{"id":3839,"date":"2025-03-17T01:00:22","date_gmt":"2025-03-16T18:00:22","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=3839"},"modified":"2025-03-17T08:37:48","modified_gmt":"2025-03-17T01:37:48","slug":"sistem-terpadu-padi-dan-bebek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/sistem-terpadu-padi-dan-bebek\/","title":{"rendered":"Sistem Terpadu Padi dan Bebek Mendukung Pertanian Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p>Mengingat bertambahnya populasi manusia,\u00a0maka semakin meningkat pula kebutuhan akan pangan. Kebutuhan pangan yang semakin meningkat mengakibatkan perkembangan dalam bidang pertanian dan munculnya konsep <em><i>green revolution<\/i><\/em>\u00a0yang menuntut produktivitas tinggi dengan penggunaan bahan-bahan sintetik secara terus menerus.<\/p>\n<p>Akibat dari konsep <em><i>green revolution <\/i><\/em>tersebut adalah menurunnya produktivitas lahan dan juga rusaknya keseimbangan ekosistem sehingga berakibat pada penurunan produksi suatu komoditas pertanian. Seiring dengan berjalannya waktu,\u00a0kesadaran masyarakat dunia terhadap lingkungan semakin hari semakin meningkat, terutama pada sektor pertanian. Dilandasi dengan adanya kesadaran tersebut,\u00a0maka munculah konsep sistem pertanian berkelanjutan.<\/p>\n<p>Pada artikel pertanian ini, akan diulas apa yang dimaksud dengan pertanian berkelanjutan dan juga implementasinya.<\/p>\n<h2>Apa itu Pertanian Berkelanjutan?<\/h2>\n<p>Pertanian berkelanjutan merupakan suatu sistem pertanian yang kembali ke alam, dimana sistem tersebut tidak merusak, tidak mengubah, dan menjaga keseimbangan lingkungan.<\/p>\n<p>Menurut Salikin (2003),\u00a0di kalangan pakar ilmu tanah atau agronomi, istilah sistem pertanian berkelanjutan dikenal istilah LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) yang merupakan sistem pertanian yang berupaya meminimalkan penggunaan sarana produksi (benih, pupuk kimia, pestisida, dan bahan bakar) yang berasal dari luar ekosistem yang apabila digunakan dalam jangka panjang,\u00a0dapat membahayakan keberlangsungan budidaya pertanian.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3841\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/Bebek.jpg\" alt=\"Bebek\" width=\"1280\" height=\"960\" \/><\/p>\n<p>Perpaduan antara budidaya tanaman dengan peternakan merupakan salah satu dari penerapan sistem pertanian berkelanjutan. Hingga saat ini,\u00a0telah ada beberapa sistem penanaman padi di Indonesia yang dikombinasikan dengan beternak hewan, seperti dengan ikan, udang, dan bebek.<\/p>\n<blockquote><p><strong>Klik &amp; Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mengenal-sistem-mina-padi\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Sistem Mina Padi, Kombinasi Lahan Sawah dengan Budidaya Ikan<\/strong><\/a><\/p><\/blockquote>\n<h2>Sistem Terpadu Padi dan Bebek<\/h2>\n<p>Perpaduan penanaman padi dengan bebek ini dilakukan di lahan sawah yang harus terjamin ketersediaan airnya. Penggunaan dari varietas padi dan juga jenis dari bebek ini sudah ditentukan. Varietas padi yang digunakan harus kuat dan juga tahan terhadap rebahan. Varietas padi yang memiliki kriteria tersebut antara lain varietas Gilirang, Fatmawati, dan Ciherang. Sedangkan untuk penggunaan jenis bebek,\u00a0menggunakan Tiktok yang merupakan itik pedaging unggul,\u00a0persilangan antara Entog jantan dengan Itik betina.<\/p>\n<p>Pengaplikasian\u00a0sistem penanaman padi dengan bebek tiktok\u00a0diawali\u00a0dengan penanaman padi sistem jajar legowo 2 baris dengan menggunakan jarak tanam dalam barisan 20 cm x 10 cm dan jarak tanam legowo 40 cm x 10 cm.<\/p>\n<p>Setelah dilakukan penanaman, padi didiamkan selama kurang lebih 14 hari setelah tanam supaya perakaran padi sudah mulai kuat. Bibit tiktok yang digunakan harus berumur 14 hari.\u00a0Akan tetapi,\u00a0bibit tersebut tidak langsung dilepas di areal persawahan, perlu adaptasi selama 1-2 hari di kandang yang telah disiapkan sebelumnya.<\/p>\n<p>Jumlah kepadatan Tiktok di areal persawahan berkisar 500-750 ekor\/ha. Untuk pemberian pakan,\u00a0yang diberikan berupa dedak dengan konsentrat 1:1, kurang lebih 45 gr\/ekor\/hari. Tiktok dapat dipanen pada umur 75 hari dengan bobot 2-2,5 kg, dan harus segera dipanen supaya tidak mengganggu perkembangan bulir padi.<\/p>\n<h2>Manfaat Sistem Terpadu Padi dan Bebek<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3842\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/Budidaya-Padi-Sambil-Beternak-Bebek.jpg\" alt=\"Budidaya Padi Sambil Beternak Bebek\" width=\"1280\" height=\"853\" \/><\/p>\n<p>Sistem pertanian terpadu ini\u00a0tentu memiliki banyak manfaat. Bersumber dari <em><i>j<\/i><\/em><em><i>akarta.litbang.pertanian.go.id<\/i><\/em>, jika menerapkan sistem pertanian terpadu antara padi dengan tiktok, pendapatan yang dihasilkan adalah sebesar Rp 12.381.600\/ha\/musim dan memiliki B\/C ratio 1,67. Jika dibandingkan dengan penanaman padi konvensional, maka petani mendapatkan tambahan pendapatan sebesar Rp 7.027.600\/ha\/musim.<\/p>\n<p>Keuntungan tersebut didapatkan karena pendapatan petani tidak hanya dari padi tetapi juga dari penjualan tiktok. Selain itu, adanya hubungan padi dengan tiktok menciptakan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Pada tanaman padi, tiktok mampu memberikan pupuk yang berupa kotorannya, membersihkan gulma, dan juga menjadi predator bagi hama yang menyerang tanaman padi.<\/p>\n<p>Dilihat dari manfaat tersebut,\u00a0maka dapat dipastikan input sarana produksi yang dikeluarkan petani akan berkurang dan juga tenaga kerja yang diperlukan akan sedikit karena tergantikan oleh adanya tiktok.<\/p>\n<p>Dengan adanya sistem pertanian terpadu antara padi dengan bebek ini,\u00a0diharapkan mampu mendukung terciptanya sistem pertanian berkelanjutan, dimana sistem pertanian tersebut\u00a0mampu mengurangi input sarana produksi terutama penggunaan bahan-bahan yang menimbulkan pencemaran seperti halnya pupuk anorganik, pestisida, dan bahan bakar, serta\u00a0juga mampu menjaga keseimbangan ekosistem.<\/p>\n<blockquote><p><strong>Klik &amp; Baca: <\/strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/langkah-sukses-beternak-bebek\/\" rel=\"bookmark\"><strong>6 Langkah Sukses Beternak Bebek<\/strong><\/a><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Penulis : <strong>M. Rizki Permadi Putra<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital belum? Silahkan klik di .<\/p>\n<p>Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di <strong><\/strong>.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengingat bertambahnya populasi manusia,\u00a0maka semakin meningkat pula kebutuhan akan pangan. Kebutuhan pangan yang semakin meningkat mengakibatkan perkembangan dalam bidang pertanian dan munculnya konsep green revolution\u00a0yang menuntut produktivitas tinggi dengan penggunaan&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3840,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[840,4,842],"tags":[229,46,848,849],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/Sistem-Terpadu-Padi-dan-Bebek-Mendukung-Terciptanya-Pertanian-Berkelanjutan.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3839"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3839"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3839\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4924,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3839\/revisions\/4924"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3840"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3839"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3839"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3839"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}