{"id":9889,"date":"2020-03-03T18:40:47","date_gmt":"2020-03-03T11:40:47","guid":{"rendered":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/?p=9889"},"modified":"2020-03-03T18:40:47","modified_gmt":"2020-03-03T11:40:47","slug":"hilangnya-kejayaan-kakao-di-tanah-papua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/hilangnya-kejayaan-kakao-di-tanah-papua\/","title":{"rendered":"Hilangnya Kejayaan Kakao di Tanah Papua"},"content":{"rendered":"<p>Mau tau informasi mengenai kakao di tanah Papua? Berikut Pak Tani Digital akan membagikan informasi mengenai hal tersebut. Simak ulasannya!<\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\">Produksi Kakao di Papua<\/span><\/h2>\n<h4><span style=\"color: #008000;\">Menurunnya Produksi Kakao<\/span><\/h4>\n<figure id=\"attachment_9891\" aria-describedby=\"caption-attachment-9891\" style=\"width: 500px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-9891\" src=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/freewestpapua-indonesiacom.jpg\" alt=\"kakao papua\" width=\"500\" height=\"277\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9891\" class=\"wp-caption-text\">freewestpapua-indonesia.com<\/figcaption><\/figure>\n<blockquote><p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-budidaya-kakao-dapat-diterima-pasar-internasional\/\">Cara Budidaya Kakao Supaya Dapat Diterima Pasar Internasional<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p>Pada tahun 2005-2010 Kabupaten Jayapura, Papua pernah mengalami masa kejayaan sebagai penghasil kakao (coklat) hingga mencapai 9.450 ton per tahun yang membuat masyarakat hidup sejahtera dan dapat menghidupi keluarganya.<\/p>\n<p>Namun sayangngnya, tahun 2011 kejayaan itu mulai memudar, hingga saat ini penghasilan kakao sudah merosot, rata-rata penghasilan kakao hanya mencapai 1.500 ton per tahun.<\/p>\n<p>Sayangnya, produksi kakao di hulu terus merosot, dari 600 ribu ton kini tinggal 200 ribu ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan kakao, perusahaan harus mengimpor biji kakao dari luar negeri.<\/p>\n<p>Sehingga total impor biji kakao kurang lebih 250 ribu ton per tahun. Karenanya, ia menilai akar masalahnya yakni meningkatkan produktivitas petani.<\/p>\n<p>Hal ini sangat mempengaruhi kehidupan petani kakao, sekarang mereka hanya bermimpi dapat meyekolahkan anaknya hingga ke bangku perguruan tinggi.<\/p>\n<p>Ironisnya banyak petani harus bekerja serabutan atau menjadi tukang senso (tebang kayu) di perusahaan ilegal untuk menyambung hidup keluarganya.<\/p>\n<h4><span style=\"color: #008000;\">Penyebab Penurunan Produksi Kakao<\/span><\/h4>\n<figure id=\"attachment_9892\" aria-describedby=\"caption-attachment-9892\" style=\"width: 500px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-9892\" src=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/liputan6com.jpg\" alt=\"kakao papua\" width=\"500\" height=\"281\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-9892\" class=\"wp-caption-text\">liputan6.com<\/figcaption><\/figure>\n<blockquote><p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/cara-fermentasi-biji-kakao\/\">Cara Fermentasi Biji Kakao untuk Menghasilkan Cokelat yang Berkualitas<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p>Menurunya produksi kakao ini disebabkan masalah varietas, pohon kakao lama yang ditanam tak lagi resisten terhadap hama dan penyakit, di samping juga sistem pengolahan perkebunan dan budidaya yang beda.<\/p>\n<p>Sangat disayangkan jika produksi kakao di Papua terus menurun padahal kakao dari tanah Papua memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan wilayah lainnya.<\/p>\n<p>Dari jenis yang sama, kakao di Papua dapat memiliki berat biji 1,1 gram &#8211; 1,2 gram, sedangkan di Sulawesi berat bijinya lebih rendah yaitu 0,8 gram-0,9 gram.<\/p>\n<p>Selain kakao, Papua sebetulnya masih memiliki banyak hasil kebun lainnya, seperti kelapa sawit, kopi, kapas, karet, tebu, dan pinang.<\/p>\n<p>Dari seluruh jenis komoditas perkebunan itu, kelapa sawit menjadi salah satu komoditas perkebunan terbesar di Tanah Cendrawasih.<\/p>\n<p>Namun, berbeda dengan kakao yang mayoritas lahannya adalah kebun milik rakyat, Kusnan bilang perkebunan kelapa sawit mayoritas milik perusahaan kelas kakap.<\/p>\n<p>Pernyataan itu sesuai dengan data organisasi swadaya masyarakat Transformasi untuk Keadilan Indonesia (Tuk Indonesia) yang menyebut bahwa 25 perusahaan besar menguasai 242 ribu lahan sawit di Papua.<\/p>\n<p>Sebenarnya peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi kakao karena tidak semua negara dapat menumbuhkan kakao dengan baik.<\/p>\n<p>Namun, dengan perubahan iklim, hama, dan penyakit membuat komoditas tersebut menjadi rentan. Di sisi lain, petani memiliki keterbatasan akses finansial untuk memenuhi kebutuhan permodalan.<\/p>\n<p>Jika Papua ada 30 persen masyarakat yang bisa dikembangkan produk pertaniannya, maka kami setuju jangan lagi sawit.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Itulah informasi mengenai penurunan produksi kakao di Papua. Semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat ya sobat PTD!<\/p>\n<blockquote><p>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/syarat-tumbuh-kakao-agar-tumbuh-optimal\/\">Syarat Tumbuh Kakao Agar Tumbuh Optimal<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: right;\">Sumber: <strong>CNNindonesia<\/strong><\/p>\n<p>Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di\u00a0<strong><\/strong>.<\/p>\n<p>Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di\u00a0<strong><\/strong><\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mau tau informasi mengenai kakao di tanah Papua? Berikut Pak Tani Digital akan membagikan informasi mengenai hal tersebut. Simak ulasannya! Produksi Kakao di Papua Menurunnya Produksi Kakao Baca juga: Cara&hellip; <!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":9893,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ub_ctt_via":""},"categories":[1234],"tags":[1923,1924,1922],"featured_image_src":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/plant-fruit-food-produce-crop-brown-958340-pxhere.com_.jpg","author_info":{"display_name":"Pak Tani","author_link":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/author\/ptd\/"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9889"}],"collection":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9889"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9889\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9894,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9889\/revisions\/9894"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9893"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9889"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9889"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/paktanidigital.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9889"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}