{"id":1260,"date":"2024-12-26T02:00:28","date_gmt":"2024-12-25T19:00:28","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=1260"},"modified":"2024-12-26T11:15:36","modified_gmt":"2024-12-26T04:15:36","slug":"kanker-batang-buah-naga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/kanker-batang-buah-naga\/","title":{"rendered":"Kanker Batang, Pengancam Panen Buah Naga dan Cara Mengendalikannya"},"content":{"rendered":"<p>Buah naga merupakan salah satu jenis buah yang saat ini banyak digemari oleh masyarakat. Kebanyakan buah naga dikonsumsi secara segar atau hanya sekedar dibuat menjadi jus buah. Buah yang memiliki nama latin <em><i>Hylocereus<\/i><\/em>\u00a0sp.\u00a0ini memiliki banyak manfaat antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li>Sebagai penyeimbang kadar gula darah,<\/li>\n<li>Membersihkan darah,<\/li>\n<li>Menguatkan daya kerja otak,<\/li>\n<li>Meningkatkan ketajaman mata,<\/li>\n<li>Mengurangi keluhan panas dalam dan sariawan,<\/li>\n<li>serta banyak manfaat lainnya.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Hal tersebut tak lepas dari kandungan gizi dari buah naga yaitu\u00a0air,\u00a0vitamin C, serat, kalsium, zat besi, dan fosfor.<\/p>\n<p>Tanaman buah naga sendiri berasal dari negara Mexico dan baru masuk ke Indonesia pada tahun 2000 yang saat itu diimpor dari Thailand. Tanaman ini dapat dikembangbiakan melalui stek batang dan mulai bisa berbuah setelah mencapai umur 1,5 sampai 2 tahun.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/manfaat-buah-kersen-untuk-kesehatan-beserta-cara-mengolah-dan-memasarkannya\/\" rel=\"bookmark\">Manfaat Buah Kersen untuk Kesehatan Beserta Cara Mengolahny<\/a><\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-1263\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/Buah-Naga.jpg\" alt=\"Buah Naga\" width=\"1280\" height=\"720\" \/><\/p>\n<p>Mengingat jumlah permintaan buah naga yang semakin meningkat, tentu sekarang banyak perkebunan\u00a0yang membudidayakan tanaman buah naga. Tak jarang ada juga perkebunan yang membuka perkebunan buah naga untuk menjadi agrowisata petik buah. Tentu hal ini menjadi suatu keuntungan tersendiri dari usaha budidaya tanaman buah naga.<\/p>\n<p>Namun, sama seperti budidaya tanaman lain, pembudidayaan tanaman <em><i>Hylocereus<\/i><\/em>\u00a0sp atau buah naga juga banyak memiliki kendala. Salah satunya adalah\u00a0serangan hama dan penyakit. Hama yang paling sering menyerang tanaman buah naga adalah kutu, tungau hingga bekicot.<\/p>\n<p>Tapi,\u00a0penyakit yang paling mengancam tanaman buah naga bahkan dapat menyebabkan gagal panen adalah adanya penyerangan oleh cendawan dan bakteri yang dapat menyebabkan busuk pada batang. Salah satu cendawan yang sulit dikendalikan dalam budidaya tanaman buah naga adalah serangan cendawan <em><i>Colletotrichum Gloeosporioide<\/i><\/em>\u00a0yang dapat menyebabkan bercak pada batang tanaman buah naga.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-mengatasi-penyakit-bulai-pada-jagung\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Cara Mengatasi Penyakit Bulai pada Jagung<\/strong><\/a><\/p>\n<figure id=\"attachment_1261\" aria-describedby=\"caption-attachment-1261\" style=\"width: 453px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1261 size-full\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/Penyakit-kanker-batang-pada-tanaman-buah-naga.png\" alt=\"Penyakit kanker batang pada tanaman buah naga\" width=\"453\" height=\"343\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1261\" class=\"wp-caption-text\"><em>Sumber: ruangtani.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Penyakit yang disebabkan oleh cendawan ini sering disebut juga dengan penyakit kanker batang atau kudis atau karat. Penyakit ini susah\u00a0dikendalikan karena mudah menular. Umumnya,\u00a0penyakit kanker batang menyerang pada bagian tunas batang dengan gejala awal berupa bintik putih dan cekung kemudian menyebar hingga ke pangkal batang dan seluruh batang tanaman dengan warna kuning sampai coklat. Lama kelamaan batang yang terserang akan berwarna hitam, keras, kering, dan akhirnya mati.<\/p>\n<p>Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah pada tahun 2016 lalu, di sentral\u00a0buah naga di Jawa Barat dan Jawa Timur, dimana tanaman terserang hingga 50% dan ini menyebabkan petani gagal panen.<\/p>\n<h2>Cara Mengendalikan Kanker Batang<\/h2>\n<p>Pengendalian kanker batang dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida. Fungisida yang dapat digunakan adalah bubur bordo (BB). Bubur bordo dapat dibuat sendiri oleh para petani dengan langkah-langkah berikut ini:<\/p>\n<ol>\n<li>Mencampurkan tumbukan terusi, kapur, dan air dengan perbandingan 1:1:100,<\/li>\n<li>Diaduk sampai\u00a0rata kemudian disaring,<\/li>\n<li>Disemprotkan ke seluruh tanaman.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Selain itu, penggunaan bubur bordo juga dapat dikombinasikan dengan minyak sereh wangi atau <em><i>Cymbopogon nardus <\/i><\/em>dengan konsentrasi 2 ml per liter air (Dra. Jumjunidang M. Si. dan Ir. Irawan Muas M P., dalam Majalah Trubus, 2017).<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cerita-petani-muda-buah-naga\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Cerita Petani Muda Buah Naga<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis: <strong>Dino Laferda<\/strong><br \/>\n<em>Mahasiswa Universitas Muria Kudus<\/em><\/p>\n<hr class=\"wp-block-separator\" \/>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di\u00a0<strong><\/strong>.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Buah naga merupakan salah satu jenis buah yang saat ini banyak digemari oleh masyarakat. Kebanyakan buah naga dikonsumsi secara segar atau hanya sekedar dibuat menjadi jus buah. Buah yang memiliki&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1266,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[846],"tags":[121,220],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/Tanaman-Buah-Naga.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1260"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1260"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1260\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4190,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1260\/revisions\/4190"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}