{"id":1898,"date":"2024-10-09T01:00:25","date_gmt":"2024-10-08T18:00:25","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=1898"},"modified":"2024-10-09T04:35:29","modified_gmt":"2024-10-08T21:35:29","slug":"hama-bawang-putih-cara-mengendalikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/hama-bawang-putih-cara-mengendalikan\/","title":{"rendered":"Ini Dia 5 Hama Bawang Putih dan Cara Mengendalikannya"},"content":{"rendered":"<p>Selain menjadi bahan pokok dalam memasak, bawang putih juga semakin banyak digunakan dalam bidang kesehatan hingga kecantikan. Wajar kalau produk pertanian tersebut memiliki peluang bisnis yang menarik dengan cakupan pasar yang semakin luas dan meningkat.<\/p>\n<p>Akan tetapi, peluang yang tinggi juga biasanya diikuti dengan resiko yang tinggi pula.\u00a0Hal ini disebabkan oleh bawang putih termasuk ke\u00a0dalam tanaman hortikultura yang memiliki banyak \u2018musuh\u2019 berupa hama dan penyakit yang sangat merugikan bagi petani bawang putih.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, jika Anda tertarik menjadi petani bawang putih,\u00a0maka penting untuk memahami dan mempelajari hama dan penyakit yang mungkin menyerang tanaman\u00a0bawang putih. Nah, kalau Anda benar-benar ingin mengetahui hama-hama apa saja yang menyerang bawang putih beserta cara mengendalikannya, silahkan baca artikelnya sampai habis.<\/p>\n<p>Berikut ini adalah hama yang umum menyerang bawang putih beserta cara mengendalikannya:<\/p>\n<h2><span style=\"color: #008000;\">Ulat Grayak <em>(Spodoptera exigua Hubner)<\/em><\/span><\/h2>\n<p>Hama ini menyerang bawang putih pada\u00a0segala umur, memiliki ukuran yang sangat kecil yaitu hanya sepanjang 25 mm, dan memiliki warna hijau atau coklat dengan garis tengah warna kuning. Hama ini menyerang bagian rongga daun tanaman\u00a0sehingga menimbulkan bercak-bercak putih pada daun. Pada kasus yang berat, hama ulat bawang juga mampu memakan umbi bawang putih.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1901\" aria-describedby=\"caption-attachment-1901\" style=\"width: 400px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1901\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Hama-Ulat-Grayak.jpg\" alt=\"Hama Ulat Grayak\" width=\"400\" height=\"380\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1901\" class=\"wp-caption-text\"><em>Sumber: tipspetani.blogspot.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Waktu penyerangan hama ini berkurang pada musim tanam Mei-Juni dan Oktober-November. Hama ini memiliki perkembangbiakan yang sangat tinggi\u00a0dimana seekor betina dewasa ulat bawang bisa menghasilkan telur hingga 1000 butir telur dengan waktu tetas telur hanya 3 hari. Gejala awal serangan yang ditimbulkan oleh ulat bawang ditandai dengan adanya lubang-lubang pada daun.<\/p>\n<p><strong>Cara mengatasi hama ulat grayak adalah dengan memetik daun tempat telur-telur ulat bawang lalu membakarnya. Bisa juga menggunakan insektisida<\/strong> regent, larvin, prevathon, curacron, pegasus, raydent, metindo,\u00a0dan sebagainya dengan dosis yang tepat sesuai dengan banyaknya hama dan kondisi bawang. Penyemprotan pada hama dilakukan pada sore hari\u00a0karena umumnya hama ini menyerang pada malam hari.<\/p>\n<p><strong>Hama tersebut bisa dicegah dengan cara menjaga sanitasi lingkungan tanaman, pengelolaan air dan tanah yang tepat,\u00a0memiliki jarak tanam yang cukup,\u00a0serta menanam tanaman perangkap<\/strong> yang akan mengurangi populasi hama ulat bawang.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mengendalikan-hama-ulat-bawang\/\"><strong>3 Cara Efektif Mengendalikan Hama Ulat Bawang<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><span style=\"color: #008000;\">Ulat Daun <em>(Spodoptera litura Fabricius)<\/em><\/span><\/h2>\n<p>Sesuai dengan namanya, hama ini menyerang dedaunan tanaman bawang, khususnya dedaunan muda. Serangan terhadap jaringan daun bawang putih tersebut menunjukkan gejala luka dari tepi hingga ujung daun.\u00a0Hama ini juga sering beraktivitas pada malam hari, sedangkan pada siang hari mereka akan bersembunyi di tempat yang lembab.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1902\" aria-describedby=\"caption-attachment-1902\" style=\"width: 400px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1902\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Hama-Ulat-Daun.jpg\" alt=\"Hama Ulat Daun\" width=\"400\" height=\"313\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1902\" class=\"wp-caption-text\"><em>Sumber: wikipedia.org<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Cara mengatasi hama ini yaitu\u00a0dengan memotong dan membakar daun yang digunakan sebagai tempat bertelur.<\/strong> <strong>Pada tingkatan lebih lanjut, dapat digunakan pestisida<\/strong> seperti Ekalux 25 EC, Atabron, Diazinon 60 EC, atau Hostathion 40 EC.<\/p>\n<h2><span style=\"color: #008000;\">Nematoda akar <em>(Ditylenchus dipsaci Khun)<\/em><\/span><\/h2>\n<p>Hama jenis ini termasuk ke\u00a0dalam hama yang paling berbahaya. Hama Nematoda akar menyerang pangkal titik tumbuh dan umbi bawang yang mengakibatkan umbi menjadi lunak, ujung akar mengering,\u00a0dan pangkal titik tumbuh membengkak. Akibat dari serangan tersebut, bawang akan mengalami hambatan dalam bertumbuh kembang dan akan terlihat kerdil karena kekurangan unsur hara. Pada tingkatan parah, tanaman bisa mengalami kematian sehingga sudah pasti sangat merugikan petani.<\/p>\n<p><strong>Cara mengatasi hama ini adalah dengan melakukan sistem rotasi tanaman<\/strong> (mengganti jenis tanaman setiap kali panen), <strong>menjaga sanitasi tanaman,\u00a0dan membasmi tanaman bawang yang terserang hama ini agar mencegah penyebaran<\/strong>. <strong>Jika hal itu tidak mempan, maka gunakan pestisida<\/strong> seperti Nemagon 5G, Furadan 3G, Temik, dan lain-lain.<\/p>\n<h2><span style=\"color: #008000;\">Kutu Bawang <em>(Thrips tabaci Lindeman)<\/em><\/span><\/h2>\n<p>Hama ini memiliki ukuran yang sangat kecil\u00a0sehingga sulit untuk dilihat secara kasat mata. Ukuran dewasa hama ini hanya 1 mm dan berwarna kuning pucat, coklat atau hitam. Warna tersebut dihasilkan dari suhu lingkungan tempatnya hidup, yang artinya semakin rendah suhu lingkungannya maka semakin gelap warna hama tersebut.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1903\" aria-describedby=\"caption-attachment-1903\" style=\"width: 400px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1903\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Hama-Kutu-Bawang.jpg\" alt=\"Hama Kutu Bawang\" width=\"400\" height=\"267\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1903\" class=\"wp-caption-text\"><em>Sumber: thrips-id<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Hama ini menyerang tanaman dengan menyerap cairan pada daun tanaman bawang putih yang mengakibatkan daun menjadi kuning, berkerut atau keriting,\u00a0dan\u00a0terlihat layu.<\/p>\n<p><strong>Untuk mengatasi hama ini,\u00a0dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida sistemik<\/strong>, antara lain besvidor, interprid, dan confidor. Penyemprotan yang baik dilakukan pada \u00a0sore hari dengan jarak penggunaan 7 sampai 10 hari sekali.<\/p>\n<h2><span style=\"color: #008000;\">Ulat Tanah <em>(Agotis Ipsilon)<\/em><\/span><\/h2>\n<p>Hama ini memiliki ukuran tubuh yang cukup panjang, yaitu 3,5 cm dan hanya beraktifitas pada malam hari dan hanya bersembunyi di\u00a0dalam tanah pada siang hari. Hama ini menyerang dengan cara memotong bagian pangkal tanaman yang berdekatan dengan sarangnya. Ciri khas dari hama ini adalah terlihat bekas korek-korekan di\u00a0sekitaran tanah tanaman yang terserang hama ini.<\/p>\n<p><strong>Cara mengendalikan hama ini adalah dengan memusnahkan larva ulat tanah lalu\u00a0melakukan rotasi tanaman<\/strong>. <strong>Selain itu, dapat juga dilakukan dengan menggunakan insektisida<\/strong> seperti klorfirifos, spinetoram, dan \u00a0karbofuran.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Itulah 5 hama bawang putih beserta cara mengendalikannya yang perlu Anda ketahui, terutama para petani yang membudidayakan bawang putih. Dengan melakukan pengendalian yang benar, tentu hama-hama ini dapat diminimalisir.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-budidaya-bawang-merah-di-lahan-kering\/\"><strong>Cara Efektif Budidaya Bawang Merah di Lahan Kering<\/strong><\/a><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital belum? Klik di .<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selain menjadi bahan pokok dalam memasak, bawang putih juga semakin banyak digunakan dalam bidang kesehatan hingga kecantikan. Wajar kalau produk pertanian tersebut memiliki peluang bisnis yang menarik dengan cakupan pasar&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1899,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[846,4,1],"tags":[191,192,47],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/5-Hama-yang-Menyerang-Bawang-Putih-dan-Cara-Mengendalikannya.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1898"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1898"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1898\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1931,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1898\/revisions\/1931"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}