Petani Buncis Super Asal Lembang Ini Mampu Menembus Pasar Ekspor

Ada kisah sukses petani buncis super asal Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat yang perlu Anda ketahui. Kisah sukses yang bisa menginspirasi banyak orang, terutama yang tertarik di bidang pertanian. Mungkin salah satunya adalah Anda sendiri, maka tidak ada salahnya membaca tulisan ini.

Lebih spesifiknya, kisah ini mengarah ke bidang hortikultura yang di dalamnya terdapat tanaman sayur mayur, salah satunya adalah buncis. Bukan sembarangan buncis karena berkualitas ekspor. Namanya saja produk ekspor sehingga kualitasnya tentu bagus dan harus terjaga stabil. Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh mereka yang tidak kenal putus asa, optimis, berkemauan keras, dan ingin mengubah nasib.

Dididik bercocok tanam sejak kecil

Petani buncis super tersebut bernama Ulus Pirmawan, seorang petani yang berasal dari Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Lembang, Jawa Barat. Diketahui, Ulus merupakan anak ketiga dari pasangan Adin dan Juju. Suami istri tersebut juga berprofesi sebagai petani yang waktu kesehariannya dihabiskan di lahan perkebunan.

Mereka juga mendidik Ulus untuk menjadi petani hebat sejak kecil. Ulus dididik dan digembleng menjadi petani sejak di bangku Sekolah Dasar (SD), dengan membantu langsung di ladang. Sehabis pulang sekolah, Ulus membantu orang tuanya bercocok tanam serta merawat tanaman tomat dan kentang yang dibudidayakannya. Sedikit demi sedikit dan secara bertahap, Ulus mengenal cara bercocok tanam sayuran seperti yang dilihatnya setiap hari pada orang tuanya saat di ladang.

Kondisi ekonomi yang serba pas-pasan membuat Ulus hanya bisa mengenyam pendidikan SD saja. Setelah lulus SD, dia tidak melanjutkan ke jenjang sekolah di atasnya. Saat teman-teman seumuran ia masih bersekolah, bermain-main, dan bersenang-senang dengan aktivitasnya masing-masing, Ulus yang hanya lulusan SD sudah bergelut di ladang setiap hari. Ia membantu orang tuanya menggarap ladang sayuran yang selama ini menghidupi keluarganya.

Ulus Pirmawan
Sumber: kumparan.com

Bahkan, Ulus diberi kepercayaan oleh orang tuanya untuk menggarap lahannya sendiri dengan serius. Orang tua Ulus benar-benar ingin buah hatinya bisa mandiri dan bertanggung jawab. Seiring perjalanan waktu, Ulus yang makin dewasa serius menjadi petani buncis super yang targetnya bisa diekspor ke luar negeri.

Berbagai halangan dan rintangan dihadapinya sekaligus diselesaikan satu per satu. Ulus percaya bahwa untuk menjadi seseorang yang hebat dan sukses di masa depan, memang harus ditempa dan digembleng dengan keras. Maka dari itu, Ulus tetap bersemangat dalam bertani dan membudidayakan tanaman sayuran yang ia percaya punya prospek cerah.

Masalah-masalah yang dihadapinya mulai dari hama dan penyakit yang menyerang buncisnya bahkan hingga pernah gagal panen, mempertahankan kualitas bagus tanaman buncis, sampai masalah pemasaran dan penjualan yang harganya tidak sepadan. Masalah terakhir inilah yang mampu mengantarkan Ulus menjadi petani buncis super yang sukses. Tentu saja, ia tidak sendirian karena membutuhkan bantuan dari orang atau pekerja.

Pemasaran hasil panen juga penting

Ternyata, Ulus tidak hanya memikirkan dan menangani kegiatan menanam buncis saja di ladang. Ia juga harus memikirkan mengenai pemasaran produk buncisnya. Pasalnya, percuma saja jika mampu menanam buncis hingga memanennya tetapi belum bisa memasarkannya dengan baik. Tentu saja pemasaran buncis harus dengan harga yang bagus sehingga keuntungan yang diperolehnya tidak sedikit.

Diketahui bahwa di desanya hanya ada satu pengepul buncis yang nantinya memasarkannya di Pasar Caringin Bandung. Namun, menurut Ulus, pengepul tersebut kurang transparan dalam menentukan harga buncis. Ulus merasa buncis super hasil panennya dibeli dengan harga yang rendah. Oleh karena itu, Ulus langsung memasarkan sendiri buncis super miliknya, sekaligus mencari pengepul buncis yang berani membeli dengan harga lebih tinggi.

Akhirnya, petani buncis super ini pun menemukan pengepul buncis di Desa Cicalung dan Desa Cibeuerem, Lembang yang berani membeli buncis milik Ulus dengan harga lebih tinggi. Dengan begitu, Ulus merasakan ada peningkatan dari penghasilan yang diterimanya. Akan tetapi, Ulus belum puas sampai di situ. Dia masih penasaran buncis super miliknya tersebut dipasarkan di mana.

Ulus pirmawan, Petani Buncis Super
Sumber: detik.com

Dari pengakuan sang pengepul, buncis-buncis tersebut dibawa ke Pasar Kramat Jati, Jakarta. Ulus pun memberanikan diri ke Pasar Kramat Jati dan menelusuri pengusaha di sana yang menerima buncisnya. Dia ingin mencari jaringan pasar yang dapat menampung buncis super miliknya.

Ulus bertemu dan berkenalan dengan salah satu pengusaha hortikultura di Pasar Kramat Jati bernama Pak Emen. Selanjutnya, Ulus mulai mengirim buncis supernya langsung kepada Pak Emen, tanpa perantara pengepul lagi. Otomatis, jaringan distributor bisa dipangkas yang menjadikan pendapatannya lebih tinggi.

Seiring perjalanan waktu, Ulus yang sedikit demi sedikit belajar menjadi pengepul buncis mulai melebarkan sayap bisnisnya. Dia menerima buncis dari petani-petani dan membelinya dengan harga yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pengepul lainnya. Jika pengepul lain hanya mematok harga Rp 500/kg buncis yang dibelinya dari petani, Ulus berani membeli buncis-buncis tersebut hingga Rp 750/kg. Tentu saja banyak petani buncis yang beralih menjual hasil panennya kepada Ulus.

Pada tahun 1995, Ulus terus mengembangkan pemasaran buncis supernya hingga ke luar negeri. Dia mengekspor buncisnya ke Singapura. Dengan begitu, pendapatannya sebagai petani buncis super yang pada awalnya sedikit berubah menjadi banyak. Bahkan, hingga sekarang, Ulus terus mengembangkan bisnisnya tersebut dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Baca juga: Kisah Agus Suprapto yang Sukses Berbisnis & Mengekspor Jeruk

Sumber gambar utama: detik.com

Penulis: Arifin Totok

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Silahkan klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.