Meningkatkan Pendapatan Petani dengan Pola Tanam Polikultur

Salah satu tanaman pangan yang dibudidayakan oleh sebagian besar petani di Indonesia adalah komoditas padi. Petani tanaman pangan sering menggunakan pola tanam monokultur. Seperti yang kita ketahui, pola tanam monokultur merupakan pola tanam yang menanam satu jenis tanaman saja.

Petani padi biasanya kurang memperhatikan jarak antar tanaman dan pola tanam yang mereka gunakan. Pola tanam adalah salah satu hal yang akan menentukan hasil produksi petani. Apakah hasil produksinya menguntungkan atau malah merugikan petani itu sendiri?

Ketika gagal panen dan ditipu oleh tengkulak, maka pendapatan petani akan menurun. Faktanya, sebagian besar petani tanaman padi mengalami kerugian karena jumlah padi yang ditanam tidak memberikan hasil produksi yang sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Selain itu, biasanya tanaman yang mereka tanam hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, sebagian kecil untuk dijual.

Dengan demikian, hasil produksi yang dijual tidak bisa menutupi pengeluaran mereka. Misalnya, tanaman padi diserang hama dan secara otomatis semua tanaman terserang penyakit serta tingkat pestisida yang digunakan tinggi.

Masalah ini tentunya akan mempengaruhi hasil produksi dan pendapatan petani. Nah, bagaimana meningkatkan pendapatan petani ketika petani tersebut masih menanam tanaman pangan (padi)?

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, beberapa petani yang dulunya menggunakan pola tanam monokultur, sekarang beralih ke pola tanam polikultur. Misalnya, menanam tanaman padi dan tanaman pendukung seperti cabai, bawang daun, dan lain -lain pada satu lahan yang sama.

Baca: Rumah Pangan Lestari, Solusi Perkarangan Masa Kini

Jenis pola tanam polikultur yang digunakan adalah tumpangsari dan relay cropping (bersisipan). Dua jenis pola tanam ini terbukti memberikan keuntungan bagi petani dan meningkatkan pendapatan petani. Walaupun hama yang menyerang beragam jenis, jumlah populasi yang menyerang sedikit serta pestisida yang digunakan tidak sebanyak pola tanam monokultur.

Tumpangsari, salah satu pola tanam polikultur
Tumpangsari

Berikut adalah keuntungan dan kerugian pola tanam polikultur menurut petani:

Keuntungan pola tanam polikultur:

  1. Bisa mendapatkan hasil yang beragam
  2. Memberi keuntungan/laba yang lebih
  3. Lebih hemat biaya produksi

Kerugian pola tanam polikultur: jenis hama yang menyerang lebih banyak

Mendapatkan hasil yang beragam dapat menutup modal yang dikeluarkan oleh petani. Mengapa demikian? Karena ketika tanaman pendukung dipanen, misalnya tanaman bawang daun, hasil penjualannya digunakan sebagai pengganti biaya produksi (modal), sedangkan hasil penjualan, misalnya tanaman cabai, sebagai keuntungan bersih. Untuk itu, hasil produksi tanaman padi dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari petani dan keluarganya.

Baca: Sistem Mina Padi, Kombinasi Lahan Sawah dengan Budidaya Ikan

Tanaman pendukung

Tanaman pendukung dapat disesuaikan dengan musim tanam petani. Jika saat musim kemarau, sebaiknya menanam tanaman cabai dan bawang daun.

Dari hasil observasi yang dilakukan, tanaman pendukungnya adalah tanaman cabai karena merupakan tanaman hortikultura yang permintaannya tinggi di pasar. Ketika harga tinggi, maka hasil yang diperoleh petani juga tinggi. Bawang daun merupakan tanaman yang sering disisipkan pada tanaman cabai. Hal ini dilakukan supaya tidak boros dalam pemanfaatan lahan.

Jika pola tanam, seperti yang sudah dijelaskan, dapat diterapkan oleh petani yang lain, maka pendapatan petani tidak akan mengalami penurunan/kerugian.

Pemanfaatan tanaman pendukung juga harus dipilih dengan seksama. Ketika tanaman tersebut memiliki permintaan pasar yang tinggi, maka harga yang diperoleh juga tinggi dan pendapatan meningkat.

Petani tanaman padi tidak selalu mengalami kerugian jika mereka mau mengubah pola tanam yang dulunya menimbulkan kerugian menjadi pola tanam yang meningkatkan pendapatan, yaitu pola tanam polikultur.

Baca: Cara Basmi Hama Minim Biaya dan Pestisida

Sumber gambar: budidaya.site, masbidin.net

Penulis: Wiwi Sepriani
Mahasiswa Universitas Kristis Satya Wacana


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.