{"id":1116,"date":"2021-02-09T06:01:34","date_gmt":"2021-02-08T23:01:34","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=1116"},"modified":"2021-02-09T06:18:36","modified_gmt":"2021-02-08T23:18:36","slug":"kebun-kumara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/kebun-kumara\/","title":{"rendered":"Kebun Kumara, Agrowisata yang Menarik Kaum Muda untuk Bertani"},"content":{"rendered":"<p>Di Indonesia, memang sudah banyak generasi muda yang berkutat di dunia pertanian karena adanya kesadaran mereka akan pentingnya mengembangkan pertanian di Indonesia. Namun, jumlah mereka yang tertarik dengan dunia pertanian masih\u00a0sedikit\u00a0jika dibandingkan dengan jumlah generasi muda (usia produktif) di Indonesia serta julukan Indonesia sebagai negara agraris.<\/p>\n<p>Selain masalah ketertarikan, luas lahan juga sering dianggap sebagai masalah besar dalam pertanian, terutama di wilayah perkotaan. Kebun Kumara, sebuah tempat agro-wisata di pinggiran Kota Jakarta Selatan, menjadi bukti bahwa bertani di wilayah perkotaan adalah hal yang sangat mungkin dilakukan. Ini terbukti dari luas Kebun Kumara yang hanya seluas 1,5 hektar tapi memberikan\u00a0banyak manfaat bagi banyak orang.<\/p>\n<p>Kebun Kumara didirikan oleh Soraya Cassandra, akrab dipanggil Sandra, seorang perempuan lulusan Psikologi Universitas Indonesia dan University of Queensland. Meskipun pertanian bukanlah jurusannya sejak awal, namun minatnya untuk mengembangkan dunia pertanian Indonesia membawanya bersama suami, adik, dan suami adiknya untuk mendirikan Kebun Kumara pada Juli 2016.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1118\" aria-describedby=\"caption-attachment-1118\" style=\"width: 1280px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-1118\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Soraya-Cassandra-dan-suaminya-sebagai-pemiliki-Kebun-Kumara.jpg\" alt=\"Soraya Cassandra dan suaminya sebagai pemiliki Kebun Kumara\" width=\"1280\" height=\"853\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1118\" class=\"wp-caption-text\"><em>Soraya Cassandra dan suaminya | Sumber: petanimuda.org<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/ketahui-5-keuntungan-berkebun-di-rumah\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Ketahui 5 Keuntungan Berkebun Di Rumah<\/strong><\/a><\/p>\n<p>Kata \u201cKumara\u201d sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti \u201cgenerasi yang akan datang\u201d. Awalnya, pendirian Kebun Kumara memang didasari oleh keresahan Sandra terhadap minimnya minat generasi muda di Indonesia untuk bertani. Harapannya, Kebun Kumara dapat dijadikan sebagai wadah bagi generasi muda untuk memahami pentingnya bercocok tanam.\u00a0 Sandra\u00a0juga menemukan masalah lain, yaitu sempitnya lahan pertanian di daerah perkotaan dan banyaknya masalah sampah, baik organik maupun non-organik,\u00a0yang tidak kunjung usai.<\/p>\n<p>Saat ini, Kebun Kumara banyak dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai kalangan usia. Berbagai pelajaran bisa didapatkan dengan membayar tiket sebesar Rp 45.000,-.<\/p>\n<p>Di Kebun Kumara, semua pengunjung diajak untuk bercocok tanam dengan mengutamakan prinsip permakultur, yaitu menanam dan mengondisikan kebun sebagaimana alam bekerja. Jadi, pengunjung tidak hanya sekedar menanam, tetapi juga memahami prinsip bagaimana tanaman itu bisa tumbuh dan berkembang. Kegiatan bercocok tanam di Kebun Kumara juga dilakukan dengan berbagai cara yang menghemat lahan. Contohnya,\u00a0menanam tanaman di pot atau menaruh benih di media cangkang telur.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1119\" aria-describedby=\"caption-attachment-1119\" style=\"width: 1080px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-1119\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Pengunjung-Kebun-Kumara-sedang-bercocok-tanam.jpg\" alt=\"Pengunjung Kebun Kumara sedang bercocok tanam\" width=\"1080\" height=\"720\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1119\" class=\"wp-caption-text\"><em>Pengunjung Kebun Kumara sedang bercocok tanam | Sumber: Instagram @kebunkumara<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Selain belajar tentang cara bercocok tanam, Sandra dan ketiga <em><i>founder <\/i><\/em>Kebun Kumara\u00a0\u2014beserta beberapa relawan dan pekerja lain \u2014\u00a0juga mengajarkan pengunjung bagaimana cara membuat pupuk organik. Pertama-tama, pengunjung akan diminta untuk memilah antara sampah organik dan non-organik. Kemudian, sampah organik dikumpulkan di suatu wadah, ditutupi, dan dibiarkan hingga\u00a0membusuk.<\/p>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/bahaya-pupuk-kimia\/\" rel=\"bookmark\"><strong>5 Dampak Berbahaya, Stop \u2018Kecanduan\u2019 Pupuk Kimia!<\/strong><\/a><\/p>\n<p>Pengunjung akan mempelajari hal-hal yang berkaitan tentang durasi sampah organik hingga membusuk dan dapat digunakan sebagai pupuk alami. Mereka juga akan belajar tentang pengaturan cahaya dan kelembaban udara di wadah sampah organik agar mikroorganisme dapat berkembangbiak\u00a0dengan baik.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1120\" aria-describedby=\"caption-attachment-1120\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1120 size-full\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Pembuatan-Ecobricks-di-Kebun-Kumara.jpg\" alt=\"Pembuatan Ecobricks di Kebun Kumara\" width=\"640\" height=\"480\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1120\" class=\"wp-caption-text\"><em>Pembuatan Ecobricks | Sumber: Instagram @kebunkumara<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Selain berkaitan dengan pertanian, hal lain yang dapat dipelajari di Kebun Kumara adalah membuat <em><i>ecobricks<\/i><\/em>. Pengunjung akan mengisi botol bekas dengan sampah-sampah plastik hingga ruang di dalam botol tersebut tidak tersisa sedikit pun. Nantinya, <em><i>ecobricks<\/i><\/em>\u00a0ini dapat digunakan sebagai pengganti material bangunan sederhana seperti batu bata.<\/p>\n<p>Kisah Sandra membuktikan bahwa siapa pun bisa sukses dengan bertani (dalam hal ini, bercocok tanam), tidak peduli latar belakang pendidikannya apa, yang terpenting adalah kemauan.<\/p>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/pondok-tani-denpasar\/\" rel=\"bookmark\"><strong>2 Mahasiswi Denpasar Sukses Membangun Pondok Tani<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Sumber gambar utama: Instagram <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/kebunkumara\/\">@kebunkumara<\/a><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Penulis:\u00a0<a href=\"http:\/\/geniuslector.com\/\"><strong>Hutri Cika Berutu<\/strong><\/a>\u00a0<\/em><\/p>\n<hr \/>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Indonesia, memang sudah banyak generasi muda yang berkutat di dunia pertanian karena adanya kesadaran mereka akan pentingnya mengembangkan pertanian di Indonesia. Namun, jumlah mereka yang tertarik dengan dunia pertanian&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1121,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[70,841],"tags":[201,16,80],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Kebun-Kumara.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1116"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1116"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1116\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1122,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1116\/revisions\/1122"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1121"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1116"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1116"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1116"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}