{"id":14955,"date":"2026-03-10T01:52:28","date_gmt":"2026-03-09T18:52:28","guid":{"rendered":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=14955"},"modified":"2026-03-11T10:51:53","modified_gmt":"2026-03-11T03:51:53","slug":"cara-penanganan-pasca-panen-pisang-yang-baik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-penanganan-pasca-panen-pisang-yang-baik\/","title":{"rendered":"Cara Penanganan Pasca Panen Pisang yang Baik"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pisang merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak kita jumpai di pasar ataupun supermarket. Olahan pisang pun bermacam-macam, mulai dari keripik, sale, jus, bahkan hingga kue pisang pun ada.\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Namun sayangnya buah pisang ini tidak terlalu awet, makanya sering kita jumpai pisang-pisang yang secara visual kurang menarik, kulitnya kehitaman dan bintik-bintik kecoklatan atau terlihat seperti tergores. Hal ini dikarenakan buah pisang masih melakukan respirasi meskipun sudah dipanen.\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ini mengakibatkan nilai jual pisang yang turun, padahal kondisi ini dapat dicegah dengan penanganan pasca panen yang baik. <\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\" wp-image-14956 aligncenter\" src=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/WhatsApp-Image-2023-04-05-at-17.47.54-300x199.jpeg\" alt=\"\" width=\"460\" height=\"305\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/WhatsApp-Image-2023-04-05-at-17.47.54-300x199.jpeg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/WhatsApp-Image-2023-04-05-at-17.47.54.jpeg 680w\" sizes=\"(max-width: 460px) 100vw, 460px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Kuliner Kota<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penanganan pascapanen merupakan rangkaian proses yang dari pemanenan sampai tahap siap dipasarkan. Berikut adalah proses pasca panen pisang yang baik untuk menghindari kerusakan semaksimal mungkin:<\/span><\/p>\n<p><b>Sorting dan Grading<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum kegiatan penyortiran dilakukan, sebaiknya tandanan pisang disisir terlebih dahulu dengan pisau yang tajam. Penyisiran harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak buah. Selanjutnya buah disortir dengan tujuan untuk memisahkan dan memilih buah pisang yang kurang baik atau yang sudah rusak.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara grading adalah pengelompokan buah pisang yang sudah disortir ke beberapa kelas. Misalkan kelas A, B, dan seterusnya. Biasanya grading dilihat berdasarkan ukuran buah yang, warna, cacat pada buah, tingkat kematangan dan jenis pisang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah di sortir dan grading, buah dibersihkan dari debu dan disemprot fungisida untuk menghindari jamur dan penyakit yang mungkin muncul selama penyimpanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Pemeraman<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buah pisang bisa matang dalam waktu yang relatif pendek dan bersamaan dengan pemeraman, sekitar 2-4 hari tergantung dengan jenis peram yang digunakan. Terdapat beberapa cara pemeraman buah pisang sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Pemeraman dengan Karbit<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karbit memiliki fungsi untuk mempercepat kematangan buah. Cara menggunakan karbit untuk pemeraman yaitu dengan menyusun buah dalam satu wadah yang masih berupa tandan atau sudah disisir. Setiap sudut wadah diberikan karbit yang dibungkus kertas. Selanjutnya, susunan buah ini ditutup dengan plastik atau karung goni selama 2 hari. Setelah penutup dibuka, buah bisa diangin-anginkan. Karbit sebanyak 1 kg dapat memeram 1 ton pisang.\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Pemeraman dengan Menggunakan Tempayan Tanah Liat<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan cara ini buah pisang bisa matang dalam 2-3 hari. Caranya adalah dengan menyusun buah pisang pada tempayan tanah liat yang ditutup wajan besar dan diberi perekat dari tanah liat hingga udara tidak dapat keluar masuk dengan bebas. Kemudian dilakukan pengasapan atau pembakaran secukupnya agar udara dalam tempayan menjadi panas.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Pemeraman dengan Dedaunan<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dedaunan yang biasa digunakan untuk pemeraman pisang adalah daun gamal, mindi, dan daun pisang. Dengan cara ini, pisang akan matang dalam 3-4 hari. Caranya adalah dengan memasukkan buah pisang yang akan diperam ke dalam wadah yang sudah diberi alas daun. Selanjutnya, bagian atas ditutup dengan daun sekitar seperlima berat pisang yang akan diperam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\" wp-image-14957 aligncenter\" src=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/WhatsApp-Image-2023-04-05-at-17.49.45-300x193.jpeg\" alt=\"\" width=\"394\" height=\"254\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/WhatsApp-Image-2023-04-05-at-17.49.45-300x193.jpeg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/WhatsApp-Image-2023-04-05-at-17.49.45.jpeg 604w\" sizes=\"(max-width: 394px) 100vw, 394px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Trik Merawat<\/p>\n<p><b>Penyimpanan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyimpanan buah pisang bertujuan untuk menghambat proses enzimatis serta menghambat terjadinya respirasi dan transpirasi. Dengan demikian, kualitas buah pisang akan lebih tahan lama dan kualitasnya terjaga. Penyimpanan juga bertujuan untuk menghambat proses kerusakan yang terjadi karena proses pemasaran yang cukup lama. Metode-metode yang dapat dilakukan antara lain:\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Penggunaan Lapisan Lilin<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyimpanan menggunakan lapisan lilin bertujuan untuk menutupi pori-pori kulit buah sehingga bisa menghambat proses respirasi dan transpirasi pada buah.\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Suhu Rendah<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyimpanan buah pisang di suhu rendah dapat dilakukan di ruangan dengan suhu di atas titik beku sehingga buah pisang berada di kelembaban tinggi tapi tidak sampai membeku. Suhu yang rendah dapat menghambat berbagai proses respirasi dan transpirasi, perubahan warna, kelayuan dan kelayuan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Pengemasan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan pengemasan adalah melindungi pisang dari kerusakan mekanik yang mungkin terjadi selama proses pengangkutan seperti himpitan, gesekan, dan saat bongkar muat, sehingga pengemasan harus dilakukan dengan baik dan benar.\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Alat pengemasan juga diusahakan aman dan tidak merusak pisang, hindari permukaan peti kemas yang tidak rata, papan kayu pecah, peti menonjol, dan sebagainya.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, hal yang perlu diperhatikan adalah kapasitas alat kemas serta cara penyusunan buah pisang. Kapasitas peti kemas juga harus disesuaikan dengan jarak tempuhnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, demikianlah pembahasan mengenai cara penanganan pasca panen pisang yang baik. Semoga informasi ini bermanfaat.\u00a0<\/span><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pisang merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak kita jumpai di pasar ataupun supermarket. Olahan pisang pun bermacam-macam, mulai dari keripik, sale, jus, bahkan hingga kue pisang pun ada.\u00a0 Namun&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14958,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[1410,1345,840,70,1420,1387,1],"tags":[52,6],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Untitled-design-2023-04-05T175133.473.png","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14955"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14955"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14955\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14959,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14955\/revisions\/14959"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14958"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}