{"id":2088,"date":"2023-12-29T01:00:25","date_gmt":"2023-12-28T18:00:25","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=2088"},"modified":"2023-12-29T09:44:24","modified_gmt":"2023-12-29T02:44:24","slug":"hama-pohon-akasia-cara-menanganinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/hama-pohon-akasia-cara-menanganinya\/","title":{"rendered":"Kenali 4 Hama Pohon Akasia dan Cara Menanganinya"},"content":{"rendered":"<p>Akasia (<em><i>Acacia mangium<\/i><\/em>) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang sangat potensial dimanfaatkan di Indonesia. Kayu ini sendiri sudah banyak digunakan dalam pembuatan berbagai macam furnitur seperti kursi, meja, lemari, rak, dan lain-lain. Hal ini disebabkan oleh pohon akasia memiliki kualitas kayu yang baik.\u00a0Pohon akasia memiliki banyak kelebihan yaitu pembudidayaannya yang mudah dan pertumbuhannya yang tergolong cepat.<\/p>\n<p>Walaupun begitu, hama dan penyakit yang menyerang\u00a0tumbuhan ini juga patut diwaspadai karena secara langsung dapat menurunkan tingkat produktivitas dan kualitas kayu akasia. Berikut ini adalah beberapa jenis hama yang menyerang pohon akasia beserta cara menanganinya.<\/p>\n<h2>Ochtebius dilataus<\/h2>\n<p>Gejala serangan yang ditimbulkan oleh hama ini adalah keluarnya getah dari batang, kulit kayu yang mengering dan mengelupas. Penyerangan pada pokok batang akan menyebabkan batang mati.<\/p>\n<figure id=\"attachment_2090\" aria-describedby=\"caption-attachment-2090\" style=\"width: 250px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-2090\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Ochtebius-Dilataus.jpg\" alt=\"Ochtebius Dilataus\" width=\"250\" height=\"353\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2090\" class=\"wp-caption-text\"><em>Foto: zin.ru<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Cara efektif yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ini adalah dengan memusnahkan sarang, memberikan herbisida, dan memotong cabang yang terserang.<\/p>\n<h2><em><i>Xylodepra sp<\/i><\/em><\/h2>\n<p>Serangan yang disebabkan oleh hama ini adalah munculnya lubang gerek di bagian dalam ranting pohon akasia. Jika tidak dikendalikan,\u00a0lubang gerek ini akan semakin membesar\u00a0karena adanya aktivitas makan larva <em><i>Xylodepra sp<\/i><\/em>\u00a0di\u00a0dalam lubang.<\/p>\n<p>Cara yang efektif untuk mengendalikan hama ini adalah menutup permukaan perakaran tanah setebal 2 cm, sterilisasi kumbang jantan, dan melakukan sanitasi kebun\u00a0yaitu dengan menebang dan membakar tanaman akasia yang telah mati agar infeksi tidak menyebar.<\/p>\n<figure id=\"attachment_2091\" aria-describedby=\"caption-attachment-2091\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-2091\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Xylodepra-sp.jpg\" alt=\"Xylodepra sp\" width=\"300\" height=\"237\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2091\" class=\"wp-caption-text\"><em>Foto: flickr.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<h2><em><i>Captotermes curvignatus<\/i><\/em><\/h2>\n<p>Hama ini termasuk ke\u00a0dalam family <em><i>Rhinotermidae. <\/i><\/em>Gejala serangan yang ditimbulkan dari rayap ini adalah rusaknya batang pohon hingga menyebabkan batang hancur. Ini disebabkan\u00a0oleh adanya aktivitas rayap yang memakan selulosa pada batang sehingga batang menjadi lapuk. Selain itu,\u00a0rayap juga biasa membuat sarang atau rumah di bagian permukaan kulit sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terganggu.<\/p>\n<p>Cara efektif untuk menangani hama rayap adalah dengan menghadirkan musuh alami rayap,\u00a0salah satunya adalah semut gramang. Di\u00a0dalam Jurnal Penelitan Hutan Tanaman tahun 2012, yang dipublikasikan oleh Asmaliyah dkk, dijelaskan hasil penelitian bahwa\u00a0populasi rayap menurun setelah hadirnya semut gramang atau semut rangrang. Menurut mereka,\u00a0hal ini disebabkan oleh semut gramang aktif memakan telur-telur rayap.<\/p>\n<figure id=\"attachment_2092\" aria-describedby=\"caption-attachment-2092\" style=\"width: 421px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-2092 size-full\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Captotermes-curvignatus.jpg\" alt=\"Captotermes curvignatus\" width=\"421\" height=\"323\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2092\" class=\"wp-caption-text\"><em>Foto: biolib.cz<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<h2><em><i>Xystrocera festiva<\/i><\/em><\/h2>\n<p>Hama pohon akasia yang terakhir adalah <em><i>Xystrocera<\/i><\/em> festiva. Hama ini termasuk ke\u00a0dalam hama kumbang penggerek batang. Hama ini kebanyakan aktif pada malam hari dan banyak menyerang tanaman berkayu,\u00a0tak terkecuali pohon akasia. Gejala yang ditimbulkan akibat serangan hama ini adalah ujung ranting yang mengering, batang yang berlubang, ada bekas-bekas berupa gesekan, getah, dan juga spot kehitaman.<\/p>\n<p>Penanggulangan dan pengendalian hama yang bisa dilakukan yaitu dengan memotong ranting atau batang yang telah terinfeksi hama dan mengurangi asupan nitrogen pada tanaman, serta\u00a0lebih menambahkan unsur K dan P tinggi (Trubus, 2014).<\/p>\n<figure id=\"attachment_2093\" aria-describedby=\"caption-attachment-2093\" style=\"width: 392px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2093\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Xystrocera-festiva.jpg\" alt=\"Xystrocera festiva\" width=\"392\" height=\"276\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2093\" class=\"wp-caption-text\"><em>Foto: natureloveyou.sg<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<hr \/>\n<p>Nah, sahabat tani, itulah beberapa hama pada pohon akasia yang harus diwaspadai oleh petani. Setelah penjelasan di\u00a0atas\u00a0diuraikan,\u00a0kita sudah mengetahui bahwa serangan hama ternyata tidak hanya terjadi pada tanaman hortikultura atau tanaman palawija saja. Namun,\u00a0juga bisa menyerang tanaman hutan,\u00a0salah satunya adalah pohon akasia.<\/p>\n<p>Dengan mengenal berbagai macam gejala dari hama dan cara penanganannya, diharapkan dapat membantu para petani,\u00a0khususnya di bidang budidaya tanaman industri mebel.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/hama-bawang-putih-cara-mengendalikan\/\"><strong>Ini Dia 5 Hama Bawang Putih dan Cara Mengendalikannya<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis: <strong>Novita Awalia Rahmah<\/strong><\/p>\n<p><em>Sumber :<\/em><\/p>\n<p><em>Asmaliyah dkk., 2012. Identifikasi dan Potensi Kerusakan Rayap pada Tanaman Trembesu (Fagrea fragrans) di Kebun Percobaan Way Hanakau, Lampung Utara. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Vol 9 (4)<\/em><\/p>\n<p><em>Trubus, 2014. Hama &amp; Penyakit Tanaman. Deteksi Dini &amp; Penanggulangan.\u00a0Majalah Trubus Vol 9<\/em><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital belum? Silahkan klik di <strong><\/strong>.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akasia (Acacia mangium) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang sangat potensial dimanfaatkan di Indonesia. Kayu ini sendiri sudah banyak digunakan dalam pembuatan berbagai macam furnitur seperti kursi, meja, lemari, rak,&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":2089,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[846,4,1],"tags":[481,47,395,482],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Kenali-4-Hama-pada-Pohon-Akasia-dan-Cara-Menanganinya.jpg","author_info":{"display_name":"Novita Awalia Rahmah","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/novita-awalia-rahmah\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2088"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2088"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2088\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2094,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2088\/revisions\/2094"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2089"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2088"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2088"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2088"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}