{"id":904,"date":"2022-06-26T04:29:13","date_gmt":"2022-06-25T21:29:13","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=904"},"modified":"2022-06-26T10:29:55","modified_gmt":"2022-06-26T03:29:55","slug":"daun-indigofera-pewarna","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/daun-indigofera-pewarna\/","title":{"rendered":"Daun Indigofera Bisa Dijadikan Sebagai Pewarna Tekstil Alami"},"content":{"rendered":"<p>Daun indigofera, yang biasanya digunakan sebagai pakan ternak di Indonesia, ternyata memiliki prospek yang sangat baik untuk dijadikan sebagai pewarna tekstil alami. Terlebih lagi, batik yang merupakan warisan budaya nusantara, sangat cocok untuk diwarnai dengan daun indigofera karena tidak mudah luntur.<\/p>\n<p>Produksi batik dengan menggunakan pewarna alami memiliki nilai yang lebih tinggi, merupakan suatu inovasi yang baru dan lebih ramah lingkungan. Produksi daun indigofera kering di Indonesia mencapai 30 ton per hektar per tahun\u00a0(Tarin et al 2010).<\/p>\n<h3><strong><b>Pigmen Biru Alami<\/b><\/strong><\/h3>\n<p>Pewarna alami dari daun indigofera ini akan menghasilkan warna biru. Pigmen biru alami sangat umum dijumpai di <em><i>kingdom plantae<\/i><\/em><em><i>,<\/i><\/em>\u00a0terutama dalam bentuk antosianin. Pigmen ini dapat menghasilkan warna merah, ungu, dan biru\u00a0seperti yang dapat dijumpai di kulit buah anggur, elderberry, blueberry, dan daun kubis merah.<\/p>\n<p>Namun,\u00a0sayangnya, pigmen yang ditemukan pada tanaman-tanaman tersebut tidak stabil dan tidak cocok untuk dijadikan pewarna tekstil. Anehnya, satu-satunya pewarna biru alami yang tahan lama adalah indigofera. Namun,\u00a0warna ini bukanlah warna tumbuhan alami dan harus diproduksi dengan memfermentasi tanaman yang mengandung bahan kimia prekursor yang sesuai.<\/p>\n<p>Meskipun prosesnya terlihat sederhana, dalam prakteknya,\u00a0sangat sulit untuk menghasilkan pewarna biru tua. Akibatnya, hal ini menjadi keahlian khusus bagi banyak masyarakat di Asia Tengah sampai Indonesia. Saat ini, di negara-negara seperti Indonesia,\u00a0hanya ada beberapa produsen pewarna alami indigofera.<\/p>\n<figure id=\"attachment_910\" aria-describedby=\"caption-attachment-910\" style=\"width: 400px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-910\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Kain-yang-diwarnai-daun-indigofera-300x296.jpg\" alt=\"Kain yang diwarnai daun indigofera\" width=\"400\" height=\"394\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Kain-yang-diwarnai-daun-indigofera-300x296.jpg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Kain-yang-diwarnai-daun-indigofera.jpg 550w\" sizes=\"(max-width: 400px) 100vw, 400px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-910\" class=\"wp-caption-text\"><em>maiwahandprints.blogspot.com<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mengenal-daun-moringga\/\" rel=\"bookmark\">Mengenal Daun Moringga dari Ir. Ai Dudi Krisnadi<\/a><\/strong><\/p>\n<h3><strong><b>Asal dan Penyebaran Indigofera di Indonesia<\/b><\/strong><\/h3>\n<p>Kata indigo berasal dari bahasa Yunani <em><i>\u2018indikon\u2019<\/i><\/em>\u00a0atau dalam bahasa Latin <em><i>\u2018indicum\u2019<\/i><\/em>\u00a0yang berarti India atau dari India, mengacu pada sumber indigofera zaman Yunani-Roma. Tumbuhan indigofera ini kemudian tersebar luas di daerah tropis, termasuk Indonesia.<\/p>\n<p>Pada abad ke-18,\u00a0VOC Belanda memerintahkan pemerintah di Jawa Tengah dan Timor untuk menanam indigofera dengan bibit yang disediakan oleh VOC. Pada tahun 1830, Gubernur Hindia Belanda,\u00a0Johannes Van Den Bosch menerapkan sistem tanam baru <em><i>\u2018Cultuurstelsel\u2019<\/i><\/em>\u00a0yang terinspirasi dari sistem tanam kolonial Inggris.<\/p>\n<p>Perkebunan baru dibuka di wilayah seperti Cirebon dan Pekalongan di Pulau Jawa bagian utara untuk ditanam indigofera, tebu, dan kopi untuk diekspor. Sebagai bagian dari inisiatif ini, Belanda juga memperkenalkan indigofera Natal dan Guatemala di Jawa. <em><i>I. <\/i><\/em><em><i>G<\/i><\/em><em><i>uatimalensis <\/i><\/em>diperkenalkan oleh Belanda pada abad ke-19 dan masih ditanam di daerah Kerek, kecamatan di Tuban, sampai hari ini.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/jenis-tanaman-hortikultura\/\" rel=\"bookmark\">5 Jenis Tanaman Hortikultura<\/a><\/strong><\/p>\n<h3><strong><b>Proses Pewarnaan Alami Indigofera<\/b><\/strong><\/h3>\n<p>Untuk dapat memanfaatkan indigofera sebagai pewarna alami, terdapat beberapa tahap, yaitu proses pengambilan zat warna, pembuatan larutan pewarna, dan proses pewarnaan.<\/p>\n<h4>Proses pengambilan warna<\/h4>\n<ol>\n<li>Daun indigofera direndam dalam air dingin selama 1 atau 2 hari (berikan pemberat agar daun tetap terendam).<br \/>\nSetelah kurang lebih 10 jam, akan terjadi proses peragian yang ditandai dengan munculnya gelembung-gelembung gas dan berwarna biru. Proses ini akan selesai saat tidak lagi muncul gelembung. Oleh sebab itu, memerlukan waktu 1 sampai 2 hari. Untuk 1 kg daun indigofera, digunakan 5 liter air.<\/li>\n<li>Kemudian tiriskan dan peras, airnya disaring.<\/li>\n<li>Lakukan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Aerasi\">aerasi<\/a> pada larutan selama setengah jam.<\/li>\n<li>Kemudian tambahkan +\/- 30 gram bubuk kapur dan larutkan, kemudian lanjutkan aerasi selama setengah jam.<\/li>\n<li>Lakukan pengetesan untuk mengetahui apakah indigo sudah mengalami pengendapan.<br \/>\nPengetesan ini dilakukan dengan mengambil sedikit cairan yang sudah berwarna coklat dan amati apakah nampak butiran-butiran yang bergerak turun. Jika sudah, maka biarkan cairan selama semalam untuk menyempurnakan pengendapan. Buang cairan putih yang ada diatasnya untuk mendapatkan pasta indigo.<\/li>\n<\/ol>\n<h4>Pembuatan larutan pewarna (fermentasi):<\/h4>\n<ol>\n<li>Pembuatan larutan pewarna dilakukan dengan mereduksi pigmen indigo menggunakan 7,5 gram hidrosulfat dan 0,75 kg gula jawa.<\/li>\n<li>Proses ini berlangsung selama +\/-24 jam.<br \/>\nTanda bahwa proses ini telah selesai adalah dengan berubahnya larutan indigo dari warna biru menjadi warna hijau.<\/li>\n<li>Untuk 1 kg pasta indigo, dilarutkan ke dalam 10 liter air.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><\/h4>\n<figure id=\"attachment_911\" aria-describedby=\"caption-attachment-911\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-911\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Proses-pewarnaan-kain-dengan-daun-indigofera.jpg\" alt=\"Proses pewarnaan kain dengan daun indigofera\" width=\"640\" height=\"427\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Proses-pewarnaan-kain-dengan-daun-indigofera.jpg 640w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Proses-pewarnaan-kain-dengan-daun-indigofera-300x200.jpg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Proses-pewarnaan-kain-dengan-daun-indigofera-600x400.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-911\" class=\"wp-caption-text\"><em>pinterest.co.uk<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<h4>Proses Pewarnaan :<\/h4>\n<ol>\n<li>Kain dicelup selama 10-15 menit.<br \/>\nUntuk frekuensi pencelupan, dilakukan sebanyak 3 kali.<\/li>\n<li>Kemudian kain dicuci dengan menggunakan air bersih dan diangin-anginkan.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-basmi-hama-minim-biaya-dan-pestisida\/\" rel=\"bookmark\">Cara Basmi Hama Minim Biaya dan Pestisida<\/a><\/strong><\/p>\n<h3><strong><b>Prospek Budidaya Indigofera untuk Pewarna Tekstil<\/b><\/strong><\/h3>\n<p>Tanaman indigofera dapat dengan mudah dibudidayakan. Tanaman ini dapat tumbuh subur pada\u00a0ketinggian 0-1650 mdpl\u00a0dan di tanah yang mengandung banyak bahan organik. Sebagai bahan baku pewarna alami, indigofera ditanam di dataran tinggi.<\/p>\n<p>Dilansir dari <em><i>kontan.co.id<\/i><\/em>, harga pewarna alami dari indigofera ini dapat mencapai Rp 700.000,- per kg dan dapat menghasilkan omzet 70 juta per bulan. Suatu bisnis yang\u00a0tentu sangat menggiurkan jika ditekuni, apalagi di negara kita\u00a0yang\u00a0merupakan rumah bagi produksi batik.<\/p>\n<p>Namun, sayangnya, di Indonesia, indigofera hanya dibiarkan atau dijadikan sebagai pakan ternak. Selama ini,\u00a0peminat pewarna alami ini rata-rata berasal dari luar negeri seperti Jepang dan Korea.<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Referensi : American Institue of Physics, asiantextilestudies.com, kontan.co.id<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><em>Sumber gambar utama:\u00a0green-ingredients.com<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis:\u00a0<strong>Nevy Widya Pangestika<em><br \/>\n<\/em><\/strong><em>Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana<\/em><\/p>\n<hr \/>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Daun indigofera, yang biasanya digunakan sebagai pakan ternak di Indonesia, ternyata memiliki prospek yang sangat baik untuk dijadikan sebagai pewarna tekstil alami. Terlebih lagi, batik yang merupakan warisan budaya nusantara,&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":909,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[4,841,1],"tags":[174,175,176],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Daun-indigofera-sebagai-pewarna-tekstil-alami.jpg","author_info":{"display_name":"Nevy Widya Pangestika","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/nevy-widya-pangestika\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/904"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=904"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/904\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":915,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/904\/revisions\/915"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/909"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=904"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=904"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=904"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}