{"id":2623,"date":"2024-04-17T01:00:48","date_gmt":"2024-04-16T18:00:48","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=2623"},"modified":"2024-04-17T09:39:07","modified_gmt":"2024-04-17T02:39:07","slug":"review-buku-diseminasi-teknologi-pertanian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/review-buku-diseminasi-teknologi-pertanian\/","title":{"rendered":"[Review Buku] 40 Inovasi Kelembagaan Diseminasi Teknologi Pertanian"},"content":{"rendered":"<p>Apa itu diseminasi teknologi pertanian? Istilah di bidang pertanian ini seharusnya diketahui arti, makna, dan pemahamannya oleh semua orang yang beraktivitas di bidang pertanian. Bukan hanya para petani saja, tetapi semua orang yang terlibat maupun melibatkan diri di\u00a0dalam\u00a0bidang pertanian secara luas.<\/p>\n<p>Tujuan utamanya sangat jelas, yaitu memajukan bidang pertanian itu sendiri. Dengan begitu, orang-orang yang ada di dalamnya termasuk petani kecil penggarap lahan pertanian akan diuntungkan, baik secara finansial ataupun yang lainnya. Dengan kata lain, mereka lebih merasakan kesejahteraan hidup sehari-hari.<\/p>\n<p>Nah, tujuan itulah yang ingin dicapai oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Dalam perjalanannya,\u00a0Balitbangtan sudah berhasil melakukan beragam inovasi kelembagaan diseminasi teknologi pertanian. Dalam bukunya yang berjudul \u201c<strong>40 INOVASI KELEMBAGAAN DISEMINASI TEKNOLOGI PERTANIAN, Catatan Perjalanan 40 Tahun Balitbangtan<\/strong>\u201d, semua inovasi dan penemuan yang berhasil mereka capai diinformasikan kepada masyarakat luas.<\/p>\n<p>Lalu, apa saja informasi dan daya tarik dari buku ini? Untuk lebih jelasnya, silakan membaca uraian di bawah ini.<\/p>\n<h2>Informasi umum buku ini<\/h2>\n<p>Judul buku berjudul \u201c40 INOVASI KELEMBAGAAN DISEMINASI TEKNOLOGI PERTANIAN, Catatan Perjalanan 40 Tahun Balitbangtan\u201d\u00a0ini disusun oleh tim penyusun dari Balitbangtan Kementan RI, yaitu Syahyuti, Toto Sutater, Istriningsih, dan Sri Wuryaningsih. Bukunya terdiri atas 188 halaman yang diterbitkan oleh IAARD Press Balitbangtan Kementan RI tahun 2014.<\/p>\n<p><strong>Buku ini bisa diunduh secara gratis dalam bentuk <em><i>ebook<\/i><\/em>\u00a0di internet<\/strong>. Dengan begitu, masyarakat bisa membaca dan mengetahui lebih detail beragam inovasi yang sudah pernah diciptakan oleh Balitbangtan Kementan RI selama kurun waktu 40 tahun, yaitu mulai periode tahun 1970 \u2013 1979 hingga periode tahun 2010 \u2013 2013.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2625\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/40-Inovasi-Kelembagaan-Diseminasi-Teknologi-Pertanian.jpg\" alt=\"\" width=\"449\" height=\"541\" \/><\/p>\n<p>Sudah pasti dalam kurun waktu selama 40 tahun tersebut,\u00a0sudah banyak inovasi dan penemuan yang berhasil diciptakan. Bukan hanya diciptakan dan ditemukan saja, tetapi juga sudah diaplikasikan di bidang pertanian, khususnya di Indonesia. Dengan begitu, teknologi pertanian Indonesia akan semakin maju dan sekaligus memajukan bidang pertaniannya itu sendiri untuk kesejahteraan bersama.<\/p>\n<h2>Apa itu diseminasi teknologi pertanian?<\/h2>\n<p>Diseminasi adalah\u00a0kegiatan menyampaikan informasi atau teknologi yang ditujukan kepada seseorang atau sekelompok orang agar mereka bisa menerima, sadar, dan akhirnya memanfaatkan informasi atau teknologi tersebut untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu.<\/p>\n<p>Kaitannya dengan bidang pertanian, informasi atau teknologi yang ditemukan lalu disampaikan tentu saja seputar dunia pertanian. Misalnya, beragam peralatan pertanian, <em><i>software<\/i><\/em>\u00a0atau  yang bisa digunakan secara digital, program-program pertanian yang sudah teruji bagus, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/aplikasi-untuk-petani-milenial-indonesia\/\"><strong>Ini Dia, 5 Aplikasi yang Dibutuhkan Petani Milenial Indonesia<\/strong><\/a><\/p>\n<p>Diseminasi teknologi pertanian\u00a0sangat dibutuhkan di Indonesia untuk membantu,\u00a0khususnya para petani,\u00a0dalam menggarap lahan pertaniannya, menghasilkan hasil panen yang istimewa, hingga memasarkan produk pertaniannya agar bisa diterima masyarakat luas.<\/p>\n<p>Tak lupa,\u00a0diseminasi tersebut bertujuan untuk menjaga agar harga beragam produk pertanian stabil. Harga yang begitu jatuh di pasaran\u00a0dapat mengakibatkan kerugian bagi petani. Selain itu, harga yang tidak begitu tinggi tidak memberatkan masyarakat umum dan sekaligus mampu diserap maksimal di pasaran.<\/p>\n<p>Jadi, diseminasi teknologi pertanian\u00a0secara luas sangat bermanfaat bagi petani maupun masyarakat umum yang membutuhkan produk pertanian. Oleh karena itu, diseminasi di bidang pertanian semacam itu hingga sekarang masih terus dilakukan oleh Balitbangtan Kementan RI yang hasilnya bisa dimanfaatkan secara langsung atau tidak oleh petani Indonesia.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2259\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/drone-1765145_1920.jpg\" alt=\"Manfaat teknologi drone untuk sektor pertanian\" width=\"1920\" height=\"1073\" \/><\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/teknologi-pertanian-anak-bangsa\/\"><strong>5 Teknologi Pertanian Anak Bangsa yang Patut Diapresiasi<\/strong><\/a><\/p>\n<p><strong>Lalu, apa saja hasil diseminasi teknologi pertanian\u00a0yang diciptakan oleh Balitbangtan Kementan RI?<\/strong><\/p>\n<p>Seperti yang dijabarkan dalam buku ini, ada beberapa periode tahun pekerjaan yang dilakukan oleh Balitbangtan hingga menghasilkan cukup banyak perolehan diseminasi yang sudah banyak manfaatnya. Dalam buku ini, Anda bisa membacanya satu per satu secara detail. Secara garis besar, bisa disimpulkan per periode tahun berikut ini.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Periode tahun 1970 \u2013 1979<\/strong>, Balitbangtan berhasil membuat model sistem pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) bagian hulu. Selanjutnya, model tersebut sudah dipraktikkan di beberapa daerah percontohan.<br \/>\n&#8211;<\/li>\n<li><strong>Periode tahun 1980 \u2013 1989<\/strong>, Balitbangtan mampu merampungkan beberapa diseminasi dalam wujud yang berbeda. Dimulai dari pembentukan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Tepadu (SLPHT)dan dilanjutkan dengan perintisan Kredit Usaha Mandiri (KUM). Selain itu, Balitbangtan juga berhasil membuat model pengembangan teknologi sistem usaha tani konservasi yang berkaitan dengan lingkungan alam. Bukan hanya itu, Balitbangtan juga sukses membuat model diseminasi inovasi teknologi di lahan kering wilayah Nusa Tenggara.<br \/>\n&#8211;<\/li>\n<li><strong>Periode tahun 1990 \u2013 1999<\/strong>, semakin banyak produk dan gagasan yang diciptakan oleh Balitbangtan. Misalnya, program pengentasan kemiskinan melalui kondisi wilayah dilihat dari bidang pertaniannya. Balitbangtan juga mampu membuat model sistem pengembangan DAS kawasan perbukitan dengan lahan kritis. Pada periode ini juga,terbentuk Balai Pengkajian Teknologi Pertanian\u00a0(BPTP). Selain itu, ada Lembaga Mandiri yang mengakar di Masyarakat (LM3) terbentuk. Bersama beberapa pihak, Balitbangtan berhasil membuat Upland Farmers Development Project (UFDP). Begitu juga dengan program yang satu ini, sistem usaha tani berbasis padi (SUTPA). Balitbangtan juga berhasil menyusun indeks pertanaman padi 300, ditambah dengan model pengembangan sistem usaha pertanian (SUP), membuat semakin beragam program diseminasi teknologi pertanian. Masih ada beberapa lagi diseminasi yang sukses dibuat, seperti usaha pelayanan jasa alsintan (UPJA), model pengelolaan usaha tani\u00a0di lahan pasang surut, dan model pengembangan pertanian di lahan gambut melalui inovasi teknologi.<br \/>\n&#8211;<\/li>\n<li><strong>Periode tahun 2000 \u2013 2009<\/strong>, Balitbangtan semakin memperkokoh diri sebagai pihak yang mampu melakukan berbagai inovasi di bidang pertanian untuk memajukan pertanian Indonesia. Buktinya,di periode tahun ini,\u00a0Balitbangtan mampu lebih banyak berkiprah dan menunjukkan eksistensinya. Dimulai dari pembentukan <em><i>corporate farming<\/i><\/em>, integrasi tanaman-ternak, dan Program Peningkatan Pendapatan Petani melalui Inovasi (P4MI). Selain itu, Balitbangtan juga sukses melakukan beberapa program unggulan dan sudah diaplikasikan di tengah masyarakat, seperti program kaji tindak pemberdayaan wilayah tertinggal, program rintisan dan akselerasi pemasyarakatan inovasi teknologi pertanian (PRIMA TANI), program klinik agribisnis, dan model penerapan teknologi proses pengolahan padi terpadu. Beberapa program pemodelan lainnya dari Balitbangtan di periode tahun ini\u00a0yaitu model pengembangan kampung ternak, model pengembangan ternak sapi terpadu, pembentukan Badan Usaha Milik Petani (BUMP), model kelembagaan penerapan IP padi 400, model agribisnis jeruk rakyat, model pengembangan kawasan agribisnis hortikultura, model percepatan pembangunan pertanian wilayah perbatasan dan lahan sub optimal, serta model asuransi pertanian.<br \/>\n&#8211;<\/li>\n<li><strong>Periode tahun 2010 \u2013 2013<\/strong>, proram diseminasi teknologi pertanianyang sukses diciptakan oleh Balitbangtan memang berjumlah lebih sedikit dari periode tahun sebelumnya. Namun demikian, dilihat dari kualitasnya,\u00a0malahan semakin meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari program-programnya, dimulai dari program penyuluhan <em><i>multi channel<\/i><\/em>, lalu ada program pengelolaan ternak melalui manajemen kandang kelompok, serta pembangunan laboratorium lapang Balitbangtan di tingkat kabupaten. Beberapa program pemodelan juga masih dilakukan, seperti model pengembangan pertanian pedesaan melalui inovasi, model kawasan rumah pangan lestari, model akselerasi pembangunan pertanian ramah lingkungan lestari, dan model percepatan pembangunan pertanian berbasis inovasi. Masih ada dua program lainnya yang tidak kalah hebatnya dari Balitbangtan, yaitu gerakan diversifikasi pangan nasional melalui model agribisnis industrial\u00a0dan sistem diseminasi inovasi pertanian berbasis teknologi informasi.<\/li>\n<\/ol>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2362 aligncenter\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/Petani-di-Sawah.jpg\" alt=\"Petani di Sawah\" width=\"1280\" height=\"960\" \/><\/p>\n<h2>Inovasi tiada henti yang dilakukan Balitbangtan<\/h2>\n<p>Hal tersebut memang benar. Bahkan, periode tahun terkait penciptaan beragam diseminasi teknologi pertanian\u00a0beserta program-programnya akan tetap terus dilakukan sekaligus ditingkatkan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Setelah Anda membaca buku ini, tentu akan membuka cakrawala semakin luas bahwa bidang pertanian di Indonesia memang begitu luar biasa. Selain itu, para petani kecil penggarap lahan sawah tidak sendirian karena ada Balitbangtan dari Kementan RI yang selalu siap membantu dan mendukung demi kemajuan pertanian Indonesia.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/inovasi-pertanian-oleh-mahasiswa-ugm\/\"><strong>4 Inovasi Pertanian oleh Mahasiswa UGM<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis: <strong>Arifin Totok<\/strong><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Silahkan klik di <strong>.<\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa itu diseminasi teknologi pertanian? Istilah di bidang pertanian ini seharusnya diketahui arti, makna, dan pemahamannya oleh semua orang yang beraktivitas di bidang pertanian. Bukan hanya para petani saja, tetapi&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2638,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[70,19,529],"tags":[641,640,642,532,27],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Review-Buku-40-Inovasi-Kelembagaan-Diseminasi-Teknologi-Pertanian.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2623"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2623"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2623\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3910,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2623\/revisions\/3910"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2638"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2623"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2623"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2623"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}