{"id":2644,"date":"2024-11-04T01:00:02","date_gmt":"2024-11-03T18:00:02","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=2644"},"modified":"2024-11-04T09:07:23","modified_gmt":"2024-11-04T02:07:23","slug":"tahap-membudidayakan-padi-lahan-rawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/tahap-membudidayakan-padi-lahan-rawa\/","title":{"rendered":"7 Tahap Sukses Membudidayakan Padi di Lahan Rawa"},"content":{"rendered":"<p>Salah satu jenis lahan yang banyak dijumpai di Indonesia adalah lahan rawa. Mayoritas jenis lahan seperti ini tidak banyak dikembangkan apalagi dibudidayakan yang diakibatkan oleh miskinnya kandungan unsur hara, PHnya yang cenderung asam,serta adanya kandungan beracun di bagian dalam tanah rawa sehingga dapat memicu kematian tanaman budidaya.<\/p>\n<p>Namun tahukah kamu, ternyata dengan teknik dan pengolahan yang tepat, lahan rawa ternyata bisa dikembangkan untuk membudidayakan tanaman padi sehingga lebih produktif loh. Penasaran bagaimana cara membudidayakan padi di lahan rawa? Yuk mari simak ulasannya berikut ini.<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3>Tahap Pengolahan Tanah<\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Untuk mengolah lahan rawa maka Anda dapat menggunakan cangkul, hal ini dilakukan agar proses penggalian lahan tidak terlalu dalam. Kedalaman lahan yang dibutuhkan yaitu sekitar 20-25 cm. Yang harus diperhatikan, proses penggalian lahan ini jangan sampai terlalu dalam karena dapat mengangkat zat beracun yang terdapat di dalam tanah rawa.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga :\u00a0<a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mempertahankan-kesuburan-tanah\/\">Cara Mempertahankan Kesuburan Tanah yang Efektif<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Untuk membuang zat beracun yang terkandung di dalam tanah, maka dapat dibuat saluran perairan untuk membuang zat beracun. Lebar saluran sekitar 30 cm dan kedalamannya sekitar 20 cm. Sedangkan jarak antar saluran yaitu sekitar 6-10 cm.<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3>Tahap Penanaman<\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Pada tahap penanaman<strong>, <span style=\"color: #008000;\">sistem tanam yang cocok dilakukan di lahan rawa untuk tanaman padi adalah sistem tanam legowo 4:1<\/span><\/strong>. Dengan menggunakan sistem tanam ini, maka tanaman akan semakin terlihat rapi. Selain itu pemupukan juga dapat berlangsung dengan sangat optimal.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2646\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/lele.co_.id_.jpg\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"330\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Sumber <strong>: Lele.co.id<\/strong><\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Untuk memulainya, penanaman padi dilakukan di dua musim tanam. Musim tanam pertama dimulai pada pertengahan Oktober hingga Awal november. Sedangkan musim tanam kedua dimulai dari pertengahan Maret hingga Awal April.<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3>Tahap Pemilihan Benih<\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Pembudidayaan padi di lahan rawa tidak bisa dilakukan dengan benih biasa. Struktur lahan rawa yang cenderung masam dan juga miskin unsur hara menjadikan bibit padi unggulanlah yang tepat dibudidayakan di lahan rawa. <span style=\"color: #008000;\"><strong>Anda bisa menggunakan bibit padi jenis Inpara 1, Inpara2, atau Inpara 3.<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Cara lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan benih terbaik adalah dengan meletakkan 100 benih ke dalam kain dan direndam ke dalam air selama kurang lebih 2 jam. Jika benih berkecambah lebih dari 90 butir maka dipastikan benih tersebut berkualitas unggul.<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3>Tahap Persemaian<\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Untuk membudidayakan padi unggulan di lahan rawa. Maka<span style=\"color: #008000;\"><strong> Anda dapat membuat bedengan di lahan kering \u00a0sebagai lahan persemaian bibit pad<\/strong><\/span>i. Setelah bedegan jadi, benih padi kemudian langsung disemai dengan kerapatan 50g\/M2 dengan dukungan tambahan dosis pupuk 5 g Urea\/M2. Setelah bibit padi berumur kurang lebih 21 hinga 25 hari, maka benih dapat langsung dipindahkan ke lahan budidaya. Persemaian ini termasuk ke dalam persemaian kering.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2654\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/seedlings-4186033_1920.jpg\" alt=\"Ilustrasi persemaian\" width=\"1920\" height=\"914\" \/><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3>Tahap Pemeliharaan<\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Tahap pemeliharaan padi ini dilakukan dengan cara melakukan penyiangan gulma. Proses penyiangan dilakukan ketika padi mulai memasuki umur 21 HST, dan 40-45 HST. Prinsip proses penyiangan harus dilakukan sebelum pemupukan. Dengan begitu nutrisi yang diberikan dari pupuk akan diserap optimal oleh padi dan tidak akan terjadi kompetisi antara gulma dan juga padi.<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3>Tahap Pemupukan<\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #008000;\"><strong>Untuk proses pemupukan dilakukan selama 3 kali.<\/strong> <\/span>Pemupukan pertama dilakukan ketika padi berumur 3-6 HST. Pemupukan kedua ketika padi berumur 21-28 HST, sedangkan pemupukan ketiga dilakukan ketika padi berumur 40-45 HST. Pemupukan padi ini dilakukan menggunakan jenis pupuk antara lain Urea, KCL, dan juga SP36.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2655\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/work-1201543_1920.jpg\" alt=\"\" width=\"1920\" height=\"1279\" \/><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3>Tahap Pemanenan<\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><strong><span style=\"color: #008000;\">Pemanenan padi dpat dilakukan ketika padi sudah mencapa usia 3.5 hingga 4.5 bulan<\/span><\/strong>. Proses pemanenan ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknik perontokan padi menggunakan sabit.<\/p>\n<p>Demikianlah beberapa tahapan proses budidaya padi di lahan rawa. Ternyata dengan penanganan yang tepat lahan rawa sekalipun dapat digunakan sebagai lahan yang sangat produktif untuk membudidayakan padi. Semoga bermanfaat!<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis: <strong>Novita Awalia Rahmah<\/strong><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital belum? Silahkan klik di <strong><\/strong>.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu jenis lahan yang banyak dijumpai di Indonesia adalah lahan rawa. Mayoritas jenis lahan seperti ini tidak banyak dikembangkan apalagi dibudidayakan yang diakibatkan oleh miskinnya kandungan unsur hara, PHnya&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":2645,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[840,4,1],"tags":[],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/beautiful-1866498_1920.jpg","author_info":{"display_name":"Novita Awalia Rahmah","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/novita-awalia-rahmah\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2644"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2644"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2644\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2657,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2644\/revisions\/2657"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2645"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2644"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2644"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2644"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}