{"id":1006,"date":"2018-10-11T09:00:29","date_gmt":"2018-10-11T02:00:29","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=1006"},"modified":"2020-01-09T11:27:42","modified_gmt":"2020-01-09T04:27:42","slug":"isu-pertanian-indonesia-gadis-jerman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/isu-pertanian-indonesia-gadis-jerman\/","title":{"rendered":"Pandangan Seorang Gadis Jerman Terhadap Isu Pertanian Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Indonesia merupakan negara agraris, yang berarti sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani. Sebagai warga Indonesia,\u00a0kita pasti sudah paham seperti apa masalah pertanian di Indonesia.\u00a0Banyaknya\u00a0petani Indonesia yang berusia di\u00a0atas 50 tahun, terjadinya alih fungsi lahan, teknologi yang kurang memadai, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Pertanian menjadi objek yang sangat seksi untuk dibicarakan, terlebih pada saat-saat pemilu karena banyak calon pemimpin yang selalu berkampanye akan mensejahterakan petani.<\/p>\n<p>Namun,\u00a0bagaimana orang asing memandang isu-isu\u00a0pertanian di Indonesia? Simak uraian berikut!<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1008 size-full aligncenter\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Paula-Dietrich-Seorang-Gadis-Jerman.png\" alt=\"Paula Dietrich, Seorang Gadis Jerman\" width=\"324\" height=\"426\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Paula-Dietrich-Seorang-Gadis-Jerman.png 324w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Paula-Dietrich-Seorang-Gadis-Jerman-228x300.png 228w\" sizes=\"(max-width: 324px) 100vw, 324px\" \/><\/p>\n<p>Paula Dietrich, seorang gadis Jerman berusia 24 tahun yang saat ini sedang menjadi <em><i>volunte<\/i><\/em><em><i>e<\/i><\/em><em><i>r<\/i><\/em>\u00a0di ROLE Foundation yang berlokasi di Nusa Dua, Bali ini menjelaskan seperti apa<em><i>\u00a0sih<\/i><\/em>\u00a0gambaran umum pertanian di Indonesia\u00a0dan bagaimana jika dibandingkan dengan negaranya?<\/p>\n<h3>Pertanian Skala Kecil<\/h3>\n<p>Menurut Paula, pertanian di Indonesia termasuk pertanian skala kecil karena\u00a0memang benar bahwa kepemilikan lahan pertanian di Indonesia oleh petani tergolong rendah. Hal ini sama dengan di negaranya karena di Jerman,\u00a0biasanya petani mempunyai luas lahan yang tergolong skala kecil, sementara untuk skala besar dimiliki oleh perusahaan.<\/p>\n<h3><em><i>Trend Organic Farming <\/i><\/em><\/h3>\n<p>Saat ini, Jerman sedang mengalami\u00a0tren <em><i>organic farming<\/i><\/em>, yang pada dasarnya terjadi dimana saja,\u00a0termasuk di Indonesia. Di Indonesia, tren ini juga terus berkembang karena semakin sadarnya masyarakat akan keberlanjutan lingkungan dan kesehatan. Bahkan saat ini, di Bali, sudah terdapat BOA (<em><i>Bali Organic Association<\/i><\/em>).<\/p>\n<h3>Monokultur dan Rotasi Tanaman<\/h3>\n<p>Paula berpendapat bahwa masih banyak petani Indonesia yang menerapkan sistem tanam monokultur. Sedangkan di Jerman,\u00a0kebanyakan petani menanam secara polikultur dan hanya sebagian kecil yang menanam secara\u00a0monokultur.<\/p>\n<p>Menanam dengan sistem monokultur dapat menyebabkan terjadinya ledakan hama dan kurang\u00a0menguntungkan secara ekonomi. Dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman, tidak akan terjadi kelebihan jumlah komoditas tertentu dibandingkan dengan\u00a0permintaan yang menyebabkan harganya menjadi murah.<\/p>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/petani-pola-tanam-polikultur\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Meningkatkan Pendapatan Petani dengan Pola Tanam Polikultur<\/strong><\/a><\/p>\n<p>Selain itu, baik di Indonesia maupun di Jerman, petani telah menerapkan sistem rotasi tanam. Sistem pergantian tanaman ini berguna untuk memutus rantai hama dan penyakit, meningkatkan kesuburan tanah, dan meningkatkan struktur tanah. Sistem rotasi tanaman juga sangat direkomendasikan pada sistem pertanian organik.<\/p>\n<h3>Kompensasi untuk Petani<\/h3>\n<p>Di Jerman, jika terjadi gagal panen karena cuaca, pemerintah akan memberikan kompensasi kepada petani sebesar\u00a0kerugian yang mereka alami. Jadi, petani mendapat jaminan dan tetap mendapat uang meskipun gagal panen karena cuaca.<\/p>\n<p>Hal ini berbeda dengan di Indonesia dimana petani tidak mendapatkan jaminan dari pemerintah. Paula berharap agar pemerintah Indonesia dapat memberikan regulasi yang baik bagi petani Indonesia, baik pemberian kompensasi maupun mengenai jalur distribusi.\u00a0Hal ini disebabkan oleh\u00a0petani yang mengeluarkan input yang sering tidak sesuai dengan outputnya.<\/p>\n<h3>Impor Pangan<\/h3>\n<p>Paula mengaku kaget bahwa Indonesia masih mengimpor beras karena komoditas tersebut merupakan makanan pokok Indonesia. Sementara di Jerman, kentang dan gandum merupakan produksi terbesarnya sebagai bahan makanan pokok.\u00a0Jerman banyak mengimpor tomat, paprika,\u00a0dan mentimun dari Spanyol.<\/p>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/indonesia-krisis-padi-atau-krisis-petani\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Indonesia Krisis Padi atau Krisis Petani?<\/strong><\/a><\/p>\n<p>Sudah lumayan banyak penggunaan rumah kaca di Jerman dan biasanya digunakan untuk komoditas seperti stroberi.<\/p>\n<h3><em><i>Image<\/i><\/em>\u00a0Petani<\/h3>\n<figure id=\"attachment_1011\" aria-describedby=\"caption-attachment-1011\" style=\"width: 950px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1011 size-full\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Seorang-Petani-Jerman.jpg\" alt=\"Seorang Petani Jerman\" width=\"950\" height=\"450\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Seorang-Petani-Jerman.jpg 950w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Seorang-Petani-Jerman-300x142.jpg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Seorang-Petani-Jerman-768x364.jpg 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Seorang-Petani-Jerman-600x284.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 950px) 100vw, 950px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1011\" class=\"wp-caption-text\"><em>Sumber: deutschland.de<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Paula juga menyadari bahwa petani di Indonesia kebanyakan merupakan orang tua yang sudah tidak produktif lagi usianya. Hal ini berbeda dengan di Jerman. Petani di Jerman berasal dari semua usia serta tidak memiliki stigma yang negatif, dan <em><i>image<\/i><\/em>\u00a0petani yang kotor, kepanasan, atau miskin.<\/p>\n<p>Bekerja sebagai petani dianggap sebagai pekerjaan yang netral. Jadi, alangkah baiknya jika kita mulai menghapus pandangan-pandangan negatif tersebut terhadap petani, karena mereka-lah orang yang paling berjasa dalam ketersediaan pangan di negeri ini!<\/p>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/masalah-menahun-pertanian-indonesia\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Ini Dia Masalah Menahun Pertanian di Indonesia<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis:\u00a0<strong>Nevy Widya Pangestika<em><br \/>\n<\/em><\/strong><em>Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana<\/em><\/p>\n<hr \/>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia merupakan negara agraris, yang berarti sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani. Sebagai warga Indonesia,\u00a0kita pasti sudah paham seperti apa masalah pertanian di Indonesia.\u00a0Banyaknya\u00a0petani Indonesia yang berusia di\u00a0atas 50 tahun,&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":1009,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[19],"tags":[194,195,6,12],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Sawah.jpg","author_info":{"display_name":"Nevy Widya Pangestika","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/nevy-widya-pangestika\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1006"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1006"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1006\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1027,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1006\/revisions\/1027"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1009"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1006"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1006"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1006"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}