{"id":1871,"date":"2023-01-04T01:00:39","date_gmt":"2023-01-03T18:00:39","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=1871"},"modified":"2023-01-04T08:33:05","modified_gmt":"2023-01-04T01:33:05","slug":"penyakit-hawar-daun-bakteri-solusinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/penyakit-hawar-daun-bakteri-solusinya\/","title":{"rendered":"Kenali Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Padi dan Solusinya"},"content":{"rendered":"<p>Salah satu penyakit yang sering menyerang padi adalah Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB). Penyakit tersebut termasuk ke\u00a0dalam patogen yang menginfeksi tanaman pada semua fase pertumbuhan tanaman padi, mulai dari masa pertumbuhan hingga menjelang masa panen.<\/p>\n<p>Penyakit tersebut sangat merugikan petani\u00a0karena dapat menurunkan hasil panen secara drastis. Bahkan, menurut data Direktorat Perlindungan\u00a0Tanaman,\u00a0petani padi Indonesia mengalami kerugian lebih dari 50% hasil pertanian padi karena lebih dari 37 ribu hektar padi terserang penyakit tersebut.<\/p>\n<p>Pada umumnya,\u00a0penyakit HDB menyerang pada saat musim hujan atau kondisi musim kemarau yang basah (kelembaban tinggi) dan kondisi tanah yang banyak mengandung kandungan zat <em><i>Nitrogen<\/i><\/em>\u00a0yang biasanya digunakan sebagai pupuk tanaman dalam kadar tertentu. Karena pada kondisi tersebut, bakteri <em><i>Xanthomonas campestris pv oryzae <\/i><\/em>(nama bakteri penyebab penyakit HDB) dapat berkembangbiak\u00a0dengan baik.<\/p>\n<p>Cara penyakit HDB menginfeksi tanaman adalah dengan masuk melalui luka daun atau lubang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun. Akibat dari rusaknya klorofil tersebut adalah menurunnya kemampuan tanaman dalam berfotosintetis yang berdampak pada matinya tanaman dan pengisian gabah menjadi tidak sempurna.<\/p>\n<h2>Sejarah Penyebaran Penyakit HDB<\/h2>\n<p>Penyakit Hawar Daun Bakteri pertama kali ditemukan di Pertanian Fukuoka, Jepang pada tahun 1884 dan kemudian menyebar hingga ke\u00a0seluruh wilayah jepang, kecuali Pulau Hokkaido. Untuk penyebaran di Indonesia sendiri,\u00a0dimulai dari Kota Bogor\u00a0dimana penyakit tersebut\u00a0menyebabkan\u00a0tanaman muda di kota itu menjadi layu. Pada tahun 1991, penyakit tersebut ditemukan di\u00a0seluruh benua di dunia\u00a0dan tingkat hasil pertanian menurun secara drastis.<\/p>\n<h2>Gejala dan Dampak yang ditimbulkan<\/h2>\n<figure id=\"attachment_1874\" aria-describedby=\"caption-attachment-1874\" style=\"width: 600px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-1874\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Penyakit-Hawar-Daun-Bakteri-HDB.jpg\" alt=\"Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB)\" width=\"600\" height=\"398\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1874\" class=\"wp-caption-text\"><em>Sumber: maulzxxx.files.wordpress.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Penyakit HDB menimbulkan gejala yang berbeda sesuai dengan usia pertumbuhan padi tersebut. Pada tanaman muda, penyakit HDB akan menimbulkan gejala <em><i>kresek<\/i><\/em>. Gejala tersebut sangat mirip dengan gejala sundep yang disebabkan oleh hama penggerek tanaman dan mengakibatkan tanaman menjadi layu dan mati.<\/p>\n<p>Pada tanaman dewasa, gejala yang ditimbulkan berupa munculnya bercak pada daun yang dimulai dari bagian tepi lalu menyebar ke\u00a0seluruh daun, hingga keseluruhan daun terlihat mengering. Pada tingkat yang lebih parah, batang padi juga akan ikut mengering dan menyebabkan\u00a0kematian tanaman padi secara keseluruhan.<\/p>\n<h2>Pencegahan Penyakit HDB<\/h2>\n<p>Melakukan pencegahan agar padi tidak terserang penyakit HDB adalah langkah yang lebih baik dibandingkan dengan mengobatinya. Untuk mencegah penyakit HDB pada padi, Anda\u00a0perlu melakukan hal-hal berikut ini:<\/p>\n<p><strong>1. Memilih Benih yang sehat<\/strong><\/p>\n<p>Penyakit patogen HDB dapat menular\u00a0melalui benih. Oleh karena itu,\u00a0diperlukan pengawasan dari pihak-pihak terkait agar benih yang tertular tidak tersebar. Pastikan Anda\u00a0tidak membeli bibit padi yang terkena penyakit HDB. Selain memilih benih yang sehat, kamu juga lebih baik membeli benih padi yang memiliki keunggulan terhadap serangan penyakit tanaman.<\/p>\n<p><strong>2. Sistem Irigasi yang baik<\/strong><\/p>\n<p>Patogen HDB sangat mudah berkembang pada kondisi dengan kelembaban tinggi. Oleh karena itu,\u00a0sangat penting untuk mengatur pengairan dengan baik agar menghindari kelebihan air. Sebagai saran, sistem pengairan akan sangat baik dilakukan secara berselang.<\/p>\n<p><strong>3. Pemupukan<\/strong><\/p>\n<p>Pupuk Nitrogen sangat baik buat tumbuh kembang patogen penyebab penyakit HDB. Pengurangan pupuk yang mengandung Nitrogen (N) akan mengurangi resiko padi terserang penyakit HDB. Sebagai gantinya, kamu bisa gunakan pupuk Kalium yang bermanfaat baik buat ketahanan tanaman dari serangan penyakit.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/memupuk-dosis-yang-tepat\/\"><strong>Sudahkah Anda Memupuk dengan Dosis yang Tepat?<\/strong><\/a><\/p>\n<p><strong>4. Sanitasi Lingkungan<\/strong><\/p>\n<p>Patogen dapat bertahan pada inang alternatif dan sisa-sisa tanaman sebelumnya\u00a0sehingga perlu untuk menjaga lingkungan tanam dari sisa-sisa tanaman yang mungkin terinfeksi.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1875\" aria-describedby=\"caption-attachment-1875\" style=\"width: 960px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-1875\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/HDB.jpg\" alt=\"HDB\" width=\"960\" height=\"720\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1875\" class=\"wp-caption-text\"><em>Sumber: kebumenhow.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<h2>Mengatasi tanaman yang terserang penyakit HDB<\/h2>\n<p>Kalau tanaman padi sudah menujukkan gejala-gejala terserang penyakit HDB, maka Anda perlu melakukan hal-hal berikut ini:<\/p>\n<ol>\n<li>Semprotkan bakterisida (anti-bakteri) yang memiliki kandungan tembaga hidoksida selama 2-3 hari berturut-turut<\/li>\n<li>Pada hari ke-4,semprotkan bakterisida sistematik berbahan aktif streptomycin untuk mengobati jaringan tanaman dari dalam<\/li>\n<li>Hentikan penambahan pupuk Nitrogen (N) untuk sementara hingga\u00a0penyakit hawar berhasil dikendalikan<\/li>\n<\/ol>\n<hr \/>\n<p>Nah, itulah langkah-langkah untuk mencegah maupun mengatasi penyakit hawar daun bakteri yang sering menyerang tanaman padi. Dengan mempraktekkan langkah-langkah di atas, tentu penyakit hawar daun bakteri dapat teratasi dengan baik.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/penyakit-tungro-padi-cara-mengatasinya\/\"><strong>Mengenal Penyakit Tungro pada Padi dan Cara Mengatasinya<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Sumber gambar utama: berassawahlega.blogspot.com<\/em><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu penyakit yang sering menyerang padi adalah Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB). Penyakit tersebut termasuk ke\u00a0dalam patogen yang menginfeksi tanaman pada semua fase pertumbuhan tanaman padi, mulai dari masa&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1872,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[846,1],"tags":[387,386,46,58,141,8],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Kenali-Penyakit-Hawar-pada-Padi-dan-Solusinya.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1871"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1871"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1871\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1879,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1871\/revisions\/1879"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1871"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1871"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1871"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}