{"id":841,"date":"2023-09-20T01:06:16","date_gmt":"2023-09-19T18:06:16","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=841"},"modified":"2023-09-20T10:35:51","modified_gmt":"2023-09-20T03:35:51","slug":"penyebab-hama-meningkat-pestisida","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/penyebab-hama-meningkat-pestisida\/","title":{"rendered":"4 Penyebab Hama Meningkat Setelah Penggunaan Pestisida"},"content":{"rendered":"<p>Salah satu masalah terbesar dalam pertanian adalah hama. Biasanya, masalah ini diatasi petani dengan mengaplikasikan pestisida pada tanaman. Tujuannya memang untuk membunuh hama. Akan tetapi, pada kenyataannya, seringnya\u00a0penggunaan pestisida justru meningkatkan populasi hama. Hal ini terjadi karena penggunaan pestisida yang kurang tepat dan bijaksana, kurangnya\u00a0pengetahuan petani mengenai perhitungan pestisida yang digunakan untuk membasmi hama tanaman.<\/p>\n<p>Berikut ini adalah 3 faktor yang menyebabkan peningkatan hama setelah penggunaan pestisida pada tanaman.<\/p>\n<h3><strong><b>Ketahanan hama terhadap pestisida<\/b><\/strong><\/h3>\n<p>Dari banyaknya populasi hama yang ada, biasanya terdapat individu yang memiliki sifat genetik tahan terhadap jenis pestisida tertentu. Individu-individu yang tahan terhadap pestisida tersebut akan berkembangbiak menjadi populasi hama.<\/p>\n<p>Hal ini sering dikenal dengan istilah <strong>resistensi<\/strong>, yaitu kondisi dimana terdapat populasi hama yang tidak dapat dikendalikan oleh pestisida yang di awal seharusnya berfungsi untuk membunuh populasi hama tersebut.<\/p>\n<p>Di Indonesia, terdapat beberapa jenis hama yang bersifat resisten terhadap pestisida, seperti hama kubis\u00a0<em><i>Plutella xylostella<\/i><\/em>, hama kubis\u00a0<em><i>Crocidolomia pavonana<\/i><\/em>, hama penggerek umbi kentang\u00a0<em><i>Phthorimaea operculella<\/i><\/em>, dan ulat grayak\u00a0<em><i>Spodoptera litura.<\/i><\/em><\/p>\n<p>Beberapa hama tanaman padi juga ada yang resisten terhadap jenis pestisida tertentu, seperti wereng coklat<em><i>\u00a0(Nilaparvata lugens),\u00a0<\/i><\/em>hama walang sangit<em><i>(Nephotettix inticeps)\u00a0<\/i><\/em>dan ulat penggerek batang<em><i>\u00a0(Chilo suppressalis). <\/i><\/em>Bahkan, ketiga jenis hama tersebut mengalami peningkatan ketahanan terhadap pestisida.<\/p>\n<p>Dengan adanya peningkatan ketahanan hama terhadap pestisida, petani terdorong untuk semakin sering melakukan penyemprotan pestisida, bahkan menambah dosisnya. Padahal, penggunaan pestisida yang berlebihan ini dapat kembali meningkatkan peningkatan populasi hama.\u00a0Dalam hal ini, cara kerja pestisida hampir sama dengan cara kerja antibiotik.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-basmi-hama-minim-biaya-dan-pestisida\/\" rel=\"bookmark\">Cara Basmi Hama Minim Biaya dan Pestisida<\/a><\/strong><\/p>\n<h3><strong><b>Resurgensi hama<\/b><\/strong><\/h3>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-843\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Resurgensi-Hama.jpg\" alt=\"Resurgensi Hama\" width=\"1920\" height=\"1191\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Resurgensi-Hama.jpg 1920w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Resurgensi-Hama-300x186.jpg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Resurgensi-Hama-768x476.jpg 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Resurgensi-Hama-1024x635.jpg 1024w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Resurgensi-Hama-600x372.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><\/p>\n<p>Pada tahap awal, penggunaannya memang cukup berhasil untuk menekan populasi hama. Namun, dalam periode tertentu, hama dapat meningkat karena pestisida juga mengakibatkan matinya musuh alami hama.<\/p>\n<p>Inilah yang dikenal dengan resurgensi, yakni kondisi di mana pestisida, sebagai racun yang berspektrum luas, juga membunuh musuh alami hama, seperti polinator, burung, ikan, dan musuh alami lainnya.<\/p>\n<p>Selain karena matinya musuh alami hama, resurgensi hama juga dapat disebabkan oleh\u00a0jenis-jenis pestisida tertentu yang justru memacu peningkatan telur serangga hama. Hal ini telah dibuktikan \u00a0oleh International Rice Research Institute terhadap hama Wereng Coklat (<em><i>Nilaparvata lugens<\/i><\/em>).<\/p>\n<p><strong>Baca juga:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-mengusir-hama-burung-padi\/\" rel=\"bookmark\">5 Cara Ampuh Mengusir Hama Burung Padi<\/a><\/strong><\/p>\n<h3><strong><b>Timbulnya hama sekunder<\/b><\/strong><\/h3>\n<p>Melalui penggunaan pestisida, petani mungkin merasakan populasi hama semakin berkurang. Namun di balik itu, ada hal lain yang menjadi masalah. yakni munculnya hama baru yang sebelumnya tidak menjadi masalah\u2014setelah populasi hama lama terkendali.<\/p>\n<p>Jenis hama tertentu dapat dikendalikan oleh musuh alami. Namun,\u00a0setelah penerapan pestisida pada tanaman pertanian, musuh alami hama justru mati sehingga muncullah hama-hama baru yang tidak terkendali.<\/p>\n<p>Contohnya, hama wereng cokelat. Wereng cokelat sendiri baru ditemukan pada tahun 1970-an, dimana terdapat pemakaian insektisida berjadwal, penanaman tanaman terus-menerus, adanya tanaman sukulen karena tingginya dosis pupuk N, dan matinya musuh alami wereng tersebut.<\/p>\n<h3><strong><b>Pestisida mengalir ke perairan<\/b><\/strong><\/h3>\n<p>Sisa pemakaian pestisida dapat merusak ekosistem air yang berada di sekitar lahan pertanian. Hal ini disebabkan oleh\u00a0pestisida yang membuat air tercemar. Air yang telah tercemar kemudian menyebar dan menyuburkan ganggang di daerah perairan, biasanya sungai dan irigasi.<\/p>\n<p>Karena ganggang-ganggang tersebut tumbuh subur, maka cahaya matahari sulit masuk ke dasar air dan mengakibatkan hewan-hewan dan fitoplankton tidak mendapatkan cahaya. Jika fitoplankton tidak mendapatkan cahaya, maka ia akan mati karena tidak akan dapat berfotosintesis. Jika ia adalah musuh alami hama tertentu, maka hama tersebut akan terus berkembangbiak.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-membuat-dan-mengaplikasikan-pestisida-tembakau\/\" rel=\"bookmark\">Cara Membuat dan Mengaplikasikan Pestisida Tembakau<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Penulis:\u00a0<a href=\"http:\/\/geniuslector.com\/\"><strong>Hutri Cika Berutu<\/strong><\/a>\u00a0<\/em><\/p>\n<hr \/>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu masalah terbesar dalam pertanian adalah hama. Biasanya, masalah ini diatasi petani dengan mengaplikasikan pestisida pada tanaman. Tujuannya memang untuk membunuh hama. Akan tetapi, pada kenyataannya, seringnya\u00a0penggunaan pestisida justru&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":842,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[846,4],"tags":[47,55,12],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-yang-menggunakan-pestisida-di-sawah.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/841"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=841"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/841\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1037,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/841\/revisions\/1037"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/842"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=841"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=841"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=841"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}