{"id":2660,"date":"2019-05-23T12:00:07","date_gmt":"2019-05-23T05:00:07","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=2660"},"modified":"2019-08-12T18:50:20","modified_gmt":"2019-08-12T11:50:20","slug":"nur-agis-aulia-sarjana-cumlaude-petani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/nur-agis-aulia-sarjana-cumlaude-petani\/","title":{"rendered":"Nur Agis Aulia, Sarjana Cumlaude yang Memilih Menjadi Petani"},"content":{"rendered":"<p>Dewasa ini,\u00a0kita menemukan fenomena sarjana muda di Indonesia dimana kebanyakan\u00a0mereka\u00a0berharap bisa bekerja di perusahan swasta besar, bekerja di kantor, menjadi pegawai negeri sipil, bekerja di BUMN memakai jas, dasi,\u00a0dan pakaian yang necis, serta bekerja dengan menggunakan komputer di dalam ruangan ber-AC di gedung pencakar langit di kota besar.<\/p>\n<p>Begitu juga dengan <em><i>mindset<\/i><\/em>\u00a0orang tua, orang tua yang memiliki anak yang telah menjadi sarjana berharap anaknya tidak memiliki pekerjaan seperti orangtuanya. Sang anak tidak boleh bekerja berpanas-panasan. Sang anak harus bekerja di depan laptop dan gedung bertingkat dan sebagainya.<\/p>\n<p>Nur Agis Aulia,\u00a0seorang sarjana PSDK Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada dengan predikat lulusan terbaik, cumlaude dengan IPK\u00a03,75,\u00a0malah memilih menjadi petani, padahal ia telah ditawarkan untuk bekerja di sebuah perusahaan BUMN. Hal ini disayangkan oleh banyak orang, begitu juga dengan orang tua Mas Agis, terutama ibunya.<\/p>\n<p>Saat itu,\u00a0reaksi ibu Mas Agis itu sangat marah dan beranggapan bahwa anaknya mengambil keputusan yang salah. Namun,\u00a0siapa sangka, seiring berjalannya waktu,\u00a0dari tangan Agis,\u00a0lahir gerakan-gerakan yang positif, membuka banyak lapangan kerja baru, naiknya taraf kehidupan petani di desanya, dan\u00a0menumbuhkan kembali inspirasi bagi kalangan muda untuk bertani dan beternak.<\/p>\n<figure id=\"attachment_2662\" aria-describedby=\"caption-attachment-2662\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2662\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Nur-Agis-Aulia-Petani-Sarjana-Cumlaude.jpg\" alt=\"Nur Agis Aulia, Petani Sarjana Cumlaude\" width=\"1024\" height=\"551\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2662\" class=\"wp-caption-text\"><em>Foto: vestifarm.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Nur Agus Aulia, pemuda kelahiran Serang pada tanggal 21 April 1989,\u00a0merupakan suatu pembuktian bahwa petani juga bisa sukses, sekaligus mematahkan <em><i>mindset<\/i><\/em>\u00a0bahwa seorang sarjana harus kerja di perusahaan, di gedung bertingkat,\u00a0dan lain sebagainya.<\/p>\n<p>Beberapa kontribusi Agis di desanya yakni sebagai ketua pilot <em><i>project integrated farm<\/i><\/em>\u00a0NAPOLi FARM\u00a0dan CEO Jawara Banten Farm. Ayah dari 2\u00a0anak ini juga merupakan Co-Founder Komunitas Banten Bangun Desa yang kini telah merambah ke bidang usaha pertanian, peternakan (sapi perah kambing Aqiqah dan qurban),\u00a0serta perikanan.<\/p>\n<p>Meskipun masih mudah, sudah banyak prestasi yang ditorehkan oleh Agis. Ia menjadi salah satu penerima penghargaan Kick Andy Heroes serta Sosok Muda Kompas berkat usaha kerasnya dalam membangun daerahnya. Imbasnya,\u00a0sekarang ini,\u00a0banyak pemuda Banten yang tertarik menjadi peternak cerdas dan penuh dedikasi.<\/p>\n<p>Hal yang terus menyemangati Nur Aulia Agis yaitu\u00a0bagi dia,\u00a0petani merupakan profesi yang mulia, karena dengan adanya petani,\u00a0maka kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi. Tanpa adanya petani,\u00a0mustahil masyarakat bisa makan, petani juga merupakan profesi yang dapat menjadi ladang amal jariyah.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/bagas-suratman-mantan-preman-petani\/\"><strong>Bagas Suratman, Mantan Preman yang Kini Menjadi Petani Sukses<\/strong><\/a><\/p>\n<figure id=\"attachment_2663\" aria-describedby=\"caption-attachment-2663\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2663\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Nur-Agis-Aulia.jpg\" alt=\"Nur Agis Aulia\" width=\"1024\" height=\"551\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2663\" class=\"wp-caption-text\"><em>Foto: vestifarm.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Dikatakan oleh Nur Agis Aulia,\u00a0\u201cPermasalahan di desa yakni karena orang-orang terbaik tidak ada di desa, orang-orang yang memiliki kemampuan, pengalaman, kompetensi dan jaringan tidak ada di desa, sehingga desa dikelola\u00a0oleh orang-orang yang belum memiliki pengalaman dan kompetensi. Oleh karena itu, saya\u00a0merasa terpanggil untuk kembali ke desa. Yang paling penting saya lakukan adalah mencontohkan bertani dan beternak, bagaimana pertanian ini menguntungkan dan menjanjikan\u201d.<\/p>\n<p>\u201cKebanyakan petani terbiasa dengan pola hutang, tidak memiliki pola <em><i>cashflow<\/i><\/em>\u00a0keuangan yang baik, sehingga banyak petani terjebak hutang dengan tengkulak. Karena petani sambari menunggu hasil panennya,\u00a0mereka juga perlu biaya untuk menghidupi keluarganya, sekolah anaknya,\u00a0dan lainnya. Jadi,\u00a0dengan melihat keadaan ini,\u00a0saya terpanggil untuk memperbaiki keadaan petani di desa saya, petani juga harus memiliki <em><i>cashflow<\/i><\/em>\u00a0harian, minggguan, bulanan bahkan tahunan, sehingga petani tidak lagi terjerat hutang dengan tengkulak. Ini bisa kita kolaborasikan dengan adanya pertanian, perikanan,\u00a0dan peternakan terpadu. Kita juga akan pasarkan langsung ke konsumen melalui media sosial, jaringan, sistem <em><i>reseller<\/i><\/em>,\u00a0dan lainnya. Jadi,\u00a0tidak ada rantai dagang tengkulak. Dengan cara ini,\u00a0petani bisa lebih sejahtera hidupnya\u201d.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Itulah kisah Nur Agis Aulia yang bisa menjadi inspirasi bagi sarjana, terutama sarjana pertanian, untuk terjun dan bekerja di bidang pertanian. Nah, apakah kamu sudah siap menjadi petani, seperti Nur Agis Aulia?<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/i-gusti-made-dwiadya\/\"><strong>Kenalkan I Gusti Made Dwiadya, Petani Hidroponik Sukses Asal Bali<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Penulis :\u00a0<strong>Hanif Walas Nafi<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di <strong><\/strong>.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dewasa ini,\u00a0kita menemukan fenomena sarjana muda di Indonesia dimana kebanyakan\u00a0mereka\u00a0berharap bisa bekerja di perusahan swasta besar, bekerja di kantor, menjadi pegawai negeri sipil, bekerja di BUMN memakai jas, dasi,\u00a0dan pakaian&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2661,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[70,862],"tags":[650,12,185,80,648,649],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Nur-Agis-Aulia-Sarjana-Cumlaude-yang-Memilih-Menjadi-Petani.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2660"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2660"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2660\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2665,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2660\/revisions\/2665"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2661"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2660"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2660"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2660"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}