Fakta dan Tantangan Pertanian di Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di antara 2 benua, Asia dan Australia, dan di antara 2 samudera, Pasifik dan Hindia. Jarak titik paling barat Indonesia ke titik paling timur mencapai 5.500 km dan dari utara ke selatan mencapai 1.900 km. Indonesia terdiri atas lebih dari 17.000 pulau. Luas wilayah daratan Indonesia adalah sekitar 1.9 juta km2 dan luas wilayah perairannya sekitar 3.2  juta km2.

Dengan keadaan geografisnya yang seperti ini, Indonesia memiliki iklim tropis, sangat kaya akan keanekaragaman hayati, dan termasuk negara agraris. Pertanian di Indonesia tidak pernah kehilangan peran dalam menyumbang GDP negara. Setengah dari jumlah seluruh tenaga kerja di Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung, bekerja di sektor pertanian.

Kondisi Sistem dan Lahan Pertanian di Indonesia

Industri Sawit di Indonesia
Sumber: liputan6.com

Sistem pertanian di Indonesia sangat beragam, tergantung dari komoditas yang ditanam dan ekosistemnya yang secara umum dapat dikategorikan ke dalam 4 jenis, yaitu tanaman padi dataran rendah, tanaman dataran tinggi (misalnya, hortikultura), tanaman industri, dan agroforestri.

Seperti kebanyakan negara di Asia Tenggara, padi merupakan makanan pokok di daerah ini. 80% masyarakat Indonesia mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok dan bertani padi merupakan sumber penghasilan sebagian besar petani Indonesia.

Karena beriklim tropis, kegiatan bertani dapat dilakukan sepanjang tahun di Indonesia. Namun demikian, rata-rata indeks panen Indonesia sejauh ini mencapai 1,6 untuk lahan yang diirigasi dan 1,2 untuk lahan non-irigasi. Hal ini disebabkan oleh mayoritas pertanian di Indonesia yang masih merupakan pertanian konvensional.

Baca: Indoor Farming, Wujud Pertanian Masa Depan yang Modern

Pemupukan

Sejak revolusi hijau, penggunaan pupuk kimia di Indonesia meningkat dengan sangat dramatis. Pupuk kimia yang digunakan pada tahun 1990 mencapai 5 kali jumlah pupuk kimia yang digunakan pada tahun 1975. Karena krisis ekonomi pada tahun 1998, pemerintah mengurangi subsidi pupuk kimia sehingga biaya input pertanian meningkat. Oleh karena itu, petani mengurangi penggunaan pupuk kimia dan mulai menggantinya dengan pupuk organik.

Pada tahun 2002, penggunaan pupuk kimia kembali meningkat, kebanyakan terdapat pada sektor pertanian industri. Akan tetapi, dibandingkan dengan daerah lain di dunia, penggunaan pupuk kimia di Indonesia masih tergolong rendah.

Baca: Keuntungan dan Perkembangan Pertanian Organik di Indonesia

Masalah Populasi dan Demografi

Indonesia merupakan negara dengan penduduk terpadat nomor 4 di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Menurut BPS tahun 2015, jumlah penduduk Indonesia mencapai 250 juta jiwa dan kemungkinan akan terus meningkat sekitar 1,45% per tahun. Namun, semakin tinggi jumlah populasi, semakin sulit pula usaha untuk berkembang secara berkelanjutan.

Urbanisasi terjadi dengan sangat cepat di Indonesia karena sektor industri berkembang lebih cepat daripada sektor pertanian. Pada tahun 1950-an, populasi urban Indonesia hanya mencapai 12%, bertambah menjadi 16% pada tahun 1960-an, dan mencapai 20% pada tahun 1980-an. Saat ini, populasi urban Indonesia mencapai sekitar setengah dari total populasi.

Pada umumnya, populasi rural di Indonesia berhubungan dengan sektor pertanian. Jumlah pekerja pertanian semakin menurun dengan peningkatan jumlah pekerja wanita. Pada tahun 1960-an, jumlah pekerja di sektor pertanian mencapai 70% dan saat ini hanya 35%. Selain itu, persebaran penduduk yang tidak rata antara Jawa-Bali dan daerah lainnya menjadi masalah dan tantangan yang harus dihadapi Indonesia.

Produksi Pertanian

Sayur Impor di Indonesia
Sumber: kaskus.co.id

Indonesia termasuk ke dalam salah satu negara nomor 1 dalam hal produksi komoditas pertanian, terlebih lagi komoditas tropis. Indonesia merupakan negara penghasil sawit, kelapa, dan karet terbesar di dunia serta menduduki peringkat 3 penghasil padi, kakao, biji kopi, dan rempah-rempah.

Di sisi lain, Indonesia juga merupakan negara pengimpor kedelai, jagung, dairy products, dan beberapa processed food. Ekonomi dan populasi yang berkembang secara stimulan juga berakibat pada konsekuensi lingkungan dan penggunaan sumber daya alam, apalagi penggunaan lahan untuk pertanian, perumahan, dan industri.

Distribusi dan konsumsi antar wilayah produk pertanian yang beragam kadang tidak cukup dalam skala lokal. Produktivitas pertanian Indonesia sebagian masih tergantung pada impor untuk memenuhi permintaan domestik, seperti jagung dan kedelai.


Mengacu pada kondisi pertanian Indonesia saat ini yang diupayakan agar terus berkembang, namun di sisi lain tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan sumber daya alam, kita harus memahami dan memiliki strategi untuk mengembangkan pertanian yang lebih baik dan berkelanjutan.

Pertanian berkelanjutan di Indonesia dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Strategi pendekatannya dapat berupa produksi dan praktek manajemen (input yang teliti, teknologi yang sesuai, sistem pertanian campuran, siklus limbah, dll), sosio-ekonomi (skala produksi, modal, efisiensi, produktivitas, dll), kebijakan (investasi, kompetisi, eco-labeling, dll), sosio-kultur (kearifan dan budaya lokal), serta jaringan dan kerja sama nasional-internasional.

Jadi, pertanian harus memiliki 3 komponen, yaitu ekonomi (teknologi), sosial (manusia), dan agro-ekologi (lingkungan).

Sumber gambar: fao.org

Baca juga: Ini Dia Masalah Menahun Pertanian di Indonesia

Penulis: Nevy Widya Pangestika
Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.