{"id":14976,"date":"2023-04-11T14:59:42","date_gmt":"2023-04-11T07:59:42","guid":{"rendered":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=14976"},"modified":"2023-04-11T14:59:42","modified_gmt":"2023-04-11T07:59:42","slug":"mengenal-metode-pengomposan-lasagna","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mengenal-metode-pengomposan-lasagna\/","title":{"rendered":"Mengenal Metode Pengomposan Lasagna"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kompos merupakan salah satu bagian dari dunia pertanian yang sudah sangat dikenal meskipun oleh orang awam. Seperti yang kita tahu bahwa kompos adalah hasil penguraian parsial\/tidak lengkap dari campuran bahan organik yang dipercepat secara artifisial dengan berbagai mikroba dalam kondisi yang hangat, lembab, dan aerobik atau non aerobik. Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami proses penguraian secara biologis khususnya oleh mikroba-mikroba yang mendapatkan energi dari bahan-bahan organik.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-14978 size-full\" src=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Berkebun-Dengan-Metode-Lasagna-1.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"426\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Berkebun-Dengan-Metode-Lasagna-1.jpg 640w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Berkebun-Dengan-Metode-Lasagna-1-300x200.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Sumber gambar: Sumber gambar: Femme.id<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun sayangnya tidak banyak orang yang benar-benar memahami bagaimana cara-cara membuat kompos. Aturan dasar kompos adalah membutuhkan nitrogen dan karbon sebagai bahan organik. Saat cacing dan bakteri aerobik mulai bekerja pada bahan-bahan organik tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai salah satu metode membuat kompos yang disebut lasagna. Metode ini disebut lasagne karena menggunakan teknik pembuatan yang berlapis-lapis. Pengomposan metode lasagna ini cukup mudah, susun lapisan bahan kering yang kaya karbon dengan bahan hijau yang kayu nitrogen, lau ditimpa lagi dengan bahan kering dan begitu seterusnya sampai berlapis-lapis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika sobat PTD melihat tutorial pengomposan, biasanya menggunakan papan kayu sebagai dinding tempat pengomposan. Namun jika harga papan kayu dirasa terlalu mahal untuk dijadikan sebagai dinding tempat pengomposan, sobat PTD bisa menggunakan bambu. Namun kekurangannya adalah bambo akan melapuk lebih cepat.\u00a0 Untuk lebih detailnya bagaimana cara pengomposan lasagna, simak penjelasan berikut ini:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Siapkan tempat pengomposan, bisa menggunakan papan kayu atau bambu seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya,<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah tempat pengomposan selesai, letakkan ranting kering di bagian dasar wadah. Tujuan meletakkan ranting di dasar pengomposan ini adalah untuk memberikan air pocket atau kantong udara untuk menambah suplai oksigen pada proses pengomposan. Selain itu ranting ini juga berfungsi sebagai sumber karbon.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian sobat PTD bisa langsung menumpuk dengan bahan karbon dan bahan nitrogen lainnya. Untuk mempermudah, lapisannya akan berwarna hijau-coklat-hijau seterusnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bahan karbon (coklat) bisa berasal dari kayu, ranting, daun kering. Sementara bahan nitrogen (hijau) bisa berasal dari daun atau gulma. Karena gulma merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman, selain membantu tanaman utama tumbuh baik dengan membasmi gulma, sobat PTD bisa memanfaatkan gulma tersebut sebagai bahan kompos yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk memupuk tanaman utama.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak perlu terlalu memampatkan antara tumpukan dan biarkan saja memiliki ruang udara. Dengan tekanan massa dari atas dan melapukanya dedaunan, nantinya tumpukan akan mengempes dengan sendirinya.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-14979 size-full\" src=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/compost-heap-24-maret-2012-1.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"450\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/compost-heap-24-maret-2012-1.jpg 600w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/compost-heap-24-maret-2012-1-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Sumber gambar: https:\/\/petanideskot.wordpress.com\/<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mudah bukan sobat PTD? Apakah semakin tertarik untuk memulainya?<\/span><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kompos merupakan salah satu bagian dari dunia pertanian yang sudah sangat dikenal meskipun oleh orang awam. Seperti yang kita tahu bahwa kompos adalah hasil penguraian parsial\/tidak lengkap dari campuran bahan&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14980,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[840,1420],"tags":[],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Untitled-design-2023-04-11T155657.179.png","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14976"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14976"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14976\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14981,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14976\/revisions\/14981"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14980"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14976"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14976"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14976"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}