{"id":1593,"date":"2023-12-15T01:00:17","date_gmt":"2023-12-14T18:00:17","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=1593"},"modified":"2023-12-15T10:09:06","modified_gmt":"2023-12-15T03:09:06","slug":"mengolah-kotoran-sapi-pupuk-organik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mengolah-kotoran-sapi-pupuk-organik\/","title":{"rendered":"Cara Mengolah Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Organik"},"content":{"rendered":"<p>Pertanian, terlebih peternakan,\u00a0dikenal menyumbangkan emisi gas rumah kaca terbesar bagi lingkungan\u00a0bahkan lebih besar dari emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh transportasi yaitu 13%. Menurut <em><i>Cowspiracy<\/i><\/em><em><i>,<\/i><\/em>\u00a0jumlah emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh peternakan mencapai 51%. Mengapa demikian?<\/p>\n<p>Hal tersebut disebabkan oleh sapi yang merupakan ternak dengan jumlah besar memiliki anatomi khusus. Dalam satu hari, sapi mengeluarkan 800-1000 liter metana. Dan jumlah sapi sangat banyak, diestimasikan 1,5 miliar ekor. Katakanlah terdapat rata-rata 900 liter\/hari\/sapi dikali 1,5 milyar, maka\u00a0jumlah metana yang dihasilkan sangat banyak sekali. Terlebih lagi, anatomi sapi sangat berbeda dengan manusia\u00a0sehingga sapi mencerna makanan dengan cara berbeda pula.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1595\" aria-describedby=\"caption-attachment-1595\" style=\"width: 1105px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-1595\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Emisi-Gas-Rumah-Kaca.jpg\" alt=\"Emisi Gas Rumah Kaca\" width=\"1105\" height=\"625\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1595\" class=\"wp-caption-text\"><em>Sumber: pinterest.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Rumput, jerami, dan makanan lain yang dikonsumsi oleh sapi memiliki selulosa yang sulit dicerna. Untuk dapat mengekstraksi nutrisi dari makanan mereka, sapi memiliki empat kompartemen perut. Kompartemen terbesar pada perut sapi dinamakan rumen\u00a0dimana terdapat banyak mikroorganisme di dalamnya yang membantu memecah materi tanaman menjadi nutrisi yang dapat dicerna hewan ruminansia. Mikroba ini menghasilkan zat sampingan berupa metana.<\/p>\n<p>Metana adalah gas rumah kaca yang memanaskan bumi 20x lebih cepat dibandingkan dengan karbondioksida. Jadi, untuk setiap satu molekul metana, sama dengan 20 molekul karbondioksida. Emisi gas rumah kaca ini menyebabkan pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim\u00a0sehingga banyak orang yang beralih ke gaya hidup vegan untuk keberlanjutan lingkungan.<\/p>\n<p>Selain itu, peternakan juga menghasilkan gas pencemar lainnya, dengan 2\/3 emisi amonia dunia. Amonia adalah salah satu penyebab utama hujan asam. Hujan asam pada gilirannya membahayakan ekosistem dengan mengubah komposisi kimia bumi, perlahan-lahan merusak dan membunuh kehidupan tanaman.<\/p>\n<p>Selain menghasilkan metana dan amonia, kotoran ternak seperti sapi tentunya beraroma tidak sedap. Oleh sebab itu, kotoran sapi sebaiknya dikelola terlebih dahulu dan tidak dibiarkan begitu saja di lingkungan. Pengolahan limbah kotoran sapi dapat dijadikan biogas, biourine,\u00a0dan pupuk organik padat. Namun,\u00a0pada artikel kali ini akan dibahas mengenai cara mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik padat atau biasa disebut dengan kompos.<\/p>\n<p><strong>Baca: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mengolah-kotoran-ternak-biogas\/\"><strong>Cara Mengolah Limbah Kotoran Ternak Menjadi Biogas<\/strong><\/a><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-1596 size-full\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Kotoran-Sapi.jpg\" alt=\"Kotoran Sapi\" width=\"1280\" height=\"856\" \/><\/p>\n<h2>Mengolah Kotoran Sapi menjadi Pupuk Organik Padat (Kompos)<\/h2>\n<p>Pada umumnya, petani menggunakan pupuk kimia untuk mengolah sawahnya\u00a0karena secara ekonomi,\u00a0pupuk kimia lebih terjangkau dibandingkan\u00a0dengan pupuk organik. Selain itu, pupuk organik dibutuhkan lebih banyak dan waktu yang dibutuhkan tanaman untuk menyerap nutrisi dari pupuk organik lebih lama karena tanaman menyerap nutrisi dalam bentuk ion. Pada pupuk kimia,\u00a0nutrisi yang disediakan sudah berbentuk ion\u00a0sedangkan pada pupuk organik,\u00a0perlu adanya dekomposisi sampai terbentuk ion dan dapat diserap oleh tanaman.<\/p>\n<p>Selain itu, kurangnya pemakaian pupuk organik di kalangan petani adalah karena\u00a0minimnya informasi tentang pembuatan pupuk organik\u00a0padahal pupuk organik sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah dan dapat dibuat dengan memanfaatkan kotoran ternak seperti sapi, daripada dibuang begitu saja sebagai limbah dan mengotori lingkungan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-1597\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Mengolah-Kotoran-Sapi-Menjadi-Kompos.jpg\" alt=\"Mengolah Kotoran Sapi Menjadi Kompos\" width=\"1280\" height=\"960\" \/><\/p>\n<p>Bahan yang dibutuhkan adalah kotoran sapi, jerami padi (cacah), EM4, dan terpal atau bahan lain untuk penutup.\u00a0Berikut ini adalah bagaimana cara mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik.<\/p>\n<ol>\n<li>Buat perbandingan antara kotoran sapi dengan jerami padi, idealnya 60:\u00a0 Jadi,\u00a0jika kotoran sapi yang digunakan adalah 60 kg, maka dibutuhkan jerami sebanyak 40 kg.<\/li>\n<li>Sebelumnya, aktifkan EM4 terlebih dahulu dengan larutan gula (3-4 sendok gula untuk 1,5 liter air) lalu tambahkan 2-3 sendok EM4, kocok dan biarkan semalaman.<\/li>\n<li>Campurkan kotoran sapi dengan jerami cacah dan aduk sampai merata, kemudian hamparkan campuran tersebut dan sirami secara perlahan dengan larutan EM4.<\/li>\n<li>Setelah itu, tutup campuran bahan tersebut dengan terpal dan beri beban di sekitar terpal agar tidak mudah terbuka.<\/li>\n<li>Proses pengomposan membutuhkan waktu sekitar 30 hari yang ditandai dengan suhu panas di permukaan bakal kompos. Selama waktu ini, Anda dapat mengaduk-aduk bahannya 3 hari sekali untuk membantu proses aerasi.<\/li>\n<li>Tanda pengomposan sudah selesai adalah saat suhunya tidak tinggi lagi.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Pupuk organik padat dari kotoran sapi siap untuk digunakan!<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/limbah-ternak-sapi-menjadi-biogas-biourine\/\"><strong>Limbah Ternak Sapi Bantu Sejahterakan Petani Bali<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Sumber: myveganexperiment.com, ilmubudidaya.com<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis:\u00a0<strong>Nevy Widya Pangestika<br \/>\n<\/strong><em>Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana<\/em><\/p>\n<hr class=\"wp-block-separator is-style-wide\" \/>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertanian, terlebih peternakan,\u00a0dikenal menyumbangkan emisi gas rumah kaca terbesar bagi lingkungan\u00a0bahkan lebih besar dari emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh transportasi yaitu 13%. Menurut Cowspiracy,\u00a0jumlah emisi gas rumah kaca&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":1594,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[842,847,1],"tags":[289,286,288,287],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Cara-Mengolah-Kotoran-Sapi-Menjadi-Pupuk-Organik.jpg","author_info":{"display_name":"Nevy Widya Pangestika","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/nevy-widya-pangestika\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1593"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1593"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1593\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1598,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1593\/revisions\/1598"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1594"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1593"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1593"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1593"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}