{"id":11646,"date":"2024-10-13T01:42:10","date_gmt":"2024-10-12T18:42:10","guid":{"rendered":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=11646"},"modified":"2024-10-13T07:33:03","modified_gmt":"2024-10-13T00:33:03","slug":"panduan-cara-menanam-jahe-di-lahan-pekarangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/panduan-cara-menanam-jahe-di-lahan-pekarangan\/","title":{"rendered":"Panduan Cara Menanam Jahe di Lahan Pekarangan"},"content":{"rendered":"<p>Bagaimana cara menanam jahe di lahan pekarangan rumah yang luas? Berikut tips dari Pak Tani Digital!<\/p>\n<h2>Cara Menanam Jahe<\/h2>\n<h4><span style=\"color: #008000;\">Tanaman Herbal<\/span><\/h4>\n<p>Jahe merupakan tanaman berbatang semu dengan nama ilmiah <em>Zingiber<\/em> <em>officinale<\/em> yang termasuk dalam suku temu-temuan (<em>Zingiberaceae<\/em>). Sudah menjadi rahasia umum bahwa jahe merupakan tanaman herbal yang dimanfaatkan sebagai obat atau minuman, selain itu jahe juga digunakan sebagai bumbu. Bagian tanaman jahe yang digunakan adalah rimpangnya. Rimpang jahe beruas-ruas dan pedas.\u00a0 Tidak diketahui dengan jelas asal-usul tanaman jahe ini, ada yang mengatakan jahe berasal dari India, dan sebagian orang mengatakan jahe berasal dari China.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11647\" aria-describedby=\"caption-attachment-11647\" style=\"width: 658px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-11647 size-full\" src=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Jahe1.png\" alt=\"\" width=\"658\" height=\"435\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Jahe1.png 658w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Jahe1-300x198.png 300w\" sizes=\"(max-width: 658px) 100vw, 658px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11647\" class=\"wp-caption-text\"><em>Sumber: HaloDoc<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<blockquote><p>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/panduan-mudah-tanam-jahe-di-dalam-pot\/\">Panduan Mudah Tanam Jahe di dalam Pot<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p>Secara garis beras jahe dibedakan menjadi tiga jenis utama. Jahe dibedakan berdasarkan bentuk rimpang, ukuran rimpang dan warna rimpang. Berikut adalah jenis-jenis jahe yang dikenal di Indonesia :<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Jahe Merah<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Jahe merah memiliki rimpang yang kecil. Karena kandungan minyak atsirinya yang tinggi, jahe merah cocok dimanfaatkan sebagai obat-obatan. Pemanenan jahe merah selalu dilakukan saat jahe berumur cukup tua.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Jahe Emprit\/Jahe Sunti (jahe putih\/kuning kecil)<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Memiliki ukuran rimpang dan ruas-ruas yang kecil, sedikit menggembung dan rata. Jahe ini memiliki kandungan minyak atsiri yang cukup tinggi dan sering dimanfaatkan sebagai obat-obatan.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Jahe Gajah\/Jahe Badak (jahe putih\/kuning besar)<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Jahe ini memiliki rimpang yang besar dan ruas rimpangnya lebih menggembung dibanding dengan dengan jenis lainnya. Jenis jahe ini dapat dipanen atau dimanfaatkan saat berusia muda maupun tua dan dapat dikonsumsi secara segar maupun diolah.<\/p>\n<h4><span style=\"color: #008000;\">Syarat Tumbuh Jahe<\/span><\/h4>\n<p>Tanaman jahe dapat dapat tumbuh di daerah tropis dengan ketinggian 0-1700 mdpl. Jahe tumbuh optimum pada ketinggian 200-600 mdpl dengan curah hujan 2500-4000 mm per tahun dan suhu sedang sampai panas. Sementara untuk tanah yang cocok untuk budidaya jahe adalah tanah yang banyak mengandung bahan organik, subur dan gembur. Jenis tanah yang paling cocok adalah latosol merah coklat, andosol dan terutama lahan hutan yang baru dibuka. pH yang ideal untuk menanam tanaman jahe adalah anatar 6,8-7,0.<\/p>\n<h4><span style=\"color: #008000;\">Membuat Bibit Jahe Sendiri<\/span><\/h4>\n<p>Tanaman jahe diperbanyak secara vegetatif menggunakan rimpang melalui tunas-tunasnya. Berikut adalah tips dalam membuat bibit jahe :<\/p>\n<ol>\n<li>Pilih bibit dari varietas yang akan dibudidayakan.<\/li>\n<li>Pastikan bibit berasal dari tanaman yang sehat dan berasal dari tanaman jahe tua dengan usia 10-12 bulan.<\/li>\n<li>Bibit berasal dari rumpun induk yang pertumbuhannya normal, kekar serta bebas dari hama dan penyakit.<\/li>\n<li>Rimpang jahe yang sehat memiliki ciri-ciri sebagai berikut : rimpang mulus, tidak ada bagian yang busuk, berwarna mengkilat dan bebas penyakit.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><span style=\"color: #008000;\">Penunasan Jahe<\/span><\/h4>\n<p>Sebaiknya, rimpang jahe ditunaskan 1-,15 sebelumnya. Setelah tunas tumbuh, rimpang jahe kemudian dapat ditanam di lahan. Berikut adalah cara penunasan rimpang jahe menggunakan peti kayu :<\/p>\n<ol>\n<li>Setelah panen, rimpang yang akan digunakan sebagai bibit dijemur namun tidak sampai kering. Kemudian disimpan selama 1-1,5 bulan.<\/li>\n<li>Kemudian, potong rimpang menggunakan pisau yang bersih dan steril, dengan setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas. Kemudian jemur lagi selama kuranng lebih 8 jam.<\/li>\n<li>Celupkan bibit pada cairan bakterisida untuk mencegah bakteri dengan dosis 3 gram bakterisida untuk 10 liter air.<\/li>\n<li>Kemudian tiriskan bibit dan jemur.<\/li>\n<li>Siapkan abu gosok atau sekam padi dan kotak kayu.<\/li>\n<li>Bagian bawah kota dilapisi dengan sekam atau abu gosok, kemudian letakkan bibit satu lapis diatasnya. Taburi lagi abus gosok atau sekam dan diletakkan bibtit lagi di atasnya. Demikian seterusnya dan ditabuti\/ditutup dengan abu gosok atau sekam di paling atas.<\/li>\n<li>Simpan bibit di tempat kering dan teduh.<\/li>\n<li>Umumnya bibit akan tumbuh pada usia 2-4 minggu dan bibit siap ditanam dilahan.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><span style=\"color: #008000;\">Persiapan dan Pengolahan Lahan<\/span><\/h4>\n<p>Untuk persiapan lahan budidaya jahe, persiapan dilakukan satu bulan sebelum penanaman. Persiapan lahan ini meliputi pembersihan lahan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya dan gulma. Lahan dibajak kasar dengan kedalaman 25-30 cm, dan lahan dibiarkan selama satu minggu untuk penjemuran. Lalu dibuat bedengan dengan lebar 80-120 cm dan tinggi 20-30 cm serta panjang bedengan disesuaikan dengan keadaan lahan.<\/p>\n<h4><span style=\"color: #008000;\">Dosis dan Jenis Pupuk Dasar Tanaman Jahe<\/span><\/h4>\n<ol>\n<li>Dolomit diberikan setelah pembajakan kasar, pengaplikasian dolomit bertujuan untuk menyeimbangkan pH tanah.<\/li>\n<li>Pupuk kandang atau kompos yang diaplikasikan bersamaan dengan pembuatan bedengan.<\/li>\n<li>Pupuk TSP\/SP36, Urea dan KCl diberikan bersamaan saat penaburan pupuk kandang.<\/li>\n<li>Setelah tanaman ditanam selama 6-8 minggu, diberikan pupuk susulan TSP dan Kcl dengan dosis masing-masing 125 kg per hektar dan diaplikasikan dengan ditaburkan di sekitar tanaman.<\/li>\n<li>Dosis per hektar : pupuk kandang 20-30 ton, urea 200 kg, TSP\/SP36 300 kg, dan KCl 300 kg. Dosis ini juga harus disesuaikan dengan kondisi tanah.<\/li>\n<\/ol>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-11648\" src=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Jahe2.png\" alt=\"\" width=\"647\" height=\"372\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Jahe2.png 647w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Jahe2-300x172.png 300w\" sizes=\"(max-width: 647px) 100vw, 647px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">(sumber : panenjahe.com)<\/p>\n<blockquote><p>Baca juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/5-tips-budidaya-jahe-merah-bagi-pemula\/\">5 Tips Budidaya Jahe Merah Bagi Pemula<\/a><\/p><\/blockquote>\n<h4><span style=\"color: #008000;\">Pemeliharaan Tanaman Jahe<\/span><\/h4>\n<ol>\n<li>Penyulaman dilakukan saat terdapat bibit yang mati atau tidak tumbuh dengan sempurna.<\/li>\n<li>Penyiangan untuk membersihkan guma.<\/li>\n<li>Pendangiran dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan.<\/li>\n<li>Monitoring untuk mengamati jika tanaman jahe terserang hama atau penyakit.<\/li>\n<li>Pencegahan hama dan penyakit dilakukan berdasarkan pengendalian hama terpadu mulai dari pemilihan bibit unggul, pengendalian mekanik dan pemberian pestisida jika diperlukan.<\/li>\n<li>Tanaman jahe dipanen saat berumur 10-12 bulan setelah tanam. Pemanenan dilakukan dengan menggali rimpang jahe dengan cangkul atau garpu secara hati-hati. Kemudian ersihkan tanah yang menempel dan kemas dalam karung goni atau kotak. Lakukan juga grading dan penyortiran.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Demikian panduan cara menanam jahe di lahan yang luas. Selamat mencoba!<\/p>\n<hr \/>\n<p>Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di\u00a0<strong><\/strong>.<\/p>\n<p>Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagaimana cara menanam jahe di lahan pekarangan rumah yang luas? Berikut tips dari Pak Tani Digital! Cara Menanam Jahe Tanaman Herbal Jahe merupakan tanaman berbatang semu dengan nama ilmiah Zingiber&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":11653,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[840,2080,2330],"tags":[854,675,735,216,205,80],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/ginger-1738098_1920.jpg","author_info":{"display_name":"Nevy Widya Pangestika","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/nevy-widya-pangestika\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11646"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11646"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11646\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11650,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11646\/revisions\/11650"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11653"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11646"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11646"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11646"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}