Indoor Farming, Wujud Pertanian Masa Depan yang Modern

Pertanian menjadi bidang yang sangat krusial saat ini. Bahkan, Indonesia pun sudah dikenal sebagai negara agraris dimana mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Meski demikian, di era yang sudah serba modern ini, menjadi petani seolah-olah bukan profesi yang potensial dan bonafide. Padahal jika tanpa petani, dari mana masyarakat bisa mendapatkan bahan makanan?

Sekarang, pertanian sudah tidak identik dengan lumpur dan ladang becek lagi karena sudah ada banyak teknologi modern di bidang pertanian. Salah satunya adalah indoor farming.

Sesuai dengan istilahnya, indoor farming ini merupakan cara bertani yang bisa dilakukan di ruangan tertutup sehingga tidak mengharuskan para petani untuk turun dan panas-panasan di sawah yang berlumpur. Pertanian dengan cara ini sangat modern dengan didukung oleh berbagai macam perangkat teknologi. Dengan adanya indoor farming ini, kini bertani pun dapat dilakukan di tengah perkotaan.

Baca: Petani Muda Sukses di Era Milenial

Untuk mengenal lebih jauh, berikut ini adalah beberapa ulasan tentang indoor farming.

Pengertian teknik indoor farming

Perlu diketahui, indoor farming merupakan jenis pertanian vertikal yang dilakukan di dalam ruangan. Strategi indoor farming ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas secara signifikan. Banyak yang sudah membuktikan bahwa sistem ini mampu memberikan banyak keuntungan.

Sampai saat ini, mayoritas indoor farming memakai kombinasi antara hidroponik dan cahaya buatan. Ada juga yang menggunakan kombinasi antara sumber daya alam dan buatan di rumah kaca. Dalam hal model pertaniannya, indoor farming tersedia dalam beberapa pilihan, misalnya hidroponik, aquaponic, dan aeroponic.

Baca: Perbedaan Sayur Hidroponik VS Organik

Keunggulan teknik indoor farming

Indoor Farming bisa dilakukan di gedung yang tinggi
Sumber: digitaltrends.com

Sistem indoor farming memiliki banyak sekali keunggulan. Selain bisa meningkatkan produktivitas, sistem ini juga bisa menghasilkan sumber makanan yang hijau dan bebas dari hama. Bahkan, para petani tidak bisa mengurangi biaya dalam hal pemakaian transportasi dan bahan bakar fosil.

Keunggulan lainnya adalah kegiatan pertaniannya bisa dilakukan di gedung yang tinggi. Petani pun tidak perlu takut gagal panen karena faktor cuaca, mengingat indoor farming dilakukan dengan sistem yang modern.

Kelemahan teknik indoor farming

Meski memiliki banyak keunggulan, teknik indoor farming juga tetap memiliki kelemahan. Untuk bisa menjalankan sistem indoor farming ini, biaya yang harus dikeluarkan sangat tinggi. Alasannya tentu saja karena seluruh sistemnya menggunakan teknologi tinggi, software, dan hardware.

Untuk suhu, kelembaban, dan cahaya, juga harus dilakukan dengan kontrol tingkat tinggi.

Kelemahan lainnya adalah teknik ini dianggap menghasilkan CO2 yang lebih banyak dibandingkan dengan pertanian sawah sehingga sampai saat ini, masih banyak yang kontra dan menuai perdebatan.


Di negara maju seperti Amerika Serikat, Singapura, dan Jepang, indoor farming sudah menjadi andalan.

Bahkan untuk negara tetangga, yakni Singapura, indoor farming sudah mampu menghasilkan 54 ton sayur setiap tahunnya.

Sedangkan di Jepang, teknik ini sudah memberikan hasil yang lebih banyak lagi. Lahan dengan hanya 2.300 meter persegi saja sudah mampu menghasilkan 10.000 pucuk selada setiap harinya dimana hasilnya adalah 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan teknik tradisional. Hebat sekali bukan?

Baca: Meningkatkan Pendapatan Petani dengan Pola Tanam Polikultur

Sumber gambar: worth.com

Penulis: Lia Widyaningrum


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.