{"id":15026,"date":"2023-05-12T14:12:50","date_gmt":"2023-05-12T07:12:50","guid":{"rendered":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=15026"},"modified":"2023-05-12T14:12:50","modified_gmt":"2023-05-12T07:12:50","slug":"mengenal-jeruk-dekopon-jeruk-manis-tanpa-biji-asal-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mengenal-jeruk-dekopon-jeruk-manis-tanpa-biji-asal-jepang\/","title":{"rendered":"Mengenal Jeruk Dekopon, Jeruk Manis tanpa Biji Asal Jepang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, di Jepang buah-buahan bisa menjadi sangat menarik karena dedikasi para petaninya untuk mengembangkan berbagai jenis buah dengan kualitas unggul. Kali ini kita akan membahas salah satu varietas jeruk asal Jepang bernama jeruk dekopon. Jeruk ini memiliki warna oranye menyala, buahnya tidak berbiji, rasanya manis\u00a0 dan ukurannya besar bahkan bisa mencapai 1 kg per buah.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-15027  aligncenter\" src=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-3-1024x769.jpg\" alt=\"\" width=\"558\" height=\"419\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-3-1024x769.jpg 1024w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-3-300x225.jpg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-3-768x576.jpg 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-3-1536x1153.jpg 1536w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-3.jpg 1920w\" sizes=\"(max-width: 558px) 100vw, 558px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Sumber gambar: Time Out<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jepang, jeruk ini dikenal dengan nama dekopon, namun sebenarnya nama ini adalah merek dagang untuk menyebut jeruk yang berasal dari Kumamoto. Jeruk ini mempunyai ciri khas pangkal buahnya yang menyembul seperti pir. Jeruk dekopon merupakan persilangan antara jeruk kiyomi dan jeruk ponkan yang mulai dikembangkan pada tahun 1972-an. Harga jeruk ini cukup tinggi, di Jepang harganya jika dirupiahkan adalah sekitar 90 ribu rupiah.\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, jeruk dekopon sudah diekspor ke berbagai negara. Bahkan terdapat beberapa negara yang sudah bisa membudidayakannya. Di Indonesia, jeruk ini tetap dikenal dengan nama jeruk dekopon, di Korea Selatan buah ini disebut halabong, di Brazil jeruk ini disebut kinsei, sedangkan di Amerika Serikat disebut dengan sumo.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengembangan jeruk dekopon di Indonesia sendiri dimulai pada tahun 2014 di daerah Ciwiday Bandung karena dianggap paling ideal. Produktivitasnya juga lumayan baik, satu pohon jeruk dekopon bisa menghasilkan 15-25 kg dalam semusim panen. Salah satu kelebihan jeruk dekopon yang disukai petani adalah selain buahnya yang besar juga hama yang menyerang masih sedikit dan harganya juga di atas rata-rata dibanding jeruk biasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika sobat PTD ingin menanam jeruk dekopon, terdapat beberapa hal yang harus sobat perhatikan antara lain sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<p><b>Syarat Tumbuh<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jeruk dekopon hanya bisa tumbuh di ketinggian 1000 mpdl, jadi jeruk ini hanya bisa ditanam di dataran tinggi. Jika di pulau Jawa, daerah-daerah ini misalkan di beberapa daerah di Bandung, Bogor dan Malang. Mengenai kebutuhan sinar mataharinya, jeruk dekopon membutuhkan 12 jam sinar matahari. Untuk penyiramannya dilakukan sekali sehari dengan rekomendasi ukuran pot dengan diameter 50 cm. Mengenai penanamannya dilakukan secara vegetatif saja. Jeruk dekopon juga membutuhkan tanah yang subur untuk dapat tumbuh dengan maksimal.<\/span><\/p>\n<p><b>Media dan Sistem Tanam<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya, media tanam untuk menanam jeruk dekopon adalah campuran sekam hitam, pupuk organik, dan tanah yang subur. Perbandingannya adalah sekam 60%, pupuk organik 20%, dan tanah subur 20%. Bibitnya bisa dibeli di toko pertanian, jadi sobat PTD tinggal memindahkan ke pot dan menanamnya. Bisa juga menggunakan okulasi yang ditanam, cangkok atau kultur jaringan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-15029 \" src=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-4-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"677\" height=\"451\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-4-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-4-300x200.jpg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-4-768x512.jpg 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-4-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-4-2048x1365.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 677px) 100vw, 677px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Sumber gambar: Time Out<\/p>\n<p><b>Penanaman di Dataran Rendah<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, jeruk dekopon bisa juga ditanam di dataran rendah dengan ketinggian sekitar 800 mdpl, namun hasilnya tidak akan maksimal. Jika ditanam di daerah dataran rendah, jeruk yang dihasilkan masih akan memiliki rasa yang manis namun ukurannya tidak akan sebesar jika ditanam di dataran rendah. Jadi jika tujuannya untuk berbisnis, lebih baik ditanam di dataran tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, itu tadi sedikit pemaparan mengenai jeruk dekopon, semoga informasi ini bermanfaat.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/alamtani.com\/berita\/jeruk-dekopon-si-manis-tanpa-biji-asal-jepang\/#:~:text=Jeruk%20dekopon%20memiliki%20ciri%20khas,populer%20karena%20bentuk%20dan%20rasanya\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/alamtani.com\/berita\/jeruk-dekopon-si-manis-tanpa-biji-asal-jepang\/#:~:text=Jeruk%20dekopon%20memiliki%20ciri%20khas,populer%20karena%20bentuk%20dan%20rasanya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/bibitonline.com\/artikel\/mengenal-tanaman-buah-jeruk-dekopon\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/bibitonline.com\/artikel\/mengenal-tanaman-buah-jeruk-dekopon<\/span><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, di Jepang buah-buahan bisa menjadi sangat menarik karena dedikasi para petaninya untuk mengembangkan berbagai jenis buah dengan kualitas unggul. Kali ini kita akan membahas&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":15028,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[1345,2370,841],"tags":[],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/Untitled-design-2023-05-12T151039.204.png","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15026"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15026"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15026\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15030,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15026\/revisions\/15030"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15028"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15026"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15026"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15026"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}