{"id":1075,"date":"2021-02-13T06:10:31","date_gmt":"2021-02-12T23:10:31","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=1075"},"modified":"2021-02-13T06:56:59","modified_gmt":"2021-02-12T23:56:59","slug":"agrowisata-indonesia-bule-perancis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/agrowisata-indonesia-bule-perancis\/","title":{"rendered":"Pembangunan Agrowisata di Indonesia Menurut Seorang Bule Perancis"},"content":{"rendered":"<p>Indonesia, negeri dengan keindahan alam yang sangat menawan, menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata internasional. Hampir semua pemandangan alam seperti gunung, laut, danau, dan hutan\u00a0dapat ditemui di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga menawarkan keragaman budaya yang menjadi daya tarik tersendiri.<\/p>\n<p>Berbicara soal pariwisata, Pulau Dewata Bali tentunya menjadi maskot wisata Indonesia. Di Bali, segala hal dibumbui pariwisata, termasuk berkuliah di Fakultas Pertanian. Di\u00a0sini, diajarkan mengenai agrowisata dan bagaimana seharusnya petani mampu menyuplai kebutuhan konsumsi untuk hotel dan restoran yang sayangnya belum berjalan dengan baik.<\/p>\n<p>Namun, haruskah kita mengembangkan agrowisata di Indonesia? Menurut warga Indonesia,\u00a0jawabannya adalah iya. Karena dengan mengembangkan agrowisata, penduduk sekitar dapat meningkatkan penghasilan, dari menjual souvenirs, memanfaatkan rumahnya untuk dijadikan \u2018<em><i>guest house<\/i><\/em>\u2019, dan berkreasi untuk menciptakan produk olahan pasca panen.<\/p>\n<p>Tapi,\u00a0bagaimana jika kita melihat dari perspektif yang berbeda? Bagaimana jika kita lihat dari sudut pandang seorang WNA di Indonesia? Simak uraian\u00a0berikut\u00a0ini.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1077\" aria-describedby=\"caption-attachment-1077\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1077\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Xavier-Zayou-Wisatawan-Perancis-di-Bali.jpg\" alt=\"Xavier Zayou, Wisatawan Perancis di Bali\" width=\"300\" height=\"389\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1077\" class=\"wp-caption-text\"><em>Xavier Zayou<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Menurut Xavier Zayou, bule Perancis-China yang saat ini tengah bermukim di Nusa Dua Bali untuk kegiatan <em>volunteer<\/em>, mengaku bahwa secara khusus,\u00a0Bali sudah sangat padat dengan wisatawan asing\u00a0dan pengembangan-pengembangan pariwisata umumnya menguntungkan pihak asing, sedangkan warga negara Indonesia hanya bekerja kepada mereka di negeri sendiri. Selain itu, Xavier mengaku kurang setuju jika digencarkan pengembangan agrowisata karena alasan berikut:<\/p>\n<h2>Terjadi eksploitasi SDA besar-besaran<\/h2>\n<p>Di Bali,\u00a0pada khususnya,\u00a0terjadi alih fungsi lahan secara masif. Lahan yang mulanya persawahan kini dibangun menjadi hotel. Xavier mengaku bahwa 2\u00a0tahun yang lalu,\u00a0ia mengunjungi Ubud dan belum terdapat <em><i>\u2018Bali Swing\u2019 <\/i><\/em>di\u00a0sana, sekarang sudah ada banyak\u00a0sehingga daerah tersebut kehilangan keautentikannya.<\/p>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mengapa-sawah-hilang\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Mengapa Sawah \u2018Hilang\u2019? Apa Penyebabnya?<\/strong><\/a><\/p>\n<h2>Pengembangan Hotel Lebih Masif<\/h2>\n<p>Dengan pengembangan pariwisata,\u00a0khususnya agrowisata, diharapkan masyarakat lebih berperan aktif agar\u00a0mereka juga ikut menikmati\u00a0keuntungan dari pariwisata tersebut.<\/p>\n<p>Namun,\u00a0sangat sulit untuk melibatkan masyarakat dengan cara mengubah rumah mereka menjadi <em><i>\u2018guest house\u2019<\/i><\/em>\u00a0sehingga kebanyakan tamu menginap di hotel. Jika banyak wisatawan yang menginap di rumah-rumah warga yang dijadikan <em><i>\u2018guest house\u2019<\/i><\/em><em><i>,<\/i><\/em>\u00a0tentunya akan membantu meningkatkan pendapatan mereka. Nyatanya, hal tersebut masih sulit dilakukan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1078\" aria-describedby=\"caption-attachment-1078\" style=\"width: 783px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-1078\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Pembangunan-hotel-di-Bali.jpg\" alt=\"Pembangunan Hotel di Bali\" width=\"783\" height=\"391\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1078\" class=\"wp-caption-text\"><em>Pembangunan Hotel di Bali | Sumber: beritabali.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/penyebab-lahan-pertanian-kritis\/\" rel=\"bookmark\"><strong>6 Penyebab Lahan Pertanian di Indonesia Semakin Kritis<\/strong><\/a><\/p>\n<h2>Produksi Wine Indonesia<\/h2>\n<p>Berasal dari negeri Eiffel,\u00a0tentu Xavier sudah sangat familiar dengan wine. Di Indonesia sendiri, pasar wine masih didominasi oleh wine impor.<\/p>\n<p>Hal yang bagus memang jika kita berusaha mengembangkan wine sendiri. Bahkan,\u00a0saat ini,\u00a0wine Indonesia produksi Bali sudah diekspor ke Australia dan tidak kalah dengan wine buatan Perancis dan Italia.<\/p>\n<p>Namun,\u00a0Xavier juga berharap bahwa masyarakat Indonesia tidak hanya fokus memberikan wisatawan asing hal-hal yang bisa mereka dapatkan di negerinya melainkan seharusnya lebih memperkenalkan kuliner atau minuman lokal seperti jamu.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Kesimpulannya adalah sektor pariwisata memang mungkin lebih berpotensi untuk menghasilkan banyak uang termasuk mendatangkan devisa negara.\u00a0Menurut Xavier, jika memang Indonesia ingin mengembangkan agrowisata, harus lebih mempedulikan kesejahteraan masyarakatnya terlebih dahulu karena kita sudah terlalu banyak berkorban untuk turis.<\/p>\n<p>Di Bali,\u00a0misalkan, banyak air dari sumber yang langsung dialirkan dengan pipa ke kawasan pariwisata sehingga hal tersebut merugikan warga karena mereka mengalami kekeringan saat kemarau tiba.<\/p>\n<p>Indonesia juga memiliki kendala pembuangan limbah. Dengan semakin banyaknya hotel, semakin besar masalah limbah yang harus ditangani.<\/p>\n<p>Selain itu, hotel dan restoran\u00a0harusnya lebih melibatkan petani sebagai suppliernya.<\/p>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/isu-pertanian-indonesia-gadis-jerman\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Pandangan Seorang Gadis Jerman Terhadap Isu Pertanian Indonesia<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Gambar utama: Malini Agro Park Bali (phinemo.com)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis:\u00a0<strong>Nevy Widya Pangestika<em><br \/>\n<\/em><\/strong><em>Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana<\/em><\/p>\n<hr \/>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia, negeri dengan keindahan alam yang sangat menawan, menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata internasional. Hampir semua pemandangan alam seperti gunung, laut, danau, dan hutan\u00a0dapat ditemui di Indonesia. Selain itu,&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":1079,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[19],"tags":[201],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Malini-Agro-Park-Bali-Agrowisata-di-Bali.jpg","author_info":{"display_name":"Nevy Widya Pangestika","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/nevy-widya-pangestika\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1075"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1075"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1075\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1083,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1075\/revisions\/1083"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1079"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1075"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1075"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1075"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}