{"id":1966,"date":"2019-03-12T16:00:34","date_gmt":"2019-03-12T09:00:34","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=1966"},"modified":"2019-08-13T13:44:11","modified_gmt":"2019-08-13T06:44:11","slug":"kisah-agus-suprapto-jeruk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/kisah-agus-suprapto-jeruk\/","title":{"rendered":"Kisah Agus Suprapto yang Sukses Berbisnis &#038; Mengekspor Jeruk"},"content":{"rendered":"<p>Banyuwangi\u00a0dikenal sebagai lumbung jeruk di Jawa Timur setelah padi.\u00a0Bagi petani jeruk, berkebun buah rasa manis itu cukup menjanjikan.<\/p>\n<p>Gudang berukuran luas itu penuh dengan kotak yang terbuat dari kayu yang berisi buah jeruk. Di\u00a0dalamnya,\u00a0terdapat buah jeruk yang sudah dipilah-pilah, ada yang berukuran super, sedang,\u00a0dan kecil. Buah-buah tersebut siap dikirim ke\u00a0luar kota Banyuwangi. Puluhan orang sibuk mengepak buah jeruk yang selanjutnya akan diangkut truk. Itulah kesibukan yang setiap hari dilakukan oleh Agus Suprapto di Dusun Kaliboyo,\u00a0Desa Kradenan,\u00a0Kecamatan Purwoharjo,\u00a0Banyuwangi.<\/p>\n<p>Pria berusia 37 tahun ini sudah bertahun-tahun menekuni bisnis jeruk manis. Selain sebagai pengepul, Agus juga memiliki lahan berhektar-hektar. Setiap hari,\u00a0kesibukan bos UD Amalia Buah itu cukup padat. Dalam sehari,\u00a0Agus mampu mengirim 4 sampai 5 truk Colt Diesel. Satu truk berisi 6 ton jeruk. Jika diasumsikan harga satu kilo jeruk dari petani Rp 7.000, maka terdapat nilai Rp 42 juta\u00a0di dalam satu truk. Jika menggunakan 5 truk, sekali transaksi bisa mencapai Rp\u00a0210 juta dalam satu hari.<\/p>\n<h2>Bermula dari modal yang pas-pasan<\/h2>\n<p>Agus Suprapto menekuni usaha ini sejak tahun 1999. Setelah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja, dengan modal yang pas-pasan sekitar Rp\u00a0500 ribu,\u00a0awalnya Agus hanya membeli jeruk kiloan dari petani untuk dijual kembali mulai dari pasar hingga rumah ke rumah. Jeruk tidak laku sudah menjadi hal yang wajar dialami oleh Agus. Jika jeruk yang dibawanya tidak laku dan sudah mendekati busuk, jeruknya\u00a0dibagi-bagikan kepada saudara dan tetangganya.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi hal tersebut,\u00a0Agus sempat berpikir untuk menyuntikkan bahan pengawet ke dalam buah. Namun,\u00a0lagi-lagi gagal, bukan untung yang didapat tetapi para pelanggan yang sudah pernah membeli,\u00a0tidak ada satupun yang melirik jeruk miliknya.<\/p>\n<p>Agus mulai berpikir dan memutar otak kembali. Agus lebih selektif dalam memilih jeruk yang dibeli. Agus mulai berpikir untuk menawarkan jeruknya lagi dan membuka jeruk yang masih utuh di\u00a0hadapan para pembelinya yang dipersilahkan untuk mencoba secara gratis. Para pelanggan yang dulu membeli dan tidak lagi membeli kini mulai berdatangan kembali. Dari situ, usahanya\u00a0mulai berkembang bahkan jangkauannya\u00a0meluas.<\/p>\n<p>Dari hasil penjualannya,\u00a0beliau berhasil menyewa sebuah kios kecil berukuran kurang lebih 3\u00a0m x 5\u00a0m. Beliau juga menambah volume penjualannya dengan mengebas atau menampung hasil petani jeruk dalam jumlah kecil-kecilan.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/suryono-petani-indonesia-mendunia\/\"><strong>Suryono, Petani Indonesia yang Berhasil Mendunia<\/strong><\/a><\/p>\n<h2>Menjual jeruknya ke Kalimantan<\/h2>\n<p>Suatu hari, Agus Suprapto bertemu dengan teman sekolahnya dulu yang sekarang menjadi grosir buah-buahan dan sayuran di provinsi Kalimantan Tengah. Agus memang sengaja menawarkan buah yang dijual kepada temannya dalam jumlah besar dengan sistem konsinyasi atau titip barang.<\/p>\n<p>Tanpa berpikir panjang,\u00a0temannya meng-iya-kan tawaran dari beliau\u00a0karena memang jeruk dari Pulau Jawa terkenal murah, manis, dan memiliki warna yang cerah. Awal perkenalan,\u00a0beliau hanya mengirim 50\u00a0kg jeruk ke Kalimantan Tengah. Barang yang Agus kirim ternyata cukup banyak diminati oleh masyarakat pulau Kalimantan. Tidak hanya ke pulau Kalimantan saja, Agus juga mulai merambah ke beberapa kota di pulau Jawa dengan sistem yang sama.<\/p>\n<p>Dengan semakin banyaknya permintaan konsumen,\u00a0Agus mulai membeli sebidang tanah yang ditanami jeruk. Dengan demikian,\u00a0keuntungan yang diperoleh oleh Agus lebih berlipat ganda.<\/p>\n<h2>Sukses mengekspor jeruk ke 2 negara<\/h2>\n<p>Tanpa terasa,\u00a0Agus Suprapto sudah cukup menguasai perkebunan jeruk. Kemudian,\u00a0langkah selanjutnya yang dipikirkan oleh Agus adalah mengekspor jeruknya ke negara Australia dan Vietnam. Namun,\u00a0itu bukan perkara yang mudah bagi Agus. Selain konsumennya yang belum jelas dan siapa yang akan menerima jeruk darinya, Agus juga lebih memperkirakan lagi soal kesegaran jeruk dari kebunnya tanpa bahan pengawet sedikitpun.<\/p>\n<p>Cukup cerdik, Agus mencari konsumen dan siapa yang menjadi penampung jeruknya di media sosial Facebook. Dalam satu hari,\u00a0Agus bisa mengekspor 2 sampai 3\u00a0ton per\u00a0hari untuk kedua negara tersebut.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Dari pengalaman dan keuletan ini, usahanya terus berkembang. Usaha kiloan itu akhirnya merangkak menjadi skala besar. Tentu\u00a0tidak semudah yang\u00a0dibayangkan. Mulai dari berbagai rintangan, kebangkrutan, bahkan dijauhi oleh keluarga pernah Agus alami.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/kisah-tips-bisnis-ikan-laut-bu-susi\/\"><strong>Kisah dan Tips Bisnis Ikan Laut Ala Bu Susi<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis: <strong>Irjaun Naim<\/strong><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital belum? Klik di .<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyuwangi\u00a0dikenal sebagai lumbung jeruk di Jawa Timur setelah padi.\u00a0Bagi petani jeruk, berkebun buah rasa manis itu cukup menjanjikan. Gudang berukuran luas itu penuh dengan kotak yang terbuat dari kayu yang&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1970,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[70,841],"tags":[425,310,424,65,99,423,12],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Kisah-Agus-Suprapto-yang-Sukses-Berbisnis-Mengekspor-Jeruk.jpeg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1966"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1966"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1966\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2288,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1966\/revisions\/2288"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1970"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1966"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1966"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1966"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}