{"id":3566,"date":"2023-01-04T01:00:34","date_gmt":"2023-01-03T18:00:34","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=3566"},"modified":"2023-01-04T08:32:05","modified_gmt":"2023-01-04T01:32:05","slug":"beternak-lebah-trigona","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/beternak-lebah-trigona\/","title":{"rendered":"Beternak Lebah Trigona, Peluang Bisnis Sampingan yang Menjanjikan"},"content":{"rendered":"<p>Ada yang istimewa dari madu <em><i>Trigona sp<\/i><\/em>. Selama belasan tahun,\u00a0harganya belum pernah turun dan produksinya selalu belum mencukupi kebutuhan. Hal ini menjadikan lanceng, nama Jawa dari lebah <em><i>Trigona sp <\/i><\/em>ini layak untuk dilirik sebagai lahan bisnis sampingan yang menjanjikan. Mengapa sampingan? Karena beternak lebah trigona tidak mengganggu aktivitas seseorang dalam menekuni pekerjaan utamanya.<\/p>\n<p>Beternak lebah trigona tidak memerlukan banyak waktu, biaya, dan tenaga. Setelah ditangkarkan, maka cukup dibiarkan dan tinggal panen madu di setiap 3 bulannya. Sesekali waktu, hanya perlu dilakukan pembersihan kandang agar tidak tumbuh sarang laba-laba yang merupakan predator dari lebah tidak bersengat ini.<\/p>\n<p>Dengan 300 kendil (koloni),\u00a0maka akan diperoleh 30 liter madu lanceng. Kendil adalah gerabah semacam kuali. Dengan harga Rp\u00a0500 ribu per liter,\u00a0pendapatan yang diperoleh adalah Rp\u00a015 juta per 3 bulan. Dalam hal ini,\u00a0pembudidaya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli pakan, tenaga untuk memberi pakan, biaya perawatan dan kesehatan, listrik untuk penerangan, ataupun biaya lain sebagaimana beternak pada umumnya.<\/p>\n<h2>Kisah Sukses Beternak Lebah Trigona<\/h2>\n<p>Hal itu diungkapkan oleh Sugeng Apriyanto, seorang peternak lanceng di Gunung Kidul, Yogyakarta. Mulai tahun 2005, Sugeng mengembangbiakkan satu koloni lanceng yang dia peroleh dari ruas bambu di dalam rumah. Hasil madunya kemudian dijual ke lingkungan sekitar. Seiring dengan bertambahnya jumlah koloni,\u00a0ternyata bertambah pula jumlah konsumennya.<\/p>\n<p>Sampai jumlah koloninya mencapai 2.500 gerombol seperti pada saat ini pun,\u00a0ternyata permintaan madu tetap belum dapat tercukupi. \u201cPermintaan per bulan 400-500 liter sedangkan produksi maksimal kita 160 liter. Rata-rata 120 liter per bulan,\u201d hitungnya. Produksi sebanyak itu diperoleh dari 3.200 koloni milik anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Madusari yang dia ketuai dan anggota Koperasi Madusari Lanceng Gunungkidul yang dipimpinnya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-3569 aligncenter\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Lebah-Trigona.jpg\" alt=\"Lebah Trigona\" width=\"1280\" height=\"853\" \/><\/p>\n<p>Permintaan terus datang dari berbagai daerah seiring dengan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi suplemen makanan yang sehat dan alami. Madu lanceng dipercaya oleh masyarakat mampu meningkatkan stamina serta daya tahan tubuh dan bahkan meringankan berbagai macam penyakit, seperti asam urat, stroke, asma, rematik, dan proses pemulihan pasca-sakit.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-beternak-ulat-hongkong\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Cara Beternak Ulat Hongkong Bagi Pemula<\/strong><\/a><\/p>\n<p>Terdapat 3\u00a0jenis rasa madu lanceng, yaitu manis, asam, dan pahit. Madu rasa asam dan pahit dijual dengan harga Rp\u00a0500 ribu per liter, sedangkan yang manis sebesar Rp\u00a0350 ribu per liter. Selain\u00a0itu, terpengaruh dari sumber makanan,\u00a0maka rasa asam dan pahit ini berasal dari proses fermentasi yang menghasilkan enzim-enzim yang berguna bagi kesehatan. Oleh karena\u00a0itu,\u00a0harganya menjadi lebih mahal. Penyimpanan madu hendaknya tidak menggunakan lemari pendingin namun cukup di ruang terbuka agar proses fermentasi tidak terhenti.<\/p>\n<p>Satu koloni lebah lanceng dalam 3-6 bulan dapat ditangkarkan menjadi 2\u00a0koloni baru. Satu koloni saat ini dihargai Rp\u00a0650 ribu. Penempatan koloni sebaiknya berada pada area tanaman bunga dan buah sebagai penghasil makanan lebah. Lebah lanceng adalah jenis lebah yang tidak memilih-memilih jenis bunga sehingga lebih memudahkan peternak dalam menempatkan sarang koloni.<\/p>\n<p>Hanya saja,\u00a0daya jelajah lebah ini terbatas pada radius 500 meter dan tinggi terbang 30 meter\u00a0sehingga peternak dapat merekayasa komposisi tanaman bunga dan buah pada daya jelajah dan ketinggian tersebut. Lebah ini akan melahap berbagai bunga seperti jambu air, kelengkeng, jeruk, kelapa, belimbing, kaliandra, mahoni, aren, pepaya, dan sebagainya. Agar ketersediaan pangan melimpah,\u00a0maka tanaman-tanaman bunga dan buah di sekitar kandang koloni perlu dipupuk.<\/p>\n<h2><strong><b>Sarang Kendil<\/b><\/strong><\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3568\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Budidaya-Lebah-Trigona.jpg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"853\" \/><\/p>\n<p>Mulai tahun 2010, Sugeng mengganti sarang koloni dari tabung bambu menjadi kendil. Keunggulan kendil adalah mampu menjaga suhu udara menjadi lebih dingin, tidak lapuk sehingga tidak mengotori hasil madu serta lebih awet, dan tetap aman apabila terkena hujan serta asap pembakaran. Perlu diketahui bahwa lebah ini tidak suka sarangnya terkena sinar matahari langsung, suhu yang panas, serta asap pembakaran.<\/p>\n<p>Produksi madu lanceng biasanya menurun pada bulan Juni-Agustus karena pengaruh musim kemarau yang menyebabkan ketersediaan pakan berkurang. \u201cPenurunan bisa sampai 50 persen,\u201d hitung Sugeng. Sedangkan pada bulan Desember-Januari,\u00a0penurunan diperkirakan sebesar 20% akibat tingginya curah hujan yang menyebabkan nektar bunga larut di dalam air\u00a0dan tidak terhisap oleh lebah.<\/p>\n<p>Kualitas madu juga ditentukan oleh kondisi kelembaban udara. Di Gunung Kidul yang cuacanya kering,\u00a0menyebabkan lingkungan yang tidak terlalu lembab. Hal itu membuat kadar air pada madu mencapai kondisi ideal, yaitu pada kisaran 11 persen. Hal itu akan membuat madu menjadi \u2018matang\u2019 sempurna karena proses fermentasinya menjadi lebih optimal. \u201cDengan demikian kualitas madu pada daerah yang berbeda bisa berbeda pula,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/peluang-usaha-ternak\/\" rel=\"bookmark\"><strong>7 Peluang Usaha Ternak Yang Wajib Kamu Tahu<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis: <strong>Isman, S.Pt.<\/strong><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di .<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada yang istimewa dari madu Trigona sp. Selama belasan tahun,\u00a0harganya belum pernah turun dan produksinya selalu belum mencukupi kebutuhan. Hal ini menjadikan lanceng, nama Jawa dari lebah Trigona sp ini&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3567,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[1234,1423,842],"tags":[804,803,802,91,801],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Beternak-Lebah-Trigona-Peluang-Bisnis-Sampingan-yang-Menjanjikan.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3566"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3566"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3566\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3570,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3566\/revisions\/3570"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3567"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3566"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3566"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3566"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}