{"id":2462,"date":"2019-05-06T12:00:10","date_gmt":"2019-05-06T05:00:10","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=2462"},"modified":"2019-08-12T18:52:34","modified_gmt":"2019-08-12T11:52:34","slug":"bagas-suratman-mantan-preman-petani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/bagas-suratman-mantan-preman-petani\/","title":{"rendered":"Bagas Suratman, Mantan Preman yang Kini Menjadi Petani Sukses"},"content":{"rendered":"<p>Ada cukup banyak kisah petani sukses\u00a0di Indonesia yang begitu inspiratif\u00a0dan menjadi teladan atau contoh bagi banyak orang. Mereka adalah orang yang menekuni profesi petani dari nol atau bawah. Sedikit demi sedikit dan bertahap,\u00a0mereka mulai menapaki jalannya menuju kesuksesan\u00a0yang tentu saja berliku. Pasalnya, tidak mudah untuk menjalaninya karena dipastikan ada hambatan dan rintangan yang menghadang di depan. Mereka yang mampu menghadapi dan mengatasinya bisa mensisipi sukses tersebut. Sementara,\u00a0yang menyerah di tengah jalan, harus tersingkir dengan sendirinya karena juga seleksi alam.<\/p>\n<p>Bahkan, tidak sedikit yang mulai\u00a0menjadi petani karena ingin terlepas dari kehidupannya yang kelam, seperti yang dialami oleh Bagas Suratman, seorang pria yang berdomisili di Tangerang, Banten. Sebelum menjadi petani, Bagas menjalani profesinya sebagai preman, profesi yang terkesan negatif dan lebih dekat dengan pelanggaran hukum.<\/p>\n<p>Itulah kenyataan kelam yang harus dihadapi oleh Bagas Suratman. Mabuk-mabukkan, berjudi, dan memeras orang lain sudah pernah dilakoni oleh Bagas. Dia juga pernah bekerja sebagai\u00a0porter di bandara dan kondektur bus. Namun, semua profesinya itu tidak berjalan lama karena ada masalah di tengah jalan yang juga merupakan kesalahan Bagas sendiri. Akhirnya, Bagas dipecat atau jika tidak,\u00a0mengundurkan diri dari pekerjaannya.<\/p>\n<h2>Berintrospeksi diri<\/h2>\n<p>Dengan kondisi kehidupannya yang semakin tidak teratur dan jauh dari kata mapan, Bagas merenung serta berintrospeksi diri. Dia memang tidak hidup sendirian. Bagas memiliki istri dan 3\u00a0orang anak yang harus dibiayai kebutuhan hidupnya. Tak mungkin hanya mengandalkan pekerjaan serabutannya tersebut. Bagas mulai berpikir keras untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan menghasilkan uang. Akhirnya, Bagas memutuskan untuk mulai bertani.<\/p>\n<figure id=\"attachment_2466\" aria-describedby=\"caption-attachment-2466\" style=\"width: 750px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2466\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Bagas-Suratman.jpg\" alt=\"Bagas Suratman\" width=\"750\" height=\"500\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2466\" class=\"wp-caption-text\"><em>Foto: kompas.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Kisah sukses petani\u00a0yang dilalui oleh Bagas pun mulai dijalani. Bagas memutuskan ingin menjadi petani setelah sering melihat petani yang telaten menyiram sayuran yang ditanamnya di lahan di pinggir jalan. Pada saat itu, Bagas masih bekerja sebagai porter barang di Bandara Soekarno-Hatta, berangkat dan pulang kerja dengan naik angkot karena belum memiliki motor.<\/p>\n<p>Sebenarnya, orang tua Bagas juga petani. Namun, Bagas tak ingin ikut menjadi petani seperti orang tuanya karena gengsi saja. Namun,\u00a0setelah memutuskan untuk bertani, Bagas tidak merasa gengsi lagi. Malahan sebaliknya, dia bersemangat untuk menekuninya karena percaya bisa mengubah kehidupannya di masa depan. Selanjutnya, Bagas mulai belajar bertani dari nol dan dasar. Ia lebih banyak memperhatikan dan bertanya kepada petani sayuran atau buah-buahan yang dikenalnya.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/masnawati-petani-muda-kakao\/\"><strong>Masnawati, Petani Muda yang Terjun ke Usaha Pembibitan Kakao<\/strong><\/a><\/p>\n<h2>Mulai menyewa lahan<\/h2>\n<figure id=\"attachment_2465\" aria-describedby=\"caption-attachment-2465\" style=\"width: 750px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2465\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Lahan-Bagus-Suratman.jpeg\" alt=\"Lahan Bagus Suratman\" width=\"750\" height=\"500\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2465\" class=\"wp-caption-text\"><em>Foto: kompas.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Sedikit demi sedikit,\u00a0Bagas mengetahui cara dan trik menanam sayuran dan\u00a0buah yang benar. Setelah cukup lama belajar, Bagas memberanikan diri untuk menyewa lahan tidur seluas 3000 meter persegi di sekitar Bandara Soekarno-Hatta. Pada saat itu,\u00a0cukup banyak lahan tidur atau kosong yang tidak dimanfaatkan. Bagas menyewa lahan tersebut dari uang simpanannya ditambah uang pinjaman. Selanjutnya, Bagas mulai menanami lahan itu dengan sayuran dan buah-buahan.<\/p>\n<p>Lahan pertanian yang dikelola oleh Bagas Suratman mulai menghasilkan keuntungan sedikit demi sedikit. Dia tidak pernah lupa untuk menabung dari hasil jerih payahnya tersebut. Bahkan, Bagas mampu menyewa lahan lagi seluas 26 hektar yang juga ditanami beragam jenis sayuran dan buah. Bahkan, hasil pertaniannya dipasok di beberapa pasar tradisional dan modern di wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.<\/p>\n<h2>Pernah hampir putus asa<\/h2>\n<p>Namun demikian, Bagas mengalami kerugian dan hampir putus asa pada\u00a0tahun 2007. Pada saat itu, banjir besar melanda wilayah Jabodetabek dan menggenangi lahan pertanian miliknya. Semua tanaman sayur dan buah terendam banjir yang dipastikan rusak. Padahal,\u00a0sebentar lagi mau dipanen. Bagas mengalami kerugian besar dan hampir putus asa.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2464 aligncenter\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Karyawan-Bagas-Suratman.jpeg\" alt=\"Karyawan Bagas Suratman\" width=\"700\" height=\"467\" \/><\/p>\n<p>Akan tetapi, semangatnya untuk mengubah nasib diri sendiri dan para karyawannya tidak bisa dikalahkan.\u00a0Bagas bersama para karyawannya bangkit dan mulai menggarap lahan pertanian setelah banjir surut. Benih-benih sayur dan buah ditanam lagi dan dirawat hingga besar untuk diambil hasilnya saat panen tiba. Sekarang, penghasilan kotornya per hari bisa mencapai Rp 15 juta.<\/p>\n<p>Bisnis pertanian yang digeluti oleh Bagas Suratman semakin berkembang, sehingga membutuhkan lebih\u00a0banyak karyawan untuk direkrutnya. Bagas mengutamakan para pengangguran dan preman untuk direkrut menjadi karyawannya. Jadi, jangan heran jika sebagian besar karyawannya bertato di beberapa bagian tubuhnya karena bekas preman jalanan.\u00a0Bagas berhasil membuka lapangan pekerjaan di lingkungannya. Untuk menjadi karyawan Bagas dan bekerja sebagai petani,\u00a0cukup memenuhi dua syarat, yaitu jujur dan mau bekerja keras.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Itulah kisah petani sukses\u00a0yang menceritakan tentang Bagas Suratman, mantan preman yang beralih profesi menjadi petani sukses. Semoga kisahnya menginspirasi kita semua. Jaya selalu petani Indonesia!<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/i-gusti-made-dwiadya\/\"><strong>Kenalkan I Gusti Made Dwiadya, Petani Hidroponik Sukses Asal Bali<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis : <strong>Arifin Totok<\/strong><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Silahkan klik di <strong>.<\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada cukup banyak kisah petani sukses\u00a0di Indonesia yang begitu inspiratif\u00a0dan menjadi teladan atau contoh bagi banyak orang. Mereka adalah orang yang menekuni profesi petani dari nol atau bawah. Sedikit demi&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2463,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[70],"tags":[],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Bagas-Suratman-Mantan-Preman-yang-Kini-Menjadi-Petani-Sukses.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2462"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2462"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2462\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3914,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2462\/revisions\/3914"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2463"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2462"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2462"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2462"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}