{"id":3279,"date":"2019-06-29T12:15:43","date_gmt":"2019-06-29T05:15:43","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=3279"},"modified":"2019-08-12T18:39:10","modified_gmt":"2019-08-12T11:39:10","slug":"mahasiswa-brawijaya-penemu-penghambat-patek-cabai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mahasiswa-brawijaya-penemu-penghambat-patek-cabai\/","title":{"rendered":"Hebat! 3 Mahasiswa Pertanian Universitas Brawijaya Temukan Bakteri Penghambat Patek Cabai"},"content":{"rendered":"<p>Cabai rawit menjadi komoditas hortikultura yang rentan terhadap inflasi volatile foods. Karena angka konsumsi cabai rawit dikota besar memerlukan pasokan cabai rata-rata mencapai <span style=\"color: #339966;\"><strong>800.000 ton\/tahun<\/strong><\/span>. Proyeksi angka kebutuhan cabai rawit yang tinggi sebagai tantangan untuk peningkatan kualitas budidaya.<\/p>\n<p>Salah satu faktor pembatas budidaya cabai rawit adanya serangan busuk buah oleh <em>Colletotrichum capsici<\/em> sebagai patogen utama penyebab penyakit penting antraknosa pada tanaman cabai. Penyakit antraknosa pada cabai rawit mampu menurunkan produksi sebesar<strong><span style=\"color: #ff0000;\"> 50-90% \/ha<\/span><\/strong>. Pengendalian penyakit oleh petani dengan fungisida cenderung belum efektif dan menimbulkan dampak lingkungan yang serius.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga :\u00a0<a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/nur-agis-aulia-sarjana-cumlaude-petani\/\">Nur Agis Aulia, Sarjana Cumlaude yang Memilih Menjadi Petani<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Oleh karena itu, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya <strong>Cindy Diah Ayu Fitriana<\/strong>, <strong>Nava Karina<\/strong>, dan <strong>Achmad Roekhan<\/strong>\u00a0 melakukan sebuah riset. Dengan bimbingan <span style=\"color: #339966;\"><strong>Bapak Luqman Qurata Aini SP., M.Si., Ph.D, <\/strong><\/span>mereka melakukan pengembangan bakteri kitinolotik UB Forest yang memiliki kemampuan yang cepat dan tepat dalam menghambat patogen <em>Colletotrichum capsici<\/em> penyebab antraknosa\/patek pada cabai.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3285\" aria-describedby=\"caption-attachment-3285\" style=\"width: 1270px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-3285\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/Penelitian-bakteri-penghambat-antaroksa.png\" alt=\"\" width=\"1270\" height=\"740\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3285\" class=\"wp-caption-text\"><em>Penelitian bakteri penghambat antrnoksa<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<h3>Bagaimana Hasil Penelitiannya?<\/h3>\n<p>Hasil Penelitian menunjukan bahwa Bakteri Kitinolitik UB Forest memiliki kemampuan sebagai penghambat jamur <em>Colletotrichum capsici<\/em> penyebab antraknosa\/patek pada cabai dengan <span style=\"color: #008000;\"><strong>presentase penghambatan hingga 100%. <\/strong><\/span><\/p>\n<p>Ternyata, hasil riset memberikan keunggulan bakteri kitinolitik dalam mengatasi penyakit antraknosa yang lebih efektif dibandingkan fungisida. Hal ini disebabkan oleh bakteri kitinolitik memiliki kemampuan yang cepat dalam melisis dinding sel patogen yang komponen utama berupa kitin sebesar 22-40 %.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga :\u00a0<a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/hama-daun-cabai-keriting-cara-mengendalikannya\/\">3 Hama Penyebab Daun Cabai Keriting dan Cara Mengendalikannya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Oleh karena itu, pemanfaatan bakteri kitinolitik UB Forest sebagai mikroba antagonis yang dapat berperan sebagai <em>green technology<\/em> berbasis agens hayati perlu dikembangkan dan diharapkan dapat menjadi solusi dalam meningkatkan produksi cabai, mendukung SDG&#8217;s 2030, dan implementasi pertanian yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Nah, itulah temuan 3 orang mahasiswa pertanian dari Universitas Brawijaya tentang penghambat patek pada cabai! Kira-kira bagaimana tanggapan kamu tentang inovasi mereka? Menarik bukan? Yuk mari bersama berdiskusi di kolom komentar ya sobat PTD! Jangan lupa untuk dibagikan juga ya.<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Oleh :<strong> Achmad Roekhan<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital belum? Silahkan klik di <strong><\/strong>.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cabai rawit menjadi komoditas hortikultura yang rentan terhadap inflasi volatile foods. Karena angka konsumsi cabai rawit dikota besar memerlukan pasokan cabai rata-rata mencapai 800.000 ton\/tahun. Proyeksi angka kebutuhan cabai rawit&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3280,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[846,4,70],"tags":[37,18,296,675,32,750,706,749,216,748,58,747,6,12,80,8,287,7],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/test.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3279"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3279"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3279\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3313,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3279\/revisions\/3313"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3280"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3279"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3279"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3279"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}