{"id":1015,"date":"2022-07-01T01:00:12","date_gmt":"2022-06-30T18:00:12","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=1015"},"modified":"2022-07-01T01:55:13","modified_gmt":"2022-06-30T18:55:13","slug":"strategi-budidaya-padi-penyakit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/strategi-budidaya-padi-penyakit\/","title":{"rendered":"6 Strategi Budidaya Padi dalam Pengendalian Penyakit"},"content":{"rendered":"<p>Padi merupakan salah satu hasil produksi dalam bidang pertanian yang paling besar di Indonesia. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Indonesia mengonsumsi beras sebagai makanan pokok mereka.<\/p>\n<p>Bahkan, jika stok padi di lumbung nasional sedikit, pemerintah terus berusaha untuk memenuhinya. Karena produksi lokal tidak mencukupi, mau tidak mau pemerintah harus melakukan impor beras dari negara-negara tetangga. Oleh karena itu, petani terus berlomba-lomba untuk memproduksi padi sebanyak mungkin.<\/p>\n<p>Namun, sebagaimana tanaman lainnya, padi juga tidak jarang mengalami gagal panen. Hal ini disebabkan oleh\u00a0berbagai faktor, mulai dari cara pengelolaan, benih yang digunakan, gangguan hama, dan sebagainya.\u00a0Petani harus tahu strategi yang tepat\u00a0dalam\u00a0mengelola tanaman padi. Berikut ini adalah 6 strategi budidaya padi untuk mengendalikan penyakit yang dapat dilakukan oleh petani<\/p>\n<h3><b><\/b>Pemilihan varietas padi<\/h3>\n<p>Salah satu cara pengelolaan padi yang murah, mudah, aman, dan efektif adalah dengan menggunakan\u00a0varietas tahan penyakit. Hal ini disebabkan oleh\u00a0varietas padi tahan penyakit mampu menekan perkembangan patogen yang merusak tanaman dan mengakibatkan kerugian.<\/p>\n<p>Di Indonesia, ada beberapa jenis varietas padi yang tahan penyakit yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Varietas tahan hawar daun bakteri (HDB) yang sering disebut juga penyakit kresek. Varietas ini terdiri dari beberapa jenis, seperti Angke, Code, Inpari-4, Inpari-6, dan Inpari-32.<\/li>\n<li>Varietas tahan tungro, seperti Tukad Balian, Tukad Petani,\u00a0Tukad Unda, Kalimas, Bondoyudo, Inpari-36 dan Inpari-37.<\/li>\n<li>Varietas unggul tahan hama wereng coklat, seperti Inpari-13 dan Inpari-33.<\/li>\n<li>Varietas unggul baru tahan penyakit blas, seperti Towuti, Situ Patenggang, Batutegi, Inpago-6, Inpago-7, dan Inpago-8.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dengan melakukan pemilihan varietas padi sesuai kebutuhan, petani sudah menerapkan strategi budidaya padi yang benar sejak awal.<\/p>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/fakta-tentang-beras-di-indonesia\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Fakta tentang Padi (Beras) di Indonesia<\/strong><\/a><\/p>\n<h3>Penggunaan benih sehat<\/h3>\n<p>Jika ingin mendapatkan hasil produksi tanaman yang baik, sebaiknya kita menggunakan benih yang sehat. Hal ini juga tidak terkecuali pada tanaman padi\u00a0karena benih mengandung materi genetik yang mengatur sistem pertumbuhan secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Selain itu, benih tanaman juga membawa mikroorganisme yang menguntungkan maupun merugikan (patogen). Kedua kelompok mikroorganisme tersebut berpengaruh pada\u00a0kualitas benih, bibit, dan tanaman.<\/p>\n<p>Benih yang berkualitas tinggi dapat menghasilkan tanaman yang sehat. Itulah sebabnya mutu benih berpengaruh terhadap pertumbuhan awal tanaman padi.<\/p>\n<p>Benih padi yang sehat biasanya memiliki warna kuning cerah, tidak mengalami penyimpangan warna gabah (<em><i>grain descoloration<\/i><\/em>) atau tidak terdapat bercak hitam.<\/p>\n<p>Untuk melakukan penilaian mutu benih padi, kita dapat memasukkan benih padi tersebut ke dalam larutan garam 3% atau larutan ZA dengan perbandingan 1 kg pupuk ZA untuk 2,7 liter air. Jika benih tersebut tenggelam, itu artinya ia baik untuk ditanam.<\/p>\n<h3>Pengelolaan tanah<\/h3>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-1020 size-full\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Pembajakan-tanah-di-sawah-1.jpg\" alt=\"Pembajakan tanah di sawah\" width=\"1920\" height=\"1280\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Pembajakan-tanah-di-sawah-1.jpg 1920w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Pembajakan-tanah-di-sawah-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Pembajakan-tanah-di-sawah-1-768x512.jpg 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Pembajakan-tanah-di-sawah-1-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Pembajakan-tanah-di-sawah-1-600x400.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/>Semua jenis tanaman, termasuk padi, membutuhkan pengelolaan tanah yang baik. Kenyataannya, pengolahan tanah dapat meningkatkan laju resapan air serta menurunkan jumlah tanah padat pada daerah perakaran tanaman.<\/p>\n<p>Tanah yang dibajak dapat mengeluarkan gas-gas beracun dan mengalami pencucian. Pori tanah yang terbentuk memperbaiki aliran udara sehingga meningkatkan proses dekomposisi residu tanaman.<\/p>\n<p>Pada saat lahan padi dibajak, di sana akan terjadi peningkatan difusi gas O ke tanah. CO<sub>2<\/sub>\u00a0pun akan keluar dari tanah, sehingga akumulasi CO<sub>2<\/sub><sub>\u00a0<\/sub>tidak mengganggu kehidupan ekosistem perakaran tanaman.<\/p>\n<p>Sistem kehidupan mikroorganisme yang terbentuk makin kompleks sehingga mampu menjaga keseimbangan alamiah ekosistem tanah. Oleh karena itu, tidak heran jika pengolahan tanah memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan penyakit tanaman padi.<\/p>\n<p>Tanah menyediakan unsur hara dan air yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Tanah yang kualitasnya baik biasanya mengandung air, oksigen, dan unsur hara yang cukup di daerah perakaran.<\/p>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/sistem-salibu\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Sistem Salibu, Padi Dapat Dipanen Lebih dari 3 Kali<\/strong><\/a><\/p>\n<h3>Pemberian bahan organik<\/h3>\n<p>Penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus tentu memiliki dampak yang kurang baik pada\u00a0tanah. Beberapa di antaranya adalah penurunan kadar bahan organik tanah, polusi lingkungan, aktivitas mikroorganisme tanah yang\u00a0menurun, dan pemadatan tanah.<\/p>\n<p>Padahal, bahan organik sangat dibutuhkan oleh tanah\u00a0karena\u00a0bahan organik merupakan substrat bagi sebagian besar mikroorganisme tanah untuk tumbuh dan berkembang, sehingga populasinya meningkat.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, petani sangat dianjurkan untuk menggunakan jerami sisa panen untuk diterapkan ke tanah sebagai sumber bahan organik. Hal ini akan mendorong peningkatan berbagai jenis mikroorganisme yang dapat menjaga kualitas tanah tersebut. Secara alami, kondisi ini dapat mengendalikan organisme tertentu, termasuk mikroorganisme pembawa penyakit tanaman.<\/p>\n<h3>Waktu dan jarak tanam<\/h3>\n<p>Waktu tanam padi harus disesuaikan dengan lingkungan. Sebaiknya, waktu penanaman padi tidak jauh berbeda dengan waktu penanaman di lingkungan sekitarnya. Jika padi tidak ditanam serempak, maka padi tersebut rentan mendapat penyakit tanaman, terutama penyakit yang ditularkan melalui angin atau serangga vektor. Selain itu, penanaman padi yang tidak mengikuti waktu penanaman yang sama dengan padi-padi lain biasanya cenderung menjadi target hama burung.<\/p>\n<p>Untuk jarak tanaman, sebaiknya tanaman padi ditanam tidak terlalu rapat agar kelembaban dan suhu di sekitar lingkungan tanaman tidak terlalu tinggi, terutama tanaman padi yang mempunyai anakan banyak dan berdaun lebat. Kelembaban dan suhu tinggi di lingkungan penanaman padi dapat memicu perkembangan penyakit yang cenderung merusak bagian pelepah dan batang padi.<\/p>\n<h3>Pengairan tanaman<\/h3>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-1019 size-full\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Sistem-irigasi-di-sawah.jpg\" alt=\"Sistem irigasi di sawah\" width=\"1920\" height=\"1279\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Sistem-irigasi-di-sawah.jpg 1920w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Sistem-irigasi-di-sawah-300x200.jpg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Sistem-irigasi-di-sawah-768x512.jpg 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Sistem-irigasi-di-sawah-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Sistem-irigasi-di-sawah-600x400.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/>Pengairan adalah salah satu hal yang sangat penting dan tidak dapat diabaikan dalam budidaya tanaman padi. Cara pengairan yang berbeda berpengaruh terhadap lingkungan fisik tanaman. Penggenangan lahan menciptakan lingkungan pertumbuhan tanaman dengan kelembaban tinggi.<\/p>\n<p>Untuk menurunkan kelembaban lingkungan pertumbuhan tanaman, petani dapat melakukan pengairan. Hal ini tentu saja menjadi salah satu komponen pengendalian penyakit tanaman padi yang rentan terinfeksi saat kelembaban lingkungan penanaman tinggi.<\/p>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/upaya-meningkatkan-produksi-padi\/\" rel=\"bookmark\"><strong>4 Upaya dalam Meningkatkan Produksi Padi di Indonesia<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em><i>Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi<\/i><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Penulis:\u00a0<a href=\"http:\/\/geniuslector.com\/\"><strong>Hutri Cika Berutu<\/strong><\/a>\u00a0<\/em><\/p>\n<hr \/>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Padi merupakan salah satu hasil produksi dalam bidang pertanian yang paling besar di Indonesia. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Indonesia mengonsumsi beras sebagai makanan pokok mereka. Bahkan, jika stok&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1018,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[840,1],"tags":[40,46,58],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Petani-padi.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1015"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1015"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1015\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1025,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1015\/revisions\/1025"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1018"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1015"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1015"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1015"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}