{"id":675,"date":"2018-08-03T08:48:21","date_gmt":"2018-08-03T01:48:21","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=675"},"modified":"2019-09-16T10:51:59","modified_gmt":"2019-09-16T03:51:59","slug":"sutarjo-petani-muda-buah-naga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/sutarjo-petani-muda-buah-naga\/","title":{"rendered":"Sutarjo, Petani Muda Buah Naga yang Meraih Penghargaan dari Kementan"},"content":{"rendered":"<p>Menimba ilmu pertanian, lalu mempraktikannya di ladang buah naga. Itulah pilihan Sutarjo, seorang petani muda buah naga yang meraih penghargaan pelopor petani muda dari Kementerian Pertanian pada tahun 2016.<\/p>\n<p>Sebuah tiang setinggi 2 meter cukup untuk dirambat 4 tanaman buah naga. Di lahan 5.000 m<sup>2<\/sup>, Sutarjo membudidayakan 1.400 tanaman buah naga pada tahun 2015. Tanaman-tanaman itu merambat di 350 tiang. Magori atau panen perdana adalah pada tahun 2016 saat tanaman berumur satu tahun. Pekebun di Desa Tanjungsari, Bogor itu memperoleh 750 kg buah naga.<\/p>\n<p>Satu tiang menghasilkan rata-rata 4-5 kg buah naga. Harga jual buah naga adalah Rp 30.000 per kg. Sutarjo meraih harga tinggi karena buah naga hasil panen berkualitas tinggi. Bobot buah 500 gram, warna daging buah merah terang, dan cita rasa manis menjadi penyebab mengapa hasil panennya terserap pasar.<\/p>\n<p>Pada suhu ruang, buah dapat bertahan selama sepekan. Masa konsumsinya lebih lama yaitu selama 2 pekan bila disimpan di dalam lemari es.<\/p>\n<p>Menurut Sutarjo, biaya produksi buah naga mencapai Rp 8.000-Rp 10.000 per kg. Biaya produksi itu sudah memperhitungkan pupuk, tenaga kerja, dan sewa lahan.<\/p>\n<p>Dalam mengatasi organisme pengganggu tanaman, petani muda buah naga ini tidak menggunakan pestisida kimiawi. Ia memilih memotong bagian tanaman yang terserang. Meskipun penanganannya lebih lama, produk yang dihasilkan lebih sehat.<\/p>\n<blockquote><p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-basmi-hama-minim-biaya-dan-pestisida\/\" rel=\"bookmark\">Cara Basmi Hama Minim Biaya dan Pestisida<\/a><\/strong><\/p><\/blockquote>\n<p>Sutarjo mengatakan, produksi tanaman akan meningkat pada tahun-tahun berikutnya. \u201cPada tahun kedua, prediksi panen meningkat menjadi 10 kg,\u201d kata Sutarjo. Panen semakin meningkat menjadi lebih dari 20 kg pada tahun ketiga hingga seterusnya.<\/p>\n<p>Sejatinya, Sutarjo membudidayakan 1.600 tanaman lagi pada tahun 2016. Tanaman itu kini berumur satu tahun. Sutarjo membudidayakan buah naga secara intensif. Ia menerapkan jarak antar tanaman sebesar 3 m x 3 m. Sebelum tanam, ia memasang tiang untuk menopang tanaman. Petani muda kelahiran Rembang ini membenamkan 20 kg pupuk kandang, 1 kg sekam, dan 2 kg kapur sebagai pupuk dasar per lubang tanam.<\/p>\n<p>Kemudian, ia menanam bibit yang telah bertunas yang sebelumnya sudah disemai selama 1,5-2 bulan. Pada umur 2 pekan setelah tanam, ia mengikat bibit pada tiang. Setiap 20 cm dilakukan pengikatan hingga ujung tiang. Di bagian ujung, pengikatannya menggunakan <em>strapping<\/em> plastik.<\/p>\n<p>Umumnya, pekebun buah naga memanfaatkan ban untuk menopang tanaman. Namun, Sutarjo justru menggunakan <em>strapping<\/em> plastik untuk mengikat tanaman. \u201cPenggunaan <em>strapping<\/em> plastik mengefisienkan biaya,\u201d kata Sutarjo. Serangan penggangu tanaman juga dapat berkurang. Pada ban, ada rongga tersisa yang menyebabkan adanya genangan air sehingga dapat memicu serangan organisme pengganggu. Sementara itu, penggunaan <em>strapping<\/em> plastik tidak menyisakan celah.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-679\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/red-dragon-fruit-1973815_1280.jpg\" alt=\"Buah Naga\" width=\"1280\" height=\"853\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/red-dragon-fruit-1973815_1280.jpg 1080w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/red-dragon-fruit-1973815_1280-300x200.jpg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/red-dragon-fruit-1973815_1280-768x512.jpg 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/red-dragon-fruit-1973815_1280-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/red-dragon-fruit-1973815_1280-600x400.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><\/p>\n<p>Uniknya, Sutarjo menerapkan penjualan buah langsung ke konsumen (<em><i>direct selling<\/i><\/em>). Konsumen datang ke kebun memetik buah sendiri, menimbang, dan membayar Rp 30.000 per kg. Sutarjo memang merencanakan membuka kebun agrowisata. Dengan melihat kebun secara langsung, konsumen biasanya lebih bahagia dan tahu bagaimana proses produksinya.<\/p>\n<blockquote><p><strong>Baca:\u00a0<\/strong><a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/masalah-menahun-pertanian-indonesia\/\" rel=\"bookmark\"><strong>Ini Dia Masalah Menahun Pertanian di Indonesia<\/strong><\/a><\/p><\/blockquote>\n<p>Sutarjo tidak memasarkan buah naga ke toko karena biasanya harganya lebih murah. Selain itu, budidaya intensif membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Ia mengatakan, dengan menciptakan pasar sendiri, harga jual produk juga lebih stabil. Cara yang diterapkan Sutarjo pertama kali dalam mencari pasar adalah menjemput bola. Ia mendatangi perumahan-perumahan, membagikan brosur, mengikuti pameran, dan mempublikasi lewat media sosial.<\/p>\n<p>Ia juga menciptakan <em>personal branding<\/em> sendiri. Contohnya, produk yang dihasilkan tidak menggunakan pestisida, zat pengatur tumbuh (ZPT), bercita rasa manis, dan orang bisa datang ke lahan. Promosi itu sudah gencar ia lakukan ketika tanaman berada pada fase vegetatif. Sampai sekarang, ia pun masih gencar melakukan promosi.<\/p>\n<p>Selain menjual produk berkualitas, Sutarjo juga kerap memberikan edukasi kepada pengunjung.<\/p>\n<p>Menjadi yang pertama dalam ber-agribisnis memang jarang. Sebab, sudah banyak orang yang berkecipung di bidang pertanian, apalagi buah naga. Namun, agar produk bisa bertahan, \u201cHarus berbeda dengan yang lain dalam hal kebaikan, itulah yang saya pakai,\u201d ujar Sutarjo. Pembedanya bisa banyak hal, misalnya dari teknologi, <em>personal branding<\/em>, atau <em>product branding<\/em>. Dengan begitu, produk yang dihasilkan memiliki daya tarik tersendiri.<\/p>\n<p>Ketertarikan Sutarjo pada buah naga bermula ketika masih kuliah. Pada semester 7, ia belajar di Sabisa Farm (kebun milik Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor). Pembina Sabisa Farm adalah Gun Sutopo, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Buah Naga Nasional. Dari sanalah, semangat Sutarjo mengembangkan buah naga muncul, \u201cSaya sarjana pertanian harus bergerak di bidang pertanian terutama mulai dari <em>on farm<\/em>,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Itulah kisah Sutarjo sebagai petani muda buah naga yang patut dicontoh oleh anak-anak muda lainnya untuk terjun ke dunia pertanian.<\/p>\n<blockquote><p><strong>Baca: <a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cerita-dosen-petani-kopi\/\">Cerita Dosen Sekaligus Petani Kopi<\/a><\/strong><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis:\u00a0<strong>Yusril Wicaksana<\/strong><\/p>\n<hr \/>\n<p>Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di\u00a0<strong><\/strong>.<\/p>\n<p>Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di\u00a0<strong><\/strong>.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menimba ilmu pertanian, lalu mempraktikannya di ladang buah naga. Itulah pilihan Sutarjo, seorang petani muda buah naga yang meraih penghargaan pelopor petani muda dari Kementerian Pertanian pada tahun 2016. Sebuah&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":677,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[70,862],"tags":[121,12,80],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/sutarjo-petani-muda-buah-naga.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/675"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=675"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/675\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4825,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/675\/revisions\/4825"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/677"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=675"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=675"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=675"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}