{"id":982,"date":"2022-11-29T01:00:57","date_gmt":"2022-11-28T18:00:57","guid":{"rendered":"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=982"},"modified":"2022-11-29T09:31:01","modified_gmt":"2022-11-29T02:31:01","slug":"mengolah-kotoran-ternak-biogas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/mengolah-kotoran-ternak-biogas\/","title":{"rendered":"Cara Mengolah Limbah Kotoran Ternak Menjadi Biogas"},"content":{"rendered":"<p>Di mana ada peternakan,\u00a0di situ pasti ada limbah yang berupa kotoran (feses\/urin) dari ternak itu sendiri. Dalam batas konsentrasi tertentu, limbah ternak tergolong berbahaya,\u00a0tidak saja pada ternak,\u00a0tetapi juga bagi kesehatan manusia dan lingkungan karena menghasilkan hidrogen sulfida, gas metan, amonia, dan karbondioksida. Misalnya, amonia yang merupakan gas berbau tajam.<\/p>\n<p><em><i>National Institute of Occupational Safety and He<\/i><\/em><em><i>a<\/i><\/em><em><i>lth<\/i><\/em>\u00a0(NIOSH) dari Amerika Serikat telah menetapkan level maksimum amonia (NH<sub>3<\/sub>) dalam kandang unggas yaitu\u00a025 ppm. Pada konsentrasi yang tinggi, amonia dapat menyebabkan iritasi mata, gangguan saluran pernapasan,\u00a0dan kerusakan pada paru-paru. Manusia hanya dapat mencium amonia pada konsentrasi 20-30 ppm.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi masalah limbah kotoran, peternak perlu mengetahui bagaimana cara mengelola\u00a0limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Limbah kotoran ternak akan bernilai ekonomi tinggi apabila diolah dengan tepat. Salah satu cara untuk mengelola limbah adalah dengan membuatnya\u00a0menjadi pupuk kandang. Namun,\u00a0cara seperti ini juga masih menimbulkan gas atau bau yang menyengat sehingga berdampak juga bagi kesehatan dan lingkungan.<\/p>\n<p>Salah satu alternatif pengolahan limbah kotoran ternak adalah biogas. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses anaerob (kedap udara) yang terbuat dari bahan organik seperti kotoran ternak, kotoran manusia, dan limbah rumah tangga. Teknologi biogas telah banyak diaplikasikan sejak puluhan tahun yang lalu oleh petani di Inggris, Rusia, dan Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Kotoran ternak ayam bisa dimanfaatkan menjadi biogas. Biogas merupakan hasil penguraian kotoran hewan oleh mikroorganisme. Unsur-unsur gas yang terbentuk dari penguraian tersebut adalah karbondioksida (30-40%), hidrogen (1-5%), metana (50-70%), uap air (0,3%), nitrogen (1-2%), dan hidrogen sulfat (endapan). Gas metana,\u00a0sebagai unsur terbesar,\u00a0dapat dimanfaatkan untuk memasak dan pemanas (<em><i>brooding<\/i><\/em>).<\/p>\n<h3><strong><b>Instalansi biogas<\/b><\/strong><\/h3>\n<p>Alat yang paling penting dari instalansi biogas adalah digester yang berfungsi untuk\u00a0menampung gas metan hasil proses bahan-bahan organik oleh bakteri. Jenis digester yang paling banyak digunakan adalah model <em><i>continuous feeding<\/i><\/em>, dimana pengisian bahan organiknya dilakukan secara berkelanjutan setiap hari.<\/p>\n<figure id=\"attachment_983\" aria-describedby=\"caption-attachment-983\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-983\" src=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Digester.jpg\" alt=\"Digester, yang terhubung ke penampung biogas\" width=\"1024\" height=\"742\" srcset=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Digester.jpg 1024w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Digester-300x217.jpg 300w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Digester-768x557.jpg 768w, https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Digester-600x435.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-983\" class=\"wp-caption-text\">Digester (kiri), Digester, yang terhubung ke penampung biogas (kanan)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Luas\/ukuran digester tergantung pada banyaknya kotoran ternak yang dihasilkan dan banyaknya biogas yang diinginkan. Dalam membuat digester,\u00a0diperlukan bahan bangunan seperti pasir, semen, batu kali, batu koral, bata merah, besi konstruksi, cat,\u00a0dan pipa prolon.<\/p>\n<p>Satu unit biodigester bervolume 13m<sup>3<\/sup>\u00a0mampu mengolah kotoran yang berasal dari 1.000 ekor ayam. Satu siklus biodigester biasanya memerlukan kurang lebih 100 kg kotoran ayam basah. Biodigester tersebut akan menghasilkan gas metana yang bisa menggantikan pemakaian 3-4 tabung\u00a0gas\u00a0rumah tangga berukuran 12 kg. \u00a0Sedangkan pada ternak sapi, rata-rata satu ekor sapi menghasilkan 20 kg kotoran setiap hari dan dapat menghasilkan 0,36 m<sup>3 <\/sup>biogas.<\/p>\n<h3><strong><b>Proses pembuatan biogas <\/b><\/strong><\/h3>\n<p>Setelah digester selesai dikerjakan,\u00a0maka proses selanjutnya adalah pembuatan biogas dengan cara sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Mencampur kotoran sapi dengan air hingga terbentuk lumpur dengan perbandingan 1:1 di bak penampungan sementara. Bentuk lumpur ini akan memudahkan kitaketika dimasukkan ke dalam digester.<\/li>\n<li>Memasukkan lumpur ke dalam digester melalui lubang masuk. Pada pengisian pertama, kran gas yangada\u00a0di atas digester dibuka supaya proses masuknya lebih mudah dan udara yang ada di dalam digester keluar. Pengisian lumpur pertama ini dibutuhkan kotoran sapi dalam jumlah banyak\u00a0supaya digester penuh.<\/li>\n<li>Tambahkan <em><i>starter<\/i><\/em>\u00a0(bakteri) sebanyak 1 liter dan isi rumen segar dari rumah potong hewan sebanyak 5 karung untuk kapasitas digester 3,5-5,0 m<sup>2<\/sup>. Setelah digester dalam keadaan penuh, kran gas ditutup supaya terjadi proses fermentasi.<\/li>\n<li>Membuang gas yang pertama kali dihasilkan (termasuk gas CO<sub>2<\/sub>) pada hari ke-1 sampai ke-8. Sedangkan hari ke-10 sampai ke-14, baru terbentuk gas metan (CH<sub>4<\/sub>) dan CO<sub>2<\/sub> mulai menurun. Pada komposisi CH<sub>4<\/sub>\u00a054% dan CO<sub>2<\/sub>\u00a027%, biogas akan menyala.<\/li>\n<li>Pada hari ke-14, sudah bisa menghasilkan energi biogas yang selalu terbarukan\u00a0dan untuk menyalakan api pada kompor gas atau kebutuhannya lainnya. Perlu diketahui bahwa biogas ini tidak berbau kotoran sapi. Berikutnya, digester dapat diisi lumpur kotoran sapi secara berkelanjutan untuk menghasilkan\u00a0biogas yang optimal.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Masalah kotoran ternak dapat diatasi dengan pembuatan biogas. Efek positifnya sudah pasti mengurangi gangguan kesehatan manusia, ternak, dan\u00a0pencemaran lingkungan. Selain itu, yang pasti juga\u00a0adalah menambah nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan\u00a0sebagai bahan bakar\u00a0kendaraan, pengganti gas LPG, dan pembangkit listrik.<\/p>\n<p>Anda juga dapat mendownload dokumen petunjuk cara instalasi biogas sampai perawatannya dengan klik link berikut ini\u00a0<em><strong><a href=\"http:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/materi\/materibiogas.pdf\">Tutorial Konstruksi Biogas\u00a0<\/a><\/strong><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">Penulis: <strong>Febroni Purba<\/strong><\/p>\n<hr \/>\n<p>Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di <strong><\/strong>.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di mana ada peternakan,\u00a0di situ pasti ada limbah yang berupa kotoran (feses\/urin) dari ternak itu sendiri. Dalam batas konsentrasi tertentu, limbah ternak tergolong berbahaya,\u00a0tidak saja pada ternak,\u00a0tetapi juga bagi kesehatan&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":984,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[842,1],"tags":[82,188,187],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/Mengolah-Kotoran-Ternak-Menjadi-Biogas.jpeg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/982"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=982"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/982\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1035,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/982\/revisions\/1035"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/984"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=982"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=982"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=982"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}