Berseminya Sektor Pertanian

“Transformasi sektor pertanian yang terencana dengan baik akan meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan menciptakan lapangan kerja baru di perdesaan sekaligus menahan laju urbanisasi”.

Sektor pertanian membuktikan diri cukup tangguh selama pandemi Covid-19. Ia bersemi di kala sektor lain mengalami kontraksi cukup dalam. Tumbuh positif dan berkontribusi 1,75 persen pada pertumbuhan ekonomi 2020 dan 2,95 persen pada triwulan I-2021. Ini mendorong ekonomi nasional tumbuh 7,07 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II-2021.

Hal yang membanggakan tampak pada kenaikan nilai ekspor produk pertanian. Menurut data Kementerian Pertanian, sepanjang 2020 nilai ekspor mencapai Rp 451,8 triliun. Angka ini meningkat 15,79 persen dibandingkan pada 2019 yang sebesar Rp 390,16 triliun.

Pada semester I-2021, nilai ekspor sudah mencapai Rp 282,86 triliun atau terdongkrak 14,05 persen dari nilai ekspor pada periode sama 2020 yang tercatat Rp 202,05 triliun.

Konsekuensi logis kenaikan nilai ekspor produk pertanian ini ialah kesejahteraan petani semakin membaik. Nilai tukar petani (NTP) tercatat meningkat dari 99,6 pada Juni 2020 ke 103,25 pada Desember 2020, dan 103,59 pada Juni 2021.

“Berseminya sektor pertanian sangat penting dikawal secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak lagi generasi milenial di sektor pertanian.”

Regenerasi

Berseminya sektor pertanian sangat penting dikawal secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak lagi generasi milenial di sektor pertanian. Pertanyaannya, bagaimana mendorong keterlibatan generasi milenial Indonesia untuk mengawal sektor pertanian yang sedang bersemi saat ini?

Regenerasi sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian mendesak untuk dilakukan di tengah rendahnya minat kaum muda bekerja sebagai petani, mengingat potensi pertanian kita sangat besar. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki kekayaan sumber daya pertanian melimpah.

Rendahnya partisipasi generasi milenial ini kontras dengan ajakan Presiden Soekarno. Sang proklamator kemerdekaan RI ini pernah mengatakan, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Ini menjadi gambaran betapa superiornya pemuda sebagai agen perubahan di segala bidang, termasuk di sektor pertanian. Pemuda dimaksud ialah mereka yang kreatif, inovatif dan melek teknologi pertanian.

Generasi milenial berbeda dengan generasi sebelumnya, yang kerap lambat mengikuti perubahan zaman. Generasi milenial (kelahiran 1980-1999) memiliki ciri berpikir inspiratif, inovatif dan fasih mengadopsi teknologi digital dalam beragam aktivitasnya, sehingga menjadi pembawa pembaruan dalam pembangunan pertanian.

Masyarakat pun berharap Presiden Joko Widodo dalam tiga tahun ke depan sisa pemerintahannya harus mampu membawa Indonesia tidak hanya berswasembada beras, tetapi juga swasembada bahan pangan lainnya seperti daging, ikan, kedelai sebagai sumber protein. Kecukupan bahan pangan bergizi ini dapat memutus mata rantai stunting (gagal tumbuh) pada anak-anak balita Indonesia.

Sayangnya, jika mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS, 2020) jumlah pemuda yang bekerja di sektor pertanian semakin menurun sepuluh tahun belakangan. Dari jumlah petani yang mencapai 33,4 juta orang, petani muda yang berusia 20-39 tahun hanya 2,7 juta orang atau delapan persen.

Jumlah ini tentu sangat kecil dibandingkan dengan total usia produktif di Indonesia yang mencapai 100 juta jiwa.

Secara kasat mata, arus urbanisasi besar-besaran generasi milenial ke kota semakin lama semakin tidak terbendung. Kini yang mengawal kedaulatan pangan dan mengurusi pertanian di desa hanya kaum perempuan dan para lanjut usia. Bahkan ironisnya, hampir tidak ada keluarga petani yang berharap anaknya menjadi petani.

Penguatan kedaulatan pangan di masa datang tampak mengkhawatirkan. Pemerintah memasang target produksi padi di tahun 2021 mencapai 63,50 juta ton. Angka ini lebih tinggi dari target produksi 2020 yang mencapai 59,15 juta ton.

Sektor pertanian yang diharapkan dapat mengulang prestasi besar tahun 1984, yaitu swasembada beras, akan mampu mencapai target itu jika mampu melibatkan generasi milenial di sektor pertanian.

“Menarik minat generasi muda menjadi petani tentu butuh kerja keras semua pihak, tidak hanya tanggung jawab Kementerian Pertanian”.

Petani di Indonesia harus menjadi profesi yang menjanjikan dan menyejahterakan sehingga membuat generasi muda berminat menekuni bidang tersebut. Menarik minat generasi muda menjadi petani tentu butuh kerja keras semua pihak, tidak hanya tanggung jawab Kementerian Pertanian.

Sektor lainnya, termasuk sektor pendidikan serta pemerintah daerah juga perlu dilibatkan untuk menghadirkan teknologi yang lebih maju di sektor pertanian.

Kedaulatan pangan yang digadang-gadang di dalam politik Nawacita tidak lagi hanya terbentang di atas kertas. Penggunaan teknologi pertanian yang lebih maju dan modern akan mencegah perpindahan tenaga kerja dari pertanian ke sektor industri dan jasa di perkotaan karena pertanian makin memiliki daya tarik.

Ini membuat sektor pertanian semakin tangguh dan tumbuh lebih maju dibandingkan dengan di negara tetangga Malaysia dan Thailand, yang kondisi awalnya tidak berbeda jauh dengan Indonesia.

Sekadar mengingatkan, ketertinggalan Indonesia di bidang ”modernisasi” pertanian selama ini tidak terlepas dari pro dan kontra kehadiran alat-alat mesin pertanian (alsintan) di tengah masyarakat petani. Saat diperkenalkan tahun 1967, tenaga kerja di sektor pertanian relatif masih banyak.

Jika traktor digunakan waktu itu, akan terjadi pengangguran sebanyak selisih waktu masing-masing untuk setiap pengerjaan satu hektar sawah. Sektor pertanian yang umumnya di desa, lebih dikenal sebagai pekerjaan melelahkan, panas dan bergumul dengan lumpur kotor. Namun hasilnya tidak sebanding dengan tenaga yang tercurah.

Langkah solusi

Populasi penduduk Indonesia yang tergolong generasi milenial sangat besar, diperkirakan 40 persen atau mencapai 100 juta orang. Angka ini setara dengan empat kali jumlah penduduk Malaysia.

Jika populasi generasi milenial yang besar ini bisa mengambil peran secara maksimal di sektor pertanian, pembangunan kedaulatan pangan ke depan akan berjalan lebih baik.

Jika saat ini minat generasi milenial berkarya di sektor pertanian kian menurun, itu artinya masih ada yang salah dalam program pembangunan pertanian. Status sosial profesi petani dianggap rendah dan tidak mempunyai daya tawar di masyarakat. Berbeda dengan beragam profesi pekerjaan di kota dengan kantor berpenyejuk udara, memberi hasil yang lebih cepat dibanding sektor pertanian yang harus menunggu berbulan-bulan.

Pemerintah harus segera merumuskan langkah solusi dengan baik. Strategi utama yang patut dilakukan ialah dengan menyeimbangkan tenaga kerja di sektor pertanian dengan luas lahan. Teknologi digital yang dipadukan dengan mekanisasi dalam pengolahan lahan, penanaman, perawatan dan pemanenan, misalnya, merupakan alternatif terbaik saat ini.

Kondisi faktual, sebagian besar petani lokal hanya memiliki lahan sawah tidak lebih dari 0,5 hektar dan memiliki perbedaan kemiringan yang cukup mencolok. Hal ini menyulitkan mendapatkan petak sawah dengan topografi benar-benar datar. Mekanisasi pertanian untuk proses pengolahan mulai dari persiapan lahan, penanaman hingga pemanenan menjadi sulit dilakukan.

Oleh karena itu, dalam rangka penguatan kedaulatan pangan, perlu upaya konsolidasi lahan untuk penataan hamparan sawah yang lebih luas dan utuh. Salah satu strateginya ialah pemerintah harus menyiapkan perluasan lahan pertanian pangan dengan membagikan lahan seluas sembilan juta hektar seperti dijanjikan Presiden Joko Widodo kepada petani dari generasi milenial.

Dengan memercayakan pengelolaan lahan ke petani generasi milenial akan menjamin keberhasilan pembangunan pertanian di masa datang. Konsolidasi lahan patut direalisasikan di sentra-sentra pertanian guna mendorong berseminya pertanian secara berkelanjutan untuk perwujudan mimpi besar kedaulatan pangan.

Transformasi sektor pertanian yang terencana dengan baik akan meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan menciptakan lapangan kerja baru di perdesaan sekaligus menahan laju urbanisasi. Berseminya sektor pertanian jadi anak kunci keberhasilan pembangunan kedaulatan pangan. Keterlibatan generasi milenial menjadi solusi untuk membuka jalan perubahan bagi Indonesia baru yang berdaulat dan mandiri sebagai negara agraris.

Sumber : kompas.id

Posman Sibuea Guru Besar Teknologi Hasil Pertanian dan Ketahanan Pangan Unika Santo Thomas Medan. Pengurus PATPI. Anggota Pokja Ahli Ketahanan Pangan Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.