{"id":863,"date":"2024-11-04T01:44:57","date_gmt":"2024-11-03T18:44:57","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=863"},"modified":"2024-11-04T09:06:03","modified_gmt":"2024-11-04T02:06:03","slug":"mengapa-sawah-hilang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mengapa-sawah-hilang\/","title":{"rendered":"Mengapa Sawah &#8216;Hilang&#8217;? Apa Penyebabnya?"},"content":{"rendered":"<p>Hilang? Sebenarnya sawah tidak hilang, melainkan mengalami alih fungsi menjadi lahan perkebunan bahkan lahan permukiman.<\/p>\n<p><em><i>Nah loeh<\/i><\/em><em><i>,<\/i><\/em>\u00a0kalau begitu,\u00a0di\u00a0masa depan,\u00a0akankah kita mampu beralih fungsi selera juga, menjadikan mie dan roti sebagai makanan pokok yang bahan bakunya berasal dari negara lain? Saya rasa itu tidak mungkin. Lidah masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan beras bahkan di\u00a0kalangan masyarakat,\u00a0muncul ungkapan \u201ckalau tidak makan nasi, namanya belum makan\u201d.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, sawah menjadi area yang wajib dipertahankan,\u00a0mengingat sebagian besar penduduk Indonesia masih menjadikan beras sebagai makanan pokok.<\/p>\n<p>Namun,\u00a0seiring berjalannya waktu,\u00a0sawah semakin lama semakin \u201cmenghilang\u201d. Petani menjadi tokoh utama yang dicari dan dimintai keterangan, mengingat mereka-lah faktor penting dan penentu hilangnya sawah.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/fakta-tentang-beras-di-indonesia\/\" rel=\"bookmark\">Fakta tentang Padi (Beras) di Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Saya mencoba mencari informasi dengan turun langsung ke\u00a0wilayah sentra beras di Kabupaten Pasaman Barat. Beberapa alasan terungkap kenapa petani beralih membudidayakan komoditi lain. Berikut adalah beberapa alasannya.<\/p>\n<h3>Rusaknya jaringan irigasi<\/h3>\n<p>Jaringan irigasi sangat penting untuk menjaga pasokan air di areal sawah petani dalam segala musim. Dengan terkelolanya sumber daya air yang mengaliri sawah,\u00a0produktivitas tanaman akan optimal dan lahan petani terhindar dari kekeringan.<\/p>\n<p>Namun,\u00a0di lapangan,\u00a0terjadi kerusakan jaringan irigasi baik primer, sekunder, maupun tersier yang disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor alami seperti gempa bumi dan banjir. Kerusakan sarana irigasi juga disebabkan oleh kurangnya\u00a0perawatan dan faktor usia.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-865\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Perbaikan-jaringan-irigasi-program-RJIT.jpg\" alt=\"Perbaikan jaringan irigasi program RJIT\" width=\"4272\" height=\"2848\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Perbaikan-jaringan-irigasi-program-RJIT.jpg 4272w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Perbaikan-jaringan-irigasi-program-RJIT-300x200.jpg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Perbaikan-jaringan-irigasi-program-RJIT-768x512.jpg 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Perbaikan-jaringan-irigasi-program-RJIT-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Perbaikan-jaringan-irigasi-program-RJIT-600x400.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 4272px) 100vw, 4272px\" \/><\/p>\n<p>Mengenai\u00a0masalah tersebut,\u00a0pemerintah sebenarnya sudah menjawab keluhan petani dengan membangun kembali jaringan irigasi yang rusak melalui program yang bekerja sama dengan pihak \u2013 pihak terkait seperti PUPR dan Kementerian Pertanian. Program IPDMIP, DAM PARIT, RJIT adalah contoh program yang secara bertahap dan berkelanjutan diberikan kepada kelompok tani yang jaringan irigasi di\u00a0kawasan persawahannya mengalami kerusakan.<\/p>\n<p>Akan tetapi,\u00a0masalahnya tidak hanya tentang air yang sudah kembali mengalir. Mengembalikan lahan sawah menjadi seperti semula setelah ditanami tanaman lain tidaklah mudah.\u00a0Petani harus mengalami penurunan pendapatan pada awal musim\u00a0karena struktur tanah sudah mengalami kerusakan karena tidak lagi dialiri air dalam jangka waktu yang lama.<\/p>\n<h3>Serangan hama burung dan tikus<\/h3>\n<p>Hama burung dan tikus menjadi penyebab gagal panen yang membuat petani enggan untuk kembali menanam padi. Kondisi seperti ini sebenarnya bisa diatasi dengan menerapkan tanam serentak pada lahan sawah. Selain itu,\u00a0petani harus sedikit ramah kepada hama burung dan tikus dengan menyediakan sumber makanan alami di kawasan persawahan.<\/p>\n<p>Burung tidak akan memakan padi jika di pinggir area sawah ditanam tanaman seperti pohon seri dan biji-bijian lainnya. Sementara itu, hama tikus bisa diatasi dengan menjaga kebersihan areal persawahan.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-mengusir-hama-burung-padi\/\" rel=\"bookmark\">5 Cara Ampuh Mengusir Hama Burung Padi<\/a><\/strong><\/p>\n<h3>Ketersediaan sarana produksi<\/h3>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-866\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-menanam-benih.jpeg\" alt=\"Petani menanam benih\" width=\"1280\" height=\"853\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-menanam-benih.jpeg 1280w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-menanam-benih-300x200.jpeg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-menanam-benih-768x512.jpeg 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-menanam-benih-1024x682.jpeg 1024w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Petani-menanam-benih-600x400.jpeg 600w\" sizes=\"(max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><\/p>\n<p>Ketersediaan benih dan pupuk yang tidak selalu ada mengakibatkan petani memutuskan untuk beralih menanam tanaman lain di\u00a0areal sawah mereka. Kondisi ini sebenarnya bisa diatasi jika petani tepat waktu menyerahkan Rencana Definitif Kelompok Tani (RDKK) setiap tahunnya, sehingga pemerintah dapat mengalokasikan ketersedian benih dan pupuk pada lokasi tersebut tepat waktu dan tepat jumlah.<\/p>\n<h3>Efektifitas waktu dan tenaga<\/h3>\n<p>Menanam padi dianggap lebih banyak menyita waktu dan tenaga dibanding menanam komoditi lain. Padi membutuhkan perhatian ekstra mulai dari\u00a0pengaturan air hingga pengontrolan pertumbuhan tanaman tiap hari.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, petani menganggap budidaya padi sedikit merepotkan dan memilih beralih ke\u00a0komoditi lain seperti jagung bahkan kelapa sawit.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Permasalahan alih fungsi lahan yang mengakibatkan sawah \u201chilang\u201d\u00a0adalah masalah yang sudah menahun. Artinya petani cenderung akan menanami lahannya dengan komoditi yang dianggap memberikan keuntungan yang lebih tinggi tanpa harus direpotkan\u00a0dengan rutinitas yang menguras waktu dan tenaga.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/masalah-menahun-pertanian-indonesia\/\" rel=\"bookmark\">Ini Dia Masalah Menahun Pertanian di Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Hilangnya sawah juga disebabkan\u00a0oleh pembangunan pemukiman. Dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga dan budaya sistem pembagian warisan,\u00a0saya rasa juga menjadi penyebab yang perlu diperhatikan mengingat petani Indonesia belum benar-benar belajar dari petani negara maju.<\/p>\n<p>Di negara maju seperti Jepang,\u00a0areal pertanian hanya diwariskan kepada 1\u00a0anggota keluarga yang benar-benar berkomitmen menjadi petani, sehingga luas lahan bisa dipertahankan. Sementara,\u00a0di Indonesia,\u00a0cenderung menganut pembagian warisan sama rata sehingga luas lahan berkurang dan cenderung beralih fungsi menjadi lahan\u00a0pemukiman. Luas lahan akan mempengaruhi dana produksi yang harus dikeluarkan petani. Semakin sempit lahan,\u00a0semakin besar dana produksi sehingga keuntungan yang diperoleh akan menjadi semakin kecil.<\/p>\n<p>Keberadaan kelompok tani dan koperasi menjadi solusi yang konkrit namun tidak dilakoni secara serius oleh petani, sehingga banyak kelompok tani yang sekedar terdaftar. Muncul ketika ada program dan tidak punya visi dan misi ke\u00a0depan.<\/p>\n<p>Disinilah para sarjana pertanian berperan. Mau tidak mau,\u00a0sebagai generasi muda kita harus turun tangan. Setidaknya kita hadir di\u00a0antara petani, berbagi informasi tentang teknologi dan pemikiran terbaru serta yang paling penting adalah kita mau dan bangga menyebut diri sebagai sarjana pertanian yang menjadi petani,\u00a0bukan sarjana pertanian yang memakai seragam kemudian duduk manis di dalam ruangan. Kecuali kalian mau mengubah pola makan menjadi makan mie dan roti\u00a0dan cukup kenyang dengan <em><i>game<\/i><\/em>\u00a0dan media sosial setiap hari.<\/p>\n<p>Yuk, mari jadi petani!<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis:\u00a0<strong><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/sulassky\/\">Sulassky<\/a><br \/>\n<\/strong><em>Farmer \u2013 Traveller \u2013 Blogger<\/em><\/p>\n<hr \/>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hilang? Sebenarnya sawah tidak hilang, melainkan mengalami alih fungsi menjadi lahan perkebunan bahkan lahan permukiman. Nah loeh,\u00a0kalau begitu,\u00a0di\u00a0masa depan,\u00a0akankah kita mampu beralih fungsi selera juga, menjadikan mie dan roti sebagai&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":864,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[840,19],"tags":[12,141],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Jajar-Legowo.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/863"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=863"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/863\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":903,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/863\/revisions\/903"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/864"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=863"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=863"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=863"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}