{"id":1914,"date":"2024-01-03T01:00:16","date_gmt":"2024-01-02T18:00:16","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=1914"},"modified":"2024-01-03T13:19:50","modified_gmt":"2024-01-03T06:19:50","slug":"mengendalikan-penyakit-layu-fusarium-pisang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mengendalikan-penyakit-layu-fusarium-pisang\/","title":{"rendered":"Cara Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium pada Pisang"},"content":{"rendered":"<p>Tentunya Anda tidak asing lagi dengan tanaman pisang. Tanaman pisang dapat dijumpai dimana saja dan harganya dapat dibilang terjangkau. Buah pisang pun dapat diolah menjadi berbagai macam makanan mulai dari pisang goreng, nugget pisang, keripik pisang, es pisang ijo, <em><i>\u2018banana cake\u2019<\/i><\/em>,\u00a0dll.<\/p>\n<p>Di daerah lain\u00a0seperti Bali, masyarakat Hindu menggunakan pisang sebagai <em><i>\u2018banten\u2019 <\/i><\/em>atau sesaji dalam upacara-upacara tertentu\u00a0sehingga budidaya pisang memang sangat menjanjikan di Bali pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.<\/p>\n<p>Indonesia merupakan penghasil pisang terbesar keenam di dunia dan terbesar di Asia.\u00a0Produksinya selalu meningkat setiap tahun.\u00a0Budidaya pisang tergolong mudah karena tanaman pisang merupakan tanaman endemik Indonesia\u00a0sehingga iklim tropis memang sesuai dengan syarat hidup tanaman pisang. Ketinggian yang sesuai tidak lebih dari 1600 mdpl dengan suplai air yang intensif namun tidak sampai menggenang, serta usahakan untuk tidak menanam pisang di daerah berangin karena akan merusak daunnya.<\/p>\n<p>Selain berpeluang, tentunya budidaya pisang juga memiliki ancaman, salah satunya adalah penyakit layu fusarium yang merupakan penyakit utama tanaman pisang. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan FOC (<em><i>Fusarium<\/i><\/em><em><i>oxysporum<\/i><\/em>\u00a0sp.\u00a0<em><i>cubense<\/i><\/em>) dan tergolong sulit untuk dikendalikan dan dapat menyebar dengan mudah.<\/p>\n<h2>Gejala penyakit layu fusarium<\/h2>\n<p>Tanaman pisang yang diserang penyakit layu fusarium memiliki gejala-gejala berikut ini:<\/p>\n<ol>\n<li>Daun tua berwarna kuning kehijauan.<\/li>\n<li>Bila bagian dalam batang semu dan tangkai daundipotong,\u00a0terdapat benang berupa garis berwarna kekuningan\/coklat\/ungu\/hitam.<\/li>\n<li>Batang semu pecah membujur beberapa cm di atas permukaan tanah.<\/li>\n<li>Buah biasanya gagal panen. Bila berhasil,ukurannya kecil, matang sebelum waktunya,\u00a0dan layu.<\/li>\n<li>Jantung kerdil dan layu.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Baca juga:\u00a0 <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/penyakit-tanaman-selada-mengendalikan\/\"><strong>Kenali Penyakit pada Tanaman Selada dan Cara Mengendalikannya<\/strong><\/a><\/p>\n<figure id=\"attachment_1916\" aria-describedby=\"caption-attachment-1916\" style=\"width: 1200px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-1916\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Penyakit-Layu-Fusarium-pada-Pisang.jpg\" alt=\"Penyakit Layu Fusarium pada Pisang\" width=\"1200\" height=\"445\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1916\" class=\"wp-caption-text\"><em>Sumber: itfnet.org<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<h2>Pencegahan layu fusarium<\/h2>\n<p>Alangkah baiknya jika pencegahan terhadap penyakit layu fusarium dilakukan terlebih dahulu daripada harus mengendalikannya saat tanaman pisang sudah terserang. Pencegahan penyakit layu fusarium pada pisang dapat dilakukan dengan memilih bibit unggul, yaitu bibit yang bebas penyakit dan diambil atau diproduksi dari lahan yang memang bebas dari penyakit. Hal lain yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit layu fusarium adalah dengan melakukan rotasi atau pergiliran tanaman yang bertujuan untuk memutus rantai penyebaran penyakit.<\/p>\n<h2>Pengendalian layu fusarium<\/h2>\n<p>Jika tanaman pisang sudah terserang penyakit layu fusarium, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini, yaitu sebagai berikut.<\/p>\n<ol>\n<li>Menanam lebih dari satu varietas yang tahan terhadap FOC (<em><i>Fusarium<\/i><\/em><em><i>oxysporum<\/i><\/em>\u00a0sp.\u00a0<em><i>cubense<\/i><\/em>)<\/li>\n<li>Tidak menggunakan tanah dari daerah yang sudah terkontaminasi<\/li>\n<li>Membersihkan gulma yang berada di daerah penanaman<\/li>\n<li>Sterilkan alat-alat yang digunakanseperti pisau, parang atau golok dengan menggunakan disinfektan seperti alkohol. Alat-alat pertanian seperti cangkul, sekop, dll sebaiknya juga selalu dicuci dengan sabun dan disterilkan.<\/li>\n<li>Membasmi sumber bibit penyakit (tanaman sakit) dengan membongkar dan membakar atau menyuntikkan herbisida dengan dosis 12 cc untuk tanaman induk, 2,5 cc untuk tanaman yang berumur 4-6 bulan, dan 1 cc untuk tanaman anakan yang berumur kurang dari 1 bulan.<\/li>\n<li>Namun, karena penggunaan bahan kimia terus-menerus dapat berdampak negatif pada lingkungan, terdapat pengendalian alternatif secara hayati\u00a0yaitu\u00a0dengan menggunakan bakteri antagonis, <em><i>Trichoderma<\/i><\/em> <em>spp.<\/em> yang hidup di daerah perakaran yang dapat menekan penyakit dan mendorong pertumbuhan tanaman. Mekanisme <em><i>Trichoderma<\/i><\/em>\u00a0<em><i>spp.<\/i><\/em><em><i>\u00a0<\/i><\/em>terhadap patogen adalah antibiosis, kompetisi, mikroparasit,\u00a0dan induksi ketahanan pangan.<\/li>\n<li>Selain\u00a0itu, pengendalian alami juga dapat dilakukan dengan menggunakan daun sirih kuning. Caranya adalah dengan menumbuk 10-20 lembar daun sirih kuning. Setelah halus, ambil 25-50 gram\u00a0bubuk daun sirih kuning dan campurkan\u00a0dengan 1 L air. Saring dan diamkan selama 24 jam\u00a0kemudian aplikasikan pada pisang yang terserang\u00a0penyakit.<\/li>\n<\/ol>\n<hr \/>\n<p>Nah, itulah beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang penyakit layu fusarium pada pisang, mulai dari gejala yang muncul, cara mencegah, dan cara mengendalikannya jika tanaman pisang sudah terserang penyakit ini.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/penyakit-hawar-daun-bakteri-solusinya\/\"><strong>Kenali Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Padi dan Solusinya<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Sumber: bali.litbang.pertanian.go.id, Warasfarm<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis:\u00a0<strong>Nevy Widya Pangestika<br \/>\n<\/strong><em>Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana<\/em><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tentunya Anda tidak asing lagi dengan tanaman pisang. Tanaman pisang dapat dijumpai dimana saja dan harganya dapat dibilang terjangkau. Buah pisang pun dapat diolah menjadi berbagai macam makanan mulai dari&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":1915,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[846,1],"tags":[400,58,223,399],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Cara-Mengendalikan-Penyakit-Layu-Fusarium-pada-Pisang.jpg","author_info":{"display_name":"Nevy Widya Pangestika","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/nevy-widya-pangestika\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1914"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1914"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1914\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1918,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1914\/revisions\/1918"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1915"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1914"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1914"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1914"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}