants. Paling tidak, Indonesia pada tahun 2030 akan mengalami bonus demografi. Di tahun inilah, para generasi millenal akan menjadi kunci utama pemegang dalam kehidupan di revolusi industri 4.0 baik sebagai konsumen maupun produsen.

Bagaimana Teknologi 5G Akan Mengubah Ranah Pertanian?

Sebagai konsumen, tentu mereka menghendaki barang dan jasa yang unggul dengan harga terjangkau. Wajar bila mereka senang dengan belanja online karena hemat waktu, leluasa memilih produk, dan mudah menemukan harga terendah hingga tertinggi.

Sebagai produsen, mereka pun yang sudah akrab dengan dunia digital ingin proses yang efisien, presisi, dan unggul. Menghadapi karakteristik generasi milenial baik sebagai produsen maupun konsumen, maka pertanian pun harus menyesuaikan. Karena itu, pertanian 4.0 akan menjadi keniscayaan.

Drone Pertanian
Pertanian 4.0 yang mulai merambah adalah suatu keniscayaan

Pemanfaatan Teknologi Pertanian 4.0

Sudah tahu arti pertanian 4.0? Pertanian 4.0 ialah pertanian dengan ciri pemanfaatan teknologi artificial intelligence, robot, internet of things, drone, blockchain, dan big data analitik, untuk menghasilkan produk unggul, presisi, efisien, dan berkelanjutan.

Disini akan dibahas 3 buah ruang lingkup pertanian 4.0, apa sajakah itu?

a. On-Farming

On-farming dicirikan dengan pertanian presisi. Hal ini dimulai dari menghasilkan benih unggul berbasis bioinformatics, pengendalian hama terpadu secara cerdas dengan kecerdasan buatan, pemupukan presisi, penggunaan smart tractor, penyemaian benih dengan robot. Plant factory kini juga makin populer. Saat ini, mahasiswa IPB sudah bisa mengidentifikasi penyakit tanaman dengan smartphone.

Baca Juga : [Review Buku] 40 Inovasi Kelembagaan Diseminasi Teknologi Pertanian

b.Off-Farming

Berbicara mengenai off-farming, tidak hanya berbicara mengenai agroindustri cerdas, namun juga sistem logistik pertanian digital. Teknologi blockchain juga mulai diterapkan untuk menjamin transparansi dan rekam jejak aliran produk pertanian dari hulu hingga hilir sehingga dapat saling mengontrol satu dengan yang lain.

Kita akui bahwa pelaku dari hulu berada dalam posisi yang lemah karena informasi yang tidak transparan. Harapan ke depannya, transparansi informasi akan lebih terbuka untuk setiap stakeholder.

c. Pemasaran Digital

Sekarang ini, konsumen sudah mulai melek digital. Konsumen juga sudah memulai membiasakan diri untuk membeli produk pertanian secara online hanya lewat smartphone saja. Tidak hanya membeli produk pertanian melalui smartphone, tetapi melihat asal usul produk juga, sehingga digitalisasi memang adalah suatu keniscayaan.

Belanja online
Belanja kebutuhan pangan pun sudah mulai dilakukan secara online

Disrupsi Oleh Pertanian 4.0

Apakah digitalisasi lewat pertanian 4.0 dapat dicegah mengingat cara lama adalah cara yang paling nyaman digunakan? Apakah kenyataannya pertanian 4.0 sesuai realistis dengan kondisi pertanian kita? Dua pertanyaan krusial ini cenderung menghambat mindset kita tentang pertanian 4.0.

Berbicara mengenai pencegahan digitalisasi pertanian 4.0, hal itu sangat mustahil dilakukan. Mengapa? Teknologi sangat berkembang cepat di era sekarang ini, perubahan teknologi juga sangat terasa, sehingga mau tidak mau, kita harus menghadapi kenyataan ini. Teknologi akan mengubah semuanya.

Kemudian, apakah sesuai dengan realitas pertanian kita? Jika membahas ini, mungkin tidak semua daerah memiliki teknologi canggih yang sama.

Baca Juga : Bangladesh Tertarik Belajar Digitalisasi Pertanian di Indonesia

Di sinilah, diperlukan pelaku-pelaku baru milenial berciri technopreneur yang mampu menghasilkan produk-produk inovatif dan juga aktor sociopreneur yang berperan mengonsolidasi para petani tradisional, serta memfasilitasi aplikasi teknologi baru tersebut dalam kerangka percepatan transformasi.

Tidak perlu setiap rumah tangga petani punya drone untuk memantau pertumbuhan tanaman, pemupukan, maupun luasan panen. Di sinilah peran pemerintah daerah, LSM, dan perguruan tinggi untuk memfasilitasi drone dan berbagai teknologi 4.0 lainnya.

Oleh karena itu, perguruan tinggi harus mampu mencetak sebanyak-banyaknya technopreneur dan sociopreneur dalam kerangka transformasi tersebut.

Petani rata-rata sudah memiliki umur yang cukup uzur, petani mudanya kemana?

Kemudian, mari kita lihat rerata umur kita. Ternyata rerata petani kita berumur 45 tahun keatas. Dalam kurun waktu 10-15 tahun, kita akan mengalami degenerasi petani muda. Mirisnya, petani malah meminta anak mereka untuk tidak menjadi petani untuk meneruskan orang tua karena masih menganggap kerja kantoran lebih menjanjikan. Ada juga yang memilih lebih baik menjadi petani pemilik demi menghindari menjadi buruh tani.

Hal inilah yang membuat degenerasi petani terjadi. Oleh sebab itu, kita sudah harus bersiap untuk membekali para calon SDM dan teknologi unggul untuk menggiatkan pertanian 4.0.

Dengan pertanian 4.0, walaupun segi keilmuan dan segalanya masih dalam tahap keterbatasan, namun pembelajaran untuk menggiatkan pertanian 4.0 itu tidak tertinggal jauh. Hal ini berguna untuk menjaga momentum tidak dibiarkan begitu saja agar kita dapat merespon perubahan di era ini.

Bagaimana menurut kamu sobat PTD?

Disadur dari Media Indonesia
Penulis Arif Satria Rektor IPB

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Silahkan klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.