Percaya Tidak Percaya, Perkebunan Ini Berada di Dasar Laut

Sebelum kamu melanjutkan untuk membaca artikel ini, kamu bisa menuliskan apa hal pertama yang terlintas di pikiranmu saat tahu ada perkebunan di dasar laut. Silahkan menuliskannya di kolom komentar di bawah ya. Satu orang dengan kalimat yang paling menarik akan mendapatkan hadiah istimewa dari Pak Tani Digital.

Proyek perkebunan di dasar laut terlihat seperti angan-angan atau sekadar mimpi belaka. Rasanya tidak mungkin dan sangat sulit untuk membayangkannya. Namun, hal itu dibantah oleh Sergio Gamberini yang merupakan seorang insinyur dari Genoa, Italia. Inovasi yang dilakukannya tidak terlepas dari kekhawatiran akan tidak tercukupinya lahan pertanian darat dalam memproduksi pangan. Jumlah pangan yang dibutuhkan oleh manusia semakin lama semakin meningkat secara eksponensial.

Berkebun di Dasar Laut
Sumber: dw.com

Perkebunan dasar laut yang dipelopori oleh Sergio Gamberini berada di wilayah utara Italia dan dibangun pada kedalaman 100 meter di bawah laut. Bentuknya seperti ubur-ubur raksasa yang terbuat dari bahan kaca dan diberi nama Kebun Nemo (Nemo’s Garden). Proyek yang berorientasi ke masa depan ini dibangun oleh Ocean Reef Group yang selanjutnya dikoordinatori oleh Gianni Fontanesi dan secara rutin menyelam untuk merawat berbagai tanaman yang dibudidayakan.

Menurut dia, pengalaman berkebun di dasar laut tersebut sulit untuk digambarkan. Selain hasil panen yang tidak kalah dari lahan darat, kegiatan berkebunnya kerap juga ditemani oleh berbagai macam hewan lautan yang unik dan indah.

Sistem yang diterapkan pada perkebunan ini memanfaatkan materi yang terkandung dalam lautan untuk membantu pertumbuhan tanaman. Salah satunya adalah air penyiraman yang digunakan pada tanaman diperoleh dari proses alami desalinasi air laut. Dengan kata lain, perbedaan temperatur mengakibatkan air laut menguap di dalam balon kaca dan mengendap menjadi air tawar.  Air tawar tersebut kemudian menetes dan membasahi tanaman layaknya air hujan.

Budidaya Sayuran di Dasar Laut
Sumber: dw.com

Selain itu, menariknya, tidak ditemukannya hama di dasar laut membuat produk yang dihasilkan lebih sehat dan bebas dari insektisida maupun zat kimia lainnya. Inilah salah satu keuntungan dari perkebunan dasar laut.

Teknologi yang digunakan ini juga cukup canggih. Dengan data yang terpusat, proses monitoring atau pengecekan data suhu dan kelembaban di dalam rumah kaca (biosfer) dapat dilakukan di ruang monitor. Dengan begitu, penanganan yang tepat dapat dilakukan dengan segera. Sumber energi yang digunakan berasal dari energi surya sehingga semua proses dilakukan secara organik dan sehat tanpa polusi.

Saat ini, tim tersebut sudah memperoleh order dari berbagai Nngara dan sudah dipasang di Belgia, Mauritania, dan Amerika Serikat. Proyek hijau tersebut tentu berkontribusi pada pertanian berkelanjutan di masa depan. Sistem tersebut sangat cocok untuk dikembangkan di negara-negara berkembang yang tandus dan kekeringan.

Baca juga: Gundaling Farm Berastagi, Agrowisata Peternakan Sapi di Berastagi

Sumber gambar utama: nemosgarden.com

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital belum? Klik di sini.

5 thoughts on “Percaya Tidak Percaya, Perkebunan Ini Berada di Dasar Laut

    1. Hutan di dunia memang masih luas tapi kita juga harus terus melakukan inovasi-inovasi di bidang pertanian supaya supply pangan di masa depan tetap dapat tercukupi.

  1. Waduh… hewan lautnya harus ngungsi dimana???? Kalau laut juga dijadikan perkebunan seperti itu.kalau tidak luas masih aman tapi kalau meluas bisa jadi eksploitasi laut dong

  2. Inovasi yang sangat luat biasa, dengan inovasi pertanian di dalam laut, maka kebutuhan pangan manusia dapat terpenuhi, karena manusia terus bertambah dan luas tanah untuk pertanian akan berkurang sehingga inovasi tersebut sangat membantu di zaman sekarang.

  3. Kaget dan heran itu kata pertama yang terlintas di pikiran. Bukan bernada negatif, akan tetapi sungguh suatu ide gila yang belum tentu kebanyakan orang terfikir dengan ide tersebut.
    Keren lah pokoknya. Menarik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.