{"id":845,"date":"2023-12-19T01:00:41","date_gmt":"2023-12-18T18:00:41","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=845"},"modified":"2023-12-19T15:05:25","modified_gmt":"2023-12-19T08:05:25","slug":"penyebab-lahan-pertanian-kritis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/penyebab-lahan-pertanian-kritis\/","title":{"rendered":"6 Penyebab Lahan Pertanian di Indonesia Semakin Kritis"},"content":{"rendered":"<p>Seperti yang kita ketahui, pertanian merupakan salah satu aspek paling penting dalam kehidupan karena dari hasil pertanian-lah,\u00a0kita dapat memperoleh pangan. Pertanian juga merupakan objek vital yang berhubungan dengan isu-isu penting dunia saat ini, seperti kemiskinan, kelaparan,\u00a0GM (Genetic Modified), dan pengembangan\u00a0yang sangat erat kaitannya dengan pertanian.<\/p>\n<p>Namun demikian, di Indonesia,\u00a0lahan pertanian semakin kritis atau menyempit,\u00a0disebabkan\u00a0oleh alih fungsi lahan\u00a0menjadi perumahan, hotel, dan bangunan lainnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mari simak uraian berikut.<\/p>\n<h3>SDM pertanian Indonesia yang rendah<\/h3>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-860\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-sebagai-SDM-yang-penting-dalam-memproduksi-pangan.jpeg\" alt=\"Petani sebagai SDM yang penting dalam memproduksi pangan\" width=\"1280\" height=\"850\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-sebagai-SDM-yang-penting-dalam-memproduksi-pangan.jpeg 1280w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-sebagai-SDM-yang-penting-dalam-memproduksi-pangan-300x199.jpeg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-sebagai-SDM-yang-penting-dalam-memproduksi-pangan-768x510.jpeg 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-sebagai-SDM-yang-penting-dalam-memproduksi-pangan-1024x680.jpeg 1024w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-sebagai-SDM-yang-penting-dalam-memproduksi-pangan-600x398.jpeg 600w\" sizes=\"(max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><\/p>\n<p>Mayoritas petani Indonesia berusia lebih dari 50 tahun. Mereka tentunya kurang atau bahkan tidak melek teknologi. Padahal, dengan penguasaan teknologi, dapat sangat membantu dalam pengembangan pertanian.<\/p>\n<p>Selain itu, bagi generasi muda, mereka biasanya gengsi untuk kuliah di pertanian atau bekerja di bidang pertanian karena paradigma masyarakat yang negatif terhadap petani. Oleh karena itu,\u00a0kebanyakan anak muda\u00a0gengsi, mereka lebih memilih untuk kuliah di jurusan yang dianggap keren.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/indonesia-krisis-padi-atau-krisis-petani\/\" rel=\"bookmark\">Indonesia Krisis Padi atau Krisis Petani?<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Tidak ada jaminan dari pemerintah<\/h3>\n<p>Biaya produksi yang tinggi dan harga jual yang rendah seringkali merugikan petani. Padahal,\u00a0rata-rata petani di Indonesia termasuk petani kecil\u00a0dengan skala kepemilikan lahan yang tergolong sempit dibandingkan\u00a0dengan negara lain seperti Australia dan AS.<\/p>\n<p>Hal ini mengakibatkan petani semakin terpuruk. Jika produksi berlebih dan harga anjlok,\u00a0tidak ada jaminan keamanan harga dari pemerintah\u00a0sehingga banyak petani yang memilih mengalihfungsikan lahannya dan bekerja di sektor lain.<\/p>\n<h3>Sistem distribusi yang rumit<\/h3>\n<p>Hasil panen petani pada umumnya akan dibeli oleh tengkulak\u00a0dan akan berpindah ke beberapa tengkulak\/pedagang sampai ke tangan konsumen.\u00a0Harga\u00a0dari petani sebenarnya murah tetapi saat sampai ke konsumen, harganya\u00a0dapat berkali lipat lebih mahal. Bukan petani yang mendapatkan keuntungan, melainkan para pedagang.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/fakta-tantangan-pertanian-indonesia\/\" rel=\"bookmark\">Fakta dan Tantangan Pertanian di Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Penguasaan teknologi pasca panen yang rendah<\/h3>\n<p>Hal ini berkaitan erat dengan poin sebelumnya. Karena penguasaan teknologi pasca panen di kalangan petani\u00a0yang rendah, petani terpaksa langsung menjual hasil panennya kepada tengkulak\u00a0saat keadaannya masih segar. Padahal,\u00a0jika bisa mengolahnya\u00a0menjadi bentuk lain, hal itu akan meningkatkan nilai jualnya.<\/p>\n<h3>Tingkat impor yang tinggi<\/h3>\n<figure id=\"attachment_848\" aria-describedby=\"caption-attachment-848\" style=\"width: 858px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-848\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Perbedaan-Kedelai-Lokal-dan-Impor.png\" alt=\"Perbedaan Kedelai Lokal dan Impor\" width=\"858\" height=\"330\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Perbedaan-Kedelai-Lokal-dan-Impor.png 858w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Perbedaan-Kedelai-Lokal-dan-Impor-300x115.png 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Perbedaan-Kedelai-Lokal-dan-Impor-768x295.png 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Perbedaan-Kedelai-Lokal-dan-Impor-600x231.png 600w\" sizes=\"(max-width: 858px) 100vw, 858px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-848\" class=\"wp-caption-text\"><em>Sumber: digikedelai.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Karena biaya input yang tinggi, harga produk pertanian lokal pun juga tinggi dan kalah saing dengan produk impor yang lebih murah, Produk impor memiliki kualitas yang lebih baik\u00a0dan terlihat lebih menarik karena sudah didukung oleh bibit unggul dan alat pertanian modern. Alhasil,\u00a0banyak orang malas bertani dan mengalihfungsikan lahannya.<\/p>\n<h3>Bidang usaha non-pertanian yang terlihat lebih menjanjikan<\/h3>\n<p>Hasil ekonomi dari sektor pertanian selama ini terlihat tidak menjanjikan dibanding sektor lainnya karena pada dasarnya, banyak masyarakat Indonesia yang tidak menekuni pertanian, mereka hanya memanfaatkan pertanian sebagai sampingan atau saat mereka sudah pensiun dari pekerjaan utamanya.<\/p>\n<p>Bekerja di sektor pertanian harus giat, dan hasilnya tidak bisa diprediksi, kemungkinan gagal panen selalu ada. Jadi, banyak masyarakat yang mengalihfungsikan lahannya untuk sektor lain. Misalkan,\u00a0properti yang disewakan, menyewakan properti dianggap lebih menjanjikan karena akan menghasilkan nilai ekonomi yang jelas dan tidak ada resiko gagal panen.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Hal-hal di\u00a0atas\u00a0lah yang mengakibatkan banyak petani mengalihfungsikan lahannya. Sementara di sisi lain, teknologi kita belum mumpuni untuk bertani dengan lahan minim seperti Jepang.\u00a0Meskipun negaranya kecil dan lahan pertanian sangat minim, mereka mampu bertani modern dengan hasil yang sangat menjanjikan.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/masalah-menahun-pertanian-indonesia\/\" rel=\"bookmark\">Ini Dia Masalah Menahun Pertanian di Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Sumber gambar utama:\u00a0sinergi.radarmalang.id<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis:\u00a0<strong>Nevy Widya Pangestika<em><br \/>\n<\/em><\/strong><em>Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana<\/em><\/p>\n<hr \/>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seperti yang kita ketahui, pertanian merupakan salah satu aspek paling penting dalam kehidupan karena dari hasil pertanian-lah,\u00a0kita dapat memperoleh pangan. Pertanian juga merupakan objek vital yang berhubungan dengan isu-isu penting&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":846,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[1234,4],"tags":[170,6,12],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Lahan-Pertanian.png","author_info":{"display_name":"Nevy Widya Pangestika","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/nevy-widya-pangestika\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/845"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=845"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/845\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":868,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/845\/revisions\/868"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/846"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=845"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=845"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=845"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}