{"id":2689,"date":"2023-06-14T09:10:25","date_gmt":"2023-06-14T02:10:25","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=2689"},"modified":"2023-06-11T13:58:19","modified_gmt":"2023-06-11T06:58:19","slug":"masalah-perkebunan-sawit-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/masalah-perkebunan-sawit-indonesia\/","title":{"rendered":"7 Masalah Perkebunan Sawit di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Pemakaian <em><i>Crude Palm Oil <\/i><\/em>(CPO) meningkat secara besar-besaran dari tahun ke tahun. Kegunaannya\u00a0sebagai bahan dasar bagi banyak produk industri\u00a0seperti makanan olahan, produk kecantikan, pembersih,\u00a0dan lain-lain, menjadikannya semakin penting. Dalam kurun beberapa tahun terakhir, CPO ini bahkan dipromosikan sebagai sumber energi terbarukan seperti <em><i>biodiesel. <\/i><\/em><\/p>\n<p>Permintaan akan <em><i>CPO <\/i><\/em>yang terus meningkat ini menyebabkan semakin banyak perkebunan sawit dibuka. Menurut data Kementrian Pertanian, luas areal perkebunan sawit di Indonesia sampai tahun 2009 telah mencapai 7.32 juta hektar atau meningkat 11.8% per tahun 1980 yang baru mencapai 290 ribu hektar. Seiring dengan meningkatnya pembukaan lahan sawit di Indonesia, sejumlah permasalahan pun telah menanti.<\/p>\n<p>Nah, apa saja masalah perkebunan sawit di Indonesia?<\/p>\n<h2>Tanah yang keras<\/h2>\n<p>Tanah adalah media tanam pertanian dan perkebunan, termasuk sawit. Namun,\u00a0tidak semua kondisi tanah bisa dijadikan sebagai lahan bercocok tanam. Salah satu kendalanya adalah tanah yang keras. Struktur tanah yang keras tentu saja tidak dapat ditanami oleh tumbuhan, termasuk sawit,\u00a0karena tanah yang keras dan tidak gembur tidak dapat mengoptimalkan perkembangan akar tanaman. Sebaliknya, semakin halus tekstur tanah, semakin banyak pula air yang dapat diikat.<\/p>\n<h2>Pemakaian pupuk kimia yang berlebihan<\/h2>\n<p>Di satu sisi, pupuk kimia dianggap bermanfaat untuk meningkatkan hasil tandan buah segar (TBS). Namun,\u00a0di sisi lain, pemakaian berlebihan akan membuat lingkungan tercemar dengan segala akibatnya, termasuk residu pestisida. Penggunaan pestisida berlebihan justru menjadikan hama dan gulma menjadi resistan terhadap zat kimia dan menjadikan populasi hama menjadi lebih besar dan berbahaya bagi kondisi area lahan itu sendiri.<\/p>\n<h2>Pengelolaan lahan gambut yang tidak benar<\/h2>\n<p>Lahan gambut memiliki fungsi lingkungan yang cukup penting, salah satunya adalah sebagai penyimpan karbon dan penyangga lingkungan dari kebanjiran dan kekeringan. Namun,\u00a0jika pengelolaannya tidak benar, misalnya menggunakan abu bakaran gambut, maka itu akan membuat gambut sangat menipis sehingga fungsinya sebagai pengatur air dan penyimpan karbon pun akan berkurang.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/lahan-gambut-perkebunan-sawit\/\"><strong>Apakah Lahan Gambut Cocok untuk Perkebunan Sawit?<\/strong><\/a><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2046 aligncenter\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Apakah-Lahan-Gambut-Cocok-untuk-Perkebunan-Sawit.jpg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"960\" \/><\/p>\n<h2>Manajemen pemupukan yang tidak tepat<\/h2>\n<p>Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemupukan pada area tanam sawit. Misalnya,\u00a0waktu terbaik untuk melakukan pemupukan, dosis penggunaan pupuk, jenis pupuk yang digunakan, dan cara memupuk. Jika faktor-faktor ini tidak diperhatikan dengan lebih seksama, maka akan berpengaruh pada kondisi perkebunan yang dikelola. Manajemen pemupukan cukup penting peranannya agar hasil tandan buah segar dapat berkembang dengan baik.<\/p>\n<h2>Hama dan penyakit<\/h2>\n<p>Hama dan penyakit pada tanaman ini cukup sering menjadi masalah pada perkebunan sawit. Jika hama dan penyakit pada pohon ini berkembang tidak terkendali, maka akan berpengaruh pada hasil panen dan kualitas tandan buah segar (TBS) nantinya.<\/p>\n<h2>Pengelolaan limbah sawit yang tidak tepat<\/h2>\n<p>Limbah sawit umumnya berasal dari proses pembuatan atau pengolahan minyak sawit. Limbahnya bisa dikategorikan menjadi 2 jenis yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbahnya ini dapat mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Jika lingkungan tercemar, sudah pasti dapat berakibat kurang baik terhadap tanah.<\/p>\n<h2>Jamur Ganoderma<\/h2>\n<p>Ganoderma adalah jamur patogenik yang bisa menyerang berbagai jenis tanaman hutan dan perkebunan, termasuk tanaman sawit. Seperti parasit\u00a0pada umumnya, jamur ini bisa menggerogoti tumbuhan sawit dengan melakukan pembusukan pada pangkal batang. Selain itu, selama kurun berikutnya, jamur ini pun bisa membuat tanaman menjadi mati.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Nah, itulah 7 masalah perkebunan sawit yang perlu diketahui, terutama oleh orang-orang yang berencana membuka perkebunan sawit. Terdapat beberapa tips dalam mengelola perkebunan sawit yang bisa dibaca di <a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/tips-mengelola-perkebunan-sawit\/\">artikel ini<\/a>.<\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital belum? Silahkan klik di <strong><\/strong>.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemakaian Crude Palm Oil (CPO) meningkat secara besar-besaran dari tahun ke tahun. Kegunaannya\u00a0sebagai bahan dasar bagi banyak produk industri\u00a0seperti makanan olahan, produk kecantikan, pembersih,\u00a0dan lain-lain, menjadikannya semakin penting. Dalam kurun&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2690,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[4,841],"tags":[73,453,190,651,454],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/05\/Masalah-Perkebunan-Sawit-di-Indonesia.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2689"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2689"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2689\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2691,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2689\/revisions\/2691"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2690"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2689"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2689"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2689"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}