{"id":2397,"date":"2021-03-02T08:00:15","date_gmt":"2021-03-02T01:00:15","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=2397"},"modified":"2021-03-02T10:54:07","modified_gmt":"2021-03-02T03:54:07","slug":"masnawati-petani-muda-kakao","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/masnawati-petani-muda-kakao\/","title":{"rendered":"Masnawati, Petani Muda yang Terjun ke Usaha Pembibitan Kakao"},"content":{"rendered":"<p>Masnawati merupakan seorang gadis kelahiran tahun 1994\u00a0yang berasal dari tanah timur,\u00a0tepatnya \u00a0Desa Tarengge, Kecamatan Wotu,\u00a0\u00a0Luwu Timur,\u00a0Sulawesi Selatan. Ia adalah seorang petani muda kakao di daerahnya. Tapi,\u00a0jangan salah,\u00a0jumlah kakao yang dibudidayakan oleh Masnawati berjumlah puluhan ribu. Hal inilah yang membuat kegiatan hariannya sangat padat untuk mengurus tanaman kakaonya.<\/p>\n<p>Masnawati tidak mengelola tanaman kakao di lahan yang besar\u00a0melainkan hanya memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya. Akan tetapi, dari lahan inilah,\u00a0ia mampu memproduksi sekitar 20 ribu bibit kakao dalam setahun. Ia memaparkan bahwa teknik memperbanyak bibit yang dilakukannya adalah teknik sambung pucuk. Itulah\u00a0sebabnya banyak tanamannya yang tertutupi plastik.<\/p>\n<p>Lahan yang saat ini digunakan oleh Masnawati untuk melakukan pembibitan kakao awal mulanya adalah kebun kakao milik ayahnya. Namun,\u00a0melihat banyak pohon kakao yang sudah berumur tua dan tidak produktif lagi, Masnawati akhirnya menebangnya dan menjadikan lahan tersebut sebagai lokasi pembibitan kakao.<\/p>\n<h2>Terjun ke Usaha Pertanian Saat Masih Bersekolah<\/h2>\n<p>Masnawati mulai merintis budidaya pembibitan kakao saat ia masih bersekolah di SMK Pertanian Tomuni, Luwu Timur. Petani muda kakao ini melihat usaha penjualan bibit sangat potensial\u00a0karena sebagian besar petani di\u00a0daerahnya merupakan petani kakao. Namun,\u00a0petani yang khusus menjual bibit kakao belum ada saat itu.<\/p>\n<p>Hal inilah yang kemudian membuat Masnawati tertarik untuk melakukan usaha budidaya bibit kakao. Usahanya diawali dengan modal usaha 500 ribu,\u00a0hasil patungan dengan lima orang temannya. Masnawati akhirnya mulai untuk merintis usaha ini pada tahun 2012 lalu.<\/p>\n<figure id=\"attachment_2399\" aria-describedby=\"caption-attachment-2399\" style=\"width: 1152px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2399\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/Kebun-Kakao-Masnawati.jpg\" alt=\"Kebun Kakao Masnawati\" width=\"1152\" height=\"864\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2399\" class=\"wp-caption-text\"><em>Kebun Kakao Masnawati | Foto: mongabay.co.id<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Uang yang telah dikumpulkannya itu digunakan\u00a0untuk membeli polybag, tenda, tempat pembibitan, pupuk,\u00a0dan lain-lain. Setelah 6 bulan usahanya berjalan, ia dan teman-temannya berhasil membibitkan sekitar 500 pohon yang kemudian dijual seharga Rp 5000 per pohon. Keuntungan yang didapatkannya yaitu\u00a02,5 juta yang kemudian dibagi rata dengan teman-temannya.<\/p>\n<p>Setelah lulus SMK, Masnawati masih tekun melanjutkan usaha pembibitan pohon kakaonya. Bahkan,\u00a0ia juga sudah mulai mengembangkan usahanya dengan mengelola lahan ayahnya\u00a0yang memiliki luas 1 hektar\u00a0secara pribadi. Semakin hari,\u00a0jumlah produksi bibit kakaonya pun semakin meningkat pesat,\u00a0seiring bertambahnya permintaan bibit baik dari daerah sekitarnya maupun luar daerah.<\/p>\n<h2>Menghasilkan Keuntungan yang Besar<\/h2>\n<p>Dalam setahun,\u00a0Masnawati mampu meraup keuntungan hingga Rp 100 juta dari hasil penjualan bibit kakaonya. Keuntungan bersih yang ia dapatkan yaitu Rp 60 juta, sedangkan sisanya digunakan untuk perputaran biaya produksi. Sementara,\u00a0dari kebun kakao milik ayahnya yang ia kelola secara pribadi, petani muda kakao ini mampu memperoleh keuntungan sebesar Rp 90 juta per tahun.<\/p>\n<p>Kini, selain melakukan usaha pembibitan kakao, Masnawati juga mulai melakukan usaha jual beli kotoran ayam untuk dijadikan pupuk kompos. Barangnya ia beli dari petani Kabupaten Sidrap dengan harga Rp 17.000\/sak kemudian dijual\u00a0kepada\u00a0petani seharga Rp 22.000\/sak. Usahanya\u00a0ini juga termasuk sukses karena barang selalu terjual habis bahkan terkadang kurang.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/prospek-produksi-kakao-indonesia\/\"><strong>Prospek Produksi Kakao di Indonesia<\/strong><\/a><\/p>\n<figure id=\"attachment_2400\" aria-describedby=\"caption-attachment-2400\" style=\"width: 1200px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2400\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/Petani-Kakao-di-Luwu-Timur.jpg\" alt=\"Petani Kakao di Luwu Timur\" width=\"1200\" height=\"900\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2400\" class=\"wp-caption-text\"><em>Petani Kakao di Luwu Timur | Foto: mongabay.co.id<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Kesuksesan Masnawati ini tidak hanya kebetulan semata. Ia mengungkapkan kecintaannya terhadap buah kakao sedari kecil. Karena hobinya itulah,\u00a0akhirnya ia melanjutkan pendidikannya ke SMK Pertanian Tomuni.<\/p>\n<p>Ketika kuliah,\u00a0ia juga sempat magang selama t3\u00a0bulan di CRS MARS. Di\u00a0sinilah keilmuannya mengenai tanaman kakao semakin bertambah sehingga ia mampu meningkatkan usaha budidaya bibit kakaonya.<\/p>\n<p>CRS MARS sendiri merupakan salah satu instansi pemerintahan di Sulawesi Selatan yang mendorong anak-anak mudanya untuk bertani. Salah satu progam andalannya adalah Next Gen yang menyasar siswa SMK Pertanian dalam pembinaan dan penyuluhan berbagai macam materi dan\u00a0pelatihan pertanian bermuatan lokal.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Itulah kisah yang bisa dipelajari dari seorang Masnawati, petani muda kakao yang mampu melihat peluang di sekitarnya. Semoga artikel ini dapat menginspirasi orang lain untuk terjun ke dunia pertanian dan memajukan pertanian Indonesia.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/roni-hartanto-petani-sayuran-hidroponik\/\"><strong>Roni Hartanto, Petani Sayuran Hidroponik dengan Omzet 240 Juta\/bulan<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Sumber gambar utama: mongabay.co.id<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis: <strong>Novita Awalia Rahmah<\/strong><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi di Pak Tani Digital? Klik di <strong><\/strong>.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masnawati merupakan seorang gadis kelahiran tahun 1994\u00a0yang berasal dari tanah timur,\u00a0tepatnya \u00a0Desa Tarengge, Kecamatan Wotu,\u00a0\u00a0Luwu Timur,\u00a0Sulawesi Selatan. Ia adalah seorang petani muda kakao di daerahnya. Tapi,\u00a0jangan salah,\u00a0jumlah kakao yang dibudidayakan&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":2398,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[70,862],"tags":[222,582,581,133,580,583,185,80],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/Masnawati-Petani-Muda-yang-Terjun-ke-Usaha-Pembibitan-Kakao.jpg","author_info":{"display_name":"Novita Awalia Rahmah","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/novita-awalia-rahmah\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2397"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2397"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2397\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2401,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2397\/revisions\/2401"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2398"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2397"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2397"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2397"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}