{"id":2045,"date":"2019-03-18T11:00:15","date_gmt":"2019-03-18T04:00:15","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=2045"},"modified":"2019-08-12T18:59:20","modified_gmt":"2019-08-12T11:59:20","slug":"lahan-gambut-perkebunan-sawit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/lahan-gambut-perkebunan-sawit\/","title":{"rendered":"Apakah Lahan Gambut Cocok untuk Perkebunan Sawit?"},"content":{"rendered":"<p>Sudah sejak lama sawit menjadi tanaman primadona di Indonesia. Harga jual yang cenderung stabil dan kebutuhannya sebagai komoditas bahan pangan dan kosmetik membuat sawit selalu menjadi tanaman perkebunan yang dilirik. Pengelolaannya pun tidak tergolong rumit meskipun \u00a0mulai dari proses pemilihan lahan, bibit, pupuk, hingga penanaman harus diatur sedemikian rupa.<\/p>\n<p>Bicara soal lahan, lahan yang digunakan untuk menanam sawit sebaiknya bukan lahan sembarangan. Lahan yang kaya akan mineral adalah yang baik. Tapi,\u00a0saat ini, sudah sedikit sekali tanah yang kaya akan\u00a0kandungan mineral. Inilah yang membuat pengusaha perkebunan sawit memanfaatkan lahan gambut sebagai alternatif lahan perkebunan.<\/p>\n<p>Diperkirakan, 20% tanaman sawit di Indonesia tumbuh di lahan gambut. Nah, apa sebenarnya <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/BtVVbtdDPWO\/\">lahan gambut<\/a> itu? Lahan gambut adalah lahan yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang telah membusuk. Pembukaan lahan ini sendiri wajib dilakukan dengan metode <em><i>zero burning<\/i><\/em>\u00a0untuk menjaga kandungan air pada tanah dan menghindari kerusakan lingkungan. Biasanya, bila dipaksakan dengan metode pembakaran, hasilnya tidak akan baik.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/tips-mengelola-perkebunan-sawit\/\"><strong>6 Tips Mengelola Perkebunan Sawit<\/strong><\/a><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-1889 aligncenter\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Tips-Mengelola-Perkebunan-Sawit.jpg\" alt=\"Tips Mengelola Perkebunan Sawit\" width=\"1280\" height=\"820\" \/><\/p>\n<p>Sebenarnya, bukan tidak mungkin lahan ini dimanfaatkan untuk perkebunan sawit. Namun, diperlukan pengelolaan agar lahan ini dapat dimaksimalkan fungsinya. Langkah pertama sebelum pembukaan lahan ialah survei. Survei lapangan penting untuk dilakukan. Ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik tanah dan menghindari teknik pengelolaan tanah yang salah. Bila perlu, lakukan analisa laboratorium untuk mengetahui kerusakan tanah. Jika kerusakan telah diketahui, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah memperbaiki keadaan tanah.<\/p>\n<p>Pemanfaatan lahan gambut sendiri tidak melulu menuai hasil yang baik. Manajemen yang kurang baik adalah penyebabnya. Perlu diketahui pula bahwa saat ini lahan gambut merupakan penyumbang emisi efek gas rumah kaca cukup besar sehingga memicu perubahan iklim dan pemanasan global.<\/p>\n<p>Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan juga memperparah keadaan. Jadi,\u00a0sebaiknya para pengusaha perkebunan sawit mulai melakukan manajemen pengelolaan lahan gambut yang baik dan menggunakan pupuk yang mengedepankan keramahan lingkungan. Bukankah sekarang ini pupuk organik untuk sawit sudah tersedia? Kenali masalah pada perkebunan Anda sehingga upaya penanganan yang tepat juga bisa dilakukan demi mendapatkan hasil yang maksimal.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/jenis-kelapa-sawit\/\"><strong>Jenis-Jenis Kelapa Sawit yang Perlu Diketahui<\/strong><\/a><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di .<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sudah sejak lama sawit menjadi tanaman primadona di Indonesia. Harga jual yang cenderung stabil dan kebutuhannya sebagai komoditas bahan pangan dan kosmetik membuat sawit selalu menjadi tanaman perkebunan yang dilirik.&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2046,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[4,841],"tags":[73,16,453,190,451,452,454],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Apakah-Lahan-Gambut-Cocok-untuk-Perkebunan-Sawit.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2045"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2045"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2045\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2047,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2045\/revisions\/2047"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2046"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2045"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2045"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2045"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}